[Tantangan-Day1] Kata-kata yang tak terkatakan
Sejagat raya seuntai kata tidak bisa terlukis oleh kata-kata. Dalam ruang mencari sajak kata yang berusaha menepi. Jam raksasa di malam ini berdetak sangat kencang, ruangan gelap bersama bunyi dentuman dari atas langit. Pemadaman listrik di malam jum’at, suasana begitu merisaukan bersama kesendirian melewati malam. Hujan dan kabut bagai ungkapan kata yang tidak bisa di katakan saat dunia ini begitu kejam dalam menerima kenyataan.
Di balik selimut tebal, putri Kahiyang menyorotkan senter ke sebuah buku diary. Semua tulisan yang dia tuang dan segala hari yang di jalani.
“Masih ada saja yang kurang dan tidak bisa di ungkapkan dalam tulisan ini” gumamnya.
Dia mengingat lagi kejadian yang sudah meluluh lantakkan hatinya, lalu pada malam ini berusaha untuk di rangkai dalam buku diary di balik kegelapan malam yang semakin larut. Pena terhenti menulis beberapa suku kata yang terlintas di pikirannya. Semua tulisan yang hampir memenuhi lembaran buku seakan hanya bagai serpihan kertas yang tidak mempunyai makna sebenarnya. Kenangan rasa pilu yang masih tidak bisa tersampaikan.
Ada satu lembar yang terlihat begitu berharga baginya. Selembar kertas setengah hangus terbakar. Bagian dari cerita masa lalu menjadikannya sosok hati sedingin salju dan air di lautan.
Mengisi bagian kertas setengah hangus dengan tinta merah;
“Jadi aku tetap tidak bisa menulis segala rasa yang ingin aku nyatakan, hanya saja bekas luka sulit sembuh membayang dalam ingatan. Sekalipun engkau mencari ku sampai ke ujung dunia, cerita pada lembar terbakar ini adalah tanda aku yang pernah rapuh”
Bantingan gelas kaca, sendu sedan di pelupuk mata, kesendirian, semua pernah di rasakan walau tidak tersampaikan di dalam bukunya.
Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Kahiyang. Sosok pelipur lara itu seperti bidadari tanpa sayap menarik, menopang membawa kehangatan di tengah hari yang penuh badai.
“Ibu..” ucap Kahiyang memeluknya.
*Kutipan nasehat*
~Segala kata yang tidak bisa tersampaikan mungkin saja karena luapan hati bagai gunung api yang sudah meletus hanya menumpahkan lahar amarah panas dan bebatuan melemparkan ke arah sang pembawa musibah.
~Bisa jadi itu semua cukup tersimpan di dalam hati tanpa di susun menjadi bait ilusi yang tiada bertepi
~Dengan penuh rasa harap, jikalau segala kata tidak terkatakan seperti menelan kepahitan tanpa harus semua orang tau kenyataan yang sedang di hadapi
~Semoga menjadi pribadi yang kuat dalam mengemban kata yang tidak tersampaikan.
_Terimakasih_