Saat siang hari, dimana aku sedang beres-beres rumah. Aku menemukan sebuah tempat berbentuk kotak hadiah, kemudian aku membukanya. Aku terkejut ternyata semua foto-foto lama ini masih ada.
Foto ini mengingatkanku pada kenangan dulu. Dimana saat aku masih kuliah dan bermain bersama 3 orang sahabat baikku. Tia, Winda, dan Zayn. Kami berempat sudah bersahabat dari SMP. Sayangnya, melihat foto lama ini ada perasaan bahagia sekaligus dicampuri sedih dan menyesal. Kumpulan foto lama ini membawaku pada kenangan lama yang bergejolak rasa pada 7 tahun yang lalu.
Jika mengingat lagi tentangnya ada perasaan sedih yang mendalam. Temanku, Tia dia meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dimana kecelakaan saat itu mungkin disebabkan olehku dan Zayn yaitu suamiku sekarang. Bagaimana tidak?. Tia menyukai Zayn saat itu. Aku tidak tahu dan ketika kami mengadakan sebuah acara perayaan ulang tahun Winda, teman baikku yang satunya lagi. Tia meminta Zayn untuk menjemputnya. Namun Zayn menolak dengan alasan dia harus menjemputku. Tia sampai memohon dan terisak-isak menangis dalam panggilan telepon yang ditujukan pada Zayn, memaksanya untuk menjemputnya.
Namun Zayn tetap bersikeras menolaknya. Karena Zayn tahu perasaan Tia kepadanya yang lebih dari sekedar teman biasa. Sedangkan dua hari lagi adalah saat dimana aku dan Zayn bertunangan. Jadi, Zayn menolaknya untuk menghindari kesalahpahaman. Aku membujuk Zayn untuk menjemputnya. Tapi Zayn tetap tidak mendengarkanku. Hingga akhirnya, Tia berhenti memohon-mohon kepada Zayn dan dia berangkat sendiri ke pesta Winda. Di depan rumah Winda, aku dan Zayn menunggunya di depan gerbang.
Kemudian Tia muncul dari arah yang berlawanan. Dia berangkat menggunakan angkutan umum. Saat ingin menyeberang ada salah satu mobil yang ugal-ugalan hilang kendali dan menabraknya dengan secepat kilat. Aku dan Zayn yang menyaksikan kejadian itu tepat di depan mata sangat kaget. Dan dengan segera menghampirinya, saat itu Tia masih bernapas dengan keadaan yang sangat lemah tidak berdaya. Aku memangku kepalanya di atas badanku sembari menunggu datangnya ambulans. Dia tidak terluka berat, namun terjadi pendarahan hebat di salah satu bagian tubuhnya. Tia mengatakan "Jihan, jagalah Zayn untukku. Aku mohon, kamu harus menjaganya seperti belahan jiwa dan ragamu. Aku sangat mencintainya melebihi cinta kepada diriku. Uhukk.. uhukk.." mulut Tia memuntahkan darah. "Tia kamu.. kenapa kamu baru bilang sekarang jika kamu mencintai Zayn juga? Hiks.. Hiks.. kamu harus kuat Tia. Jika kamu mampu bertahan, aku janji aku bakalan melepas Zayn untukmu" Janjiku kepada Tia. "Jihan??" ucap Zayn. "Enggak!! Uhukk.. uhuk.. kamu.. kamu harus menjaganya!! Jangan biarkan dia sakit hati karena kehilanganmu Han!! Kamu satu-satunya.. orang dihatinya" Tia mulai tidak sadarkan diri. Keadaannya kian melemah. "Tia!! Tia!! Kamu harus kuat, tunggu sebentar lagi!! Jangan bicara ngelantur, okay? Kamu harus jaga energimu!!" Aku cemas dengan keadaannya yang semakin melemah. Winda yang semula berada di dalam rumah. Mendengar kabar dari seseorang tentang kecelakaan yang dialami Tia langsung keluar karena cemas dengan keadaannya.
"Tia!! Tia!! Kamu harus bertahan ya!! Aku udah panggil ambulans. Daritadi mana sih gak datang juga" keluh Winda. "Win, aku mohon. Kamu bantu aku ya. Uhukk.. uhuk.. mungkin selama ini aku terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaan lebih dulu ke Zayn. Kalau dulu aku.. uhukk. Uhukk.. mengungkapkan mungkin Jihan gak bakal jadian dengan Zayn. Tapi, uhukk.. uhukk.. sekarang aku sadar. Kamu memang ditakdirkan untuk Zayn. Winda!! Aku minta tolong jadi saksi mereka untuk menikah ya. Aku ingin mereka selalu bersama. Tolong ingat permintaanku, Win. Uhukk.. uhukk.." pinta Tia dengan kondisi yang makin memburuk. "Tia maaf, memang perasaanku kepada Jihan gak bisa dipaksakan. Aku sangat menyesal tidak menjemputmu. Hiks.. hiks.. kalau tadi aku tidak mementingkan egoku mungkin kamu masih hidup sekarang dan bisa berkumpul dengan kami" Zayn menyesali perbuatannya. "Gak Zayn, kamu gak salah. Kamu risih kan aku selalu menempel dan meminta tolong padamu. Maafkan ketidak tahu maluan diriku. Aku yang menyesal, karena selalu mengganggumu. Maafkan aku Zayn" pengakuan Tia. "Tidak, Tia!!" Teriak aku, Winda dan Zayn bersamaan. Tia menutup matanya dan menghembuskan napas terakhirnya.
"Tia, hiks.. hiks.." tangisku. "Tia.." ucap Winda terbata-bata setelah memeriksa kondisi Tia. "Kenapa? Tia kenapa?" Tanyaku. "Denyut nadi dan napasnya udah gak ada" Zayn memeriksa keadaan Tia. "Hiks.. hiks.. "tangis Winda.
Mengingat kejadian itu, aku sedikit menyesal karena terlambat menyadarinya.
Dari dulu, yang aku kira Tia menyukai orang lain dan itu bukan Zayn. Namun nyatanya, dia menyukai Zayn. Tiba-tiba Zayn pulang dari kantor dan langsung masuk ke ruangan tempat aku beres-beres. Zayn menyaksikan aku menangis terisak-isak sambil memegang sebuah kotak foto lama. Dia menyadari bahwa aku teringat pada kenangan lama yang begitu menyakitkan. Kemudian dia menghampiriku dan memelukku. "Jihan, semuanya udah berlalu. Kamu gak perlu menangisinya lagi ya. Tia udah tenang di alam sana" hibur Zayn sambil mengusap air mata yang mengalir di pipiku. "Iya, Zayn. Aku tahu. Semoga Tia tenang disana" balasku.