Kaki indah tak beralas melangkahi tanah bebatuan yang becek dan sempit di hutan. Langit sore masih memancarkan cahaya senjanya memberikan penerangan bagi seorang gadis untuk terus berjalan. Tak sekalipun ia melirik ke belakang, pandangannya terus terfokuskan pada halauan didepannya. Beberapa kali ia sempat terjatuh namun dengan tekad kuat ia bangun lagi dan meneruskan langkahnya.
Detik terus berjalan seiring dengan langkah sang gadis, meski nafasnya sudah tersengal dan detak jantung yang terus berpacu kuat seakan tak mau kalah dengan kecepatan larinya. Entah mengapa ia berlarian seperti itu, yang kutahu dia sedang melarikan diri. Entah itu lari dari kejaran hewan buas atau sesuatu yang akan membuatnya tewas.
Jauh di sisi lain, sebuah kastil kuno yang bernuansa gelap sungguh bukan dinamakan cantik lagi melainkan sangat seram. Dimana-mana gelap tidak ada pencahayaan sedikitpun, hanya ada satu sampai tiga buah lilin yang menyala itupun hanya di salah satu ruangan saja. Seorang pemuda tengah frustasi, dia merasa kesal karena akan dikurung lagi.
"Maafkan saya tuan pangeran, ini semua demi kebaikanmu." Ucap sang pengawal yang ingin membawanya pergi.
"Akkhh!! Sudah berapa malam aku habiskan hidupku di dalam kurungan?! Kenapa kau selalu menyeretku ke dalam sangkar itu lagi hah?! Aku adalah tuanmu kenapa kau berani mengurungku!!!"
Pemuda itu marah, ia merusak semua barang yang ada didalam kamarnya karena tak ingin dibawa oleh pengawal ke dalam kurungan lagi. Sudah cukup dengan malamnya yang gelap ditambah harus berada di tempat sempit semacam sangkar burung. Dirinya bukanlah hewan, ia adalah manusia bahkan seorang pangeran. Tapi kenapa bisa ia harus dikurung seperti itu setiap malam?
"Saya tidak punya cara lain untuk mencegah anda melukai penghuni kastil ini Yang Mulia. Saya hanya ingin mempertahankan kedamaian kastil ini dari amukan anda. Karena itu saya dengan lancang membawa anda ke penjara."
"Itu bukanlah penjara tapi sangkar burung!!! Kau kira aku ini bodoh tidak bisa membedakan mana penjara dan mana sangkar?! Cobalah kau berada didalam posisiku sekarang, kau akan merasakan bagaimana kesulitanku saat ini!!!"
"Hari hampir gelap tidak ada waktu lagi untuk sekarang Yang Mulia, anda harus segera dikurung!"
"Kau berani mengurungku?! Aku tidak mau dikurung lagi dalam sangkar itu!!!"
Sang pangeran mencoba melarikan diri tapi pengawal takkan mau membiarkan tuannya itu lari dari genggaman. Tak hanya sendirian, si pengawal tentu saja memanggil rekannya untuk ikut membantu. Apalah daya sang pangeran tak bisa melangkah lari akibat terkepung oleh pengawalnya sendiri yang bertubuh sangat besar dari badannya. Ia memberontak keras saat dirinya sudah didekap oleh dua orang pengawal, tak bisa dipungkiri lagi bahwa ia akan sulit terlepas kalau sudah begini.
Hingga matahari mulai terbenam dan tak berapa lama sang pangeran perlahan berubah menjadi seekor binatang melata bersayap dengan taring panjang dimulut kecilnya. Mata merah menyala yang sangat menyeramkan mulai menakuti para pengawal yang ada di sana. Makhluk itu masih terus memberontak sampai akhirnya salah satu pengawal membungkusnya dengan sebuah karung yang telah ia siapkan.
Dengan perasaan bersalah para pengawal membawa sang pangeran ke ruang bawah tanah dan mengurungnya di dalam sangkar sama seperti burung tapi sang pangeran bukanlah berubah menjadi burung melainkan seekor kelelawar.
"CAAKK!!! CAAKK!! CAAKK!! LEPASKAN AKU!!!"
Meski sudah berubah wujud pun sang pangeran masih bisa berbicara hanya saja suara kecil yang nyaring itu jauh berbeda dari suara aslinya. Sementara para pengawal yang akan menjaganya di ruangan itu hanya bisa tertunduk bersalah, sebenarnya mereka juga tak mau melihat tuan mereka terkurung tapi apa boleh buat ini semua demi keselamatan kastil beserta kebaikan bagi sang pangeran sendiri.
Di waktu yang sama seorang gadis baru saja keluar dari hutan yang berlandaskan jalanan berbatu dan juga batang pohon tinggi yang berjuntai-juntai. Tak menyangka bahwa saat ini dia sedang melihat sebuah kastil di tengah-tengah hutan, karena tak mau berpikir panjang lagi dia pun berlari hendak memasuki kastil tersebut. Tak ada penjaga ataupun prajurit disekitar situ, maka dengan lancang dia membuka pintu besar itu kemudian memasukinya tanpa hambatan. Seperti yang terlihat, lorong itu sama sekali tidak ada cahaya. Begitu gelap hingga si gadis harus meraba-raba dinding untuk menuntunnya melangkah.
"Kenapa disini gelap sekali? Apa tidak ada orang?" Gumam gadis itu sembari memperhatikan jalan gelap yang dilalui.
"H-hallo, apakah ada orang disini?"
Dengan berani ia berteriak dalam penglihatan sempitnya itu. Suaranya menggema di lorong namun tak ada satupun yang menyahut. Sangat aneh dirasakannya aura dalam kastil, ia bahkan tidak tau tempat macam apa itu dan kenapa bisa-bisanya ada sebuah kastil di tengah hutan seperti ini.
Tak lama kemudian ia melihat sebutir cahaya jauh didepannya, makin lama cahaya itu membesar perlahan mendekatinya. Sesudah terlihat dekat, nampaklah seorang wanita sekitar umur 40 tahunan dengan pakaian pelayan kerajaan zaman pertengahan.
Pelayan wanita itu mengarahkan lilin yang ia pegang ke wajah gadis itu agar terlihat bagaimana rupanya. "Siapa kau? Kenapa kau masuk tanpa izin?" Sergap sang pelayan wanita dengan curiga.
"A-aku tak sengaja masuk kesini, t-tapi sebelum aku melanjutkan cerita, bolehkah aku meminta minum? Aku sangat lelah dan haus." Ucap si gadis lirih, memasang muka memelasnya agar pelayan wanita itu merasa iba.
Beberapa detik pelayan wanita itu menatap si gadis dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kalau begitu ikuti aku." Tanpa berbasa-basi lagi sang pelayan berbalik badan dan pergi kemudian gadis itu menyusulnya.
...
Dalam sekali teguk gadis itu dapat menghabiskan segelas air putih ditangannya. Pelayan wanita hanya memperhatikan gadis itu sejak dia duduk sampai habis minum.
"Ahh terimakasih." Ucap gadis itu sebelum ia menaruh gelasnya di meja.
"Siapa namamu?"
Gadis itu sedikit tergelak lalu tanpa ragu ia menyebutkan namanya. "Rescha Ansara."
"Apa yang membuatmu sampai ke kastil ini?" Pelayan wanita itu melipat tangannya di dada dengan tatapan mengintimidasi.
"Jika aku ceritakan secara detail maka akan sangat panjang, singkat ceritanya aku tersesat di dalam hutan belantara ini kemudian menemukan sebuah kastil aneh dan memasukinya. Sudah." Jelas Rescha singkat sembari menyenderkan badannya di sofa tunggal yang nyaman dan empuk.
"Apakah hanya itu saja alasanmu? Kau terlihat mencurigakan, aku tau kau pasti mata-mata. Mengakulah bahwa itu memang benar, tak perlu kau membuat alasan. Aku takkan semudah itu untuk dikelabui."
Sang pelayan yang mengalihkan pandangannya sebentar masih terus melanjutkan pembicaraan, namun tanpa disangka saat pelayan wanita itu kembali menatap Rescha ternyata gadis itu sudah tertidur pulas di sofa yang didudukinya. Membuat sang pelayan merasa kesal karena diabaikan oleh lawan bicaranya.
"Dasar tak sopan! Aku sedang berbicara tapi dia malah tidur!"
Pelayan wanita berusaha membangunkan Rescha namun percuma, gadis itu sudah terlelap dalam tidurnya sampai-sampai ia sulit untuk dibangunkan. Semakin lama pelayan wanita malah merasa kasihan dan semakin tak tega melihat gadis itu jadi dengan pasrah ia membiarkan Rescha tertidur, ia hanya menambahkan selimut ke tubuh Rescha agar gadis itu tak kedinginan. Lalu meninggalkannya sendirian di ruangan itu.
Malam berlalu sang fajar telah muncul, salah satu pengawal datang menghampiri kurungan sang pangeran kemudian membuka kunci pintunya bersamaan dengan matahari terbit. Kelelawar itu terbang keluar lalu perlahan tubuhnya berubah menjadi manusia. Sang pangeran telah kembali ke tubuh aslinya.
"Apakah aku ini benar-benar pangeran terkutuk? Bahkan masa-masa remajaku aku habiskan setiap malam dalam kurungan. Tidak adakah cara lain untuk memusnahkan sihir ini? Aku tak ingin seperti ini lagi." Ucap pangeran dengan muka lesu.
"Pangeran Sunghoon, saya tidak tau harus melakukan apa lagi untukmu. Penyihir itu memang telah mengutuk anda menjadi seperti ini. Itu karena keserakahanmu sendiri juga Yang Mulia."
Sang pengawal mulai menunduk ketika sebuah tatapan tajam dari sang pangeran tertuju padanya.
"Sampai kapanpun keputusanku masih sama, dan aku akan mencari cara lain untuk menghilangkan kutukan ini. Sendiri!!!"
Sunghoon melangkah pergi dari ruang bawah tanah itu, ia menuju ke kamarnya berniat untuk mengunci diri lagi.
"Hey bangunlah, sebentar lagi tuan pangeran akan kesini dan kau harus sudah pergi dari kamar ini!" Resah pelayan wanita yang terus membangunkan gadis tadi malam. Tapi tak semudah yang dibayangkan untuk membangunkan putri kesiangan itu.
Hingga akhirnya suara pintu ruangan terbuka, Sunghoon masuk kemudian menatap tajam ke arah pelayan wanita itu yang sudah berani memasuki kamarnya.
"Kenapa kau berada disini?" Suara serak basah nan berat dari pemuda itu menambah ketakutan si pelayan wanita yang diam memaku.
"Kenapa?" Sunghoon kembali bertanya setelah melihat kegugupan si pelayan wanita yang tak biasa.
Langsung saja pelayan wanita itu menunjuk seseorang yang sedang tidur nyenyak di sofa kesayangan sang pangeran. Sunghoon berjalan mendekat ke arah yang ditunjuk kemudian kembali menatap pelayan wanita itu dengan tajam.
"Siapa dia? Kenapa gadis lusuh ini bisa masuk dan tidur di kursi ku?!"
"Maafkan aku Yang Mulia, tapi tadi malam dia tak sengaja masuk ke kastil dengan keadaan seperti ini. Dia kelelahan minta minum jadi aku bawa saja kesini dan memberikannya segelas air sampai ia tertidur nyenyak hingga tak bisa dibangunkan." Jelas pelayan wanita.
Sunghoon kembali mendekati gadis yang masih lelap tidur itu, wajahnya mulai mendekat sampai tiba-tiba gadis itu merentangkan tangannya hingga tak sengaja menonjok hidung Sunghoon sangat kuat sampai berdarah. Sang pangeran memekik sakit, tentu saja si pelayan wanita khawatir namun Sunghoon menaikkan tangan kirinya mengkode pelayan wanita itu untuk tak usah ikut campur. Dia menatap tajam pada si pemukul, wajah polos gadis itu tetap tak membuat sang pangeran luluh malah Sunghoon makin bertambah kesal.
"Yaakk!! Bangunlah dan pergi dari kastil ku!!" Teriak Sunghoon kencang didepan wajah Rescha.
Hanya terdengar lenguhan malas dari mulut tertutup gadis itu, ditambah wajah polosnya yang tak berdosa membuat Sunghoon tak bisa meredam amarahnya. "Bangun atau kau--"
Kata-katanya tercegat ketika Rescha menatapnya tajam. Ternyata sedari tadi Rescha sudah terganggu dengan suara berisik dari kedua mulut itu namun ia mengabaikannya dan memilih tetap tidur, tapi sekarang ia sudah tak bisa mengabaikan lagi karena sudah sangat terganggu. Sementara tatapan Sunghoon beralih pada dua buah bola mata indah didepannya. Jangan bilang ia terpana dengan rupa sempurna dari wajah gadis itu.
"Hemmm... Siapa kau?"
Tak disangka ternyata sikap gadis itu jauh berbeda dari tatapan tajam yang ditunjukkannya. Sunghoon cepat-cepat beralih sadar, ia juga tak mau kalah menatap gadis itu balik.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau terlihat aneh, apa kau belum mandi?" Tanya Rescha watados.
"Yak! Kau sendiri apa tidak bercermin?! Lihatlah dirimu yang lusuh seperti gembel! Aku ini seorang pangeran, tak mandi pun masih terlihat tampan!" Ucap Sunghoon dengan kesal namun percaya diri.
Rescha melebarkan matanya tak percaya. "Kau seorang pangeran?" Mendengar pertanyaan itu Sunghoon malah memutar bola matanya.
"Aku sedang tak bermain-main sekarang, bangun dari situ dan pergilah dari kastil ku! Aku tak punya urusan dengan seorang gembel sepertimu!" Tegasnya.
"Aku bukan gembel ya! Jangan kira dengan pakaian yang sudah lusuh ini kau malah memanggilku gembel! Lihatlah nanti jika aku sudah mandi, aku akan nampak sangat cantik dan juga bersinar."
"Yasudah, pergilah mandi di sungai. Kau akan jadi santapan lezat bagi buaya-buaya kelaparan yang ada di sana."
Sunghoon tak ingin menghiraukan gadis itu lagi jadi ia memilih untuk pergi ke kamar mandi, urusan Rescha bisa diatasi oleh pelayan wanita yang sejak tadi berada ditengah-tengah perdebatan pagi kedua insan tersebut.
"Apa yang mau ia lakukan?" Tanya Rescha sesaat ketika Sunghoon sudah masuk ke kamar mandi pribadinya.
"Tentu saja untuk mandi, sekarang sebaiknya kau pergi dari sini. Tuan pangeran akan semakin marah bila kau masih berada disini." Ucap si pelayan wanita.
"Tolong izinkan aku untuk tinggal disini sebentar saja. Aku bingung jika harus mencari tempat tinggal lain. Aku tersesat dan hanya tempat ini yang kutemukan, jadi kumohon izinkan aku tinggal disini lagi ya. Please..." Ucap Rescha sambil menyatukan tangannya didepan pelayan wanita itu seraya memohon.
Pelayan wanita berpikir sejenak, bisakah ia perbolehkan gadis ini untuk menetap di kastil? Tapi ia takut jika Pangeran Sunghoon tidak menyetujuinya. Namun melihat wajah imut polos dari Rescha akhirnya si pelayan wanita itu luluh.
"Kau boleh menetap untuk beberapa saat, tapi tempatmu bukan disini. Ini adalah kamar pangeran jadi kita tak boleh mengganggunya." Sang pelayan wanita berucap sambil menarik tangan Rescha pergi.
...
"Ini adalah kamarmu, kau bisa menggunakannya sementara. Ingat, kau hanya sebentar berada disini. Dan kuingatkan lagi bahwa jangan pernah mengganggu Pangeran Sunghoon, jika dia marah kau akan tewas ditangannya." Si pelayan wanita memperingatkan lalu ia pun pergi.
Rescha diam duduk di tepi ranjang kecil, ruangan itu benar-benar sempit berbeda dari kamar sebelumnya karena itu adalah kamar sang pangeran, bila ini semacam kamar pembantu.
"Disini sangat sempit dan tidak ada kamar mandinya, lalu... Bagaimana aku akan mandi?" Rescha menggaruk-garuk kepalanya meski tak merasa gatal.
Sementara itu, seorang pelayan datang didepan pintu kamar Sunghoon dengan membawakan sebaki makanan. Entah sudah berapa kali si pelayan memanggilnya tetap saja ia tak menyahut. Ini sudah biasa bagi kehidupan Sunghoon semenjak dia tau dirinya adalah pangeran terkutuk. Ini semua karena satu kesalahan di masa lalu, yang menyebabkan dirinya termakan kerakusannya sendiri.
Rescha sedang berjalan-jalan mengelilingi kastil tersebut tentu saja setelah dia mandi, meskipun sudah siang tapi keadaan didalam kastil masih tetap gelap, hanya ada sedikit celah cahaya yang masuk. Tepat melewati kamar Sunghoon, Rescha melihat seorang pelayan yang masih setia berada didepan pintu kamar sambil membujuk tuannya agar mengambil makanannya. Karena penasaran akhirnya Rescha mendekati pelayan itu.
"Permisi, kenapa kau terus berdiri disini? Dan untuk siapa makanan itu?" Rescha menunjuk baki makanan yang dibawa si pelayan.
"Ini untuk tuan pangeran." Singkat sang pelayan tak sedikitpun menoleh pada lawan bicaranya. Rescha pun diam saja menatap si pelayan sampai pelayan itu membalas tatapannya tapi dengan ekspresi wajah yang tak biasa. "Tunggu sebentar, aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Siapa kau?"
"Oh aku Rescha Ansara, sejak malam aku sudah berada disini." Jawab Rescha dengan senyum lebarnya.
"Apa kau orang asing? Bagaimana bisa seseorang berhasil masuk ke kastil ini?"
"Sebenarnya aku tersesat di dalam hutan dan tak sengaja menemukan kastil ini, jadi ya aku masuk saja. Lagipula seseorang sudah memperbolehkan ku untuk tinggal sebentar disini."
"Tapi kau bukan orang jahat kan?" Curiga si pelayan.
"Bukan.. aku bukanlah orang jahat, tenang saja."
Ditengah-tengah perbincangan itu seketika pintu yang ada disebelah mereka terbuka dan menampakkan wujud seorang pemuda tampan namun dengan tatapan yang tajam.
"Kenapa kalian mengobrol didepan kamarku?! Suara kalian sangat berisik! Pergilah dan jangan ganggu aku!" Kesal Sunghoon pada kedua orang didepannya lalu ia beralih menatap Rescha.
"Dan kau. Kenapa kau masih berada disini? Aku sudah bilang untuk pergi dari kastil ku, siapa yang memperbolehkan mu untuk tinggal disini? Lalu siapa juga yang menyuruhmu memakai pakaian pelayan?! Apa kau sedang memancing kekesalanku?!!"
"Oh oh oh.. maafkan aku.. eee... Pangeran. Tapi.. aku tidak punya tempat tinggal lain disini. Aku tau ini kastil milikmu tapi bisakah kau kasihan padaku? Hanya sebentar saja kumohon, hanya sebentar saja. Setelah itu aku akan pergi dan tak kembali lagi."
Sunghoon sedikit mengernyit kemudian sebuah ide mulai melewati otaknya. Ia membuka lebar-lebar pintu kamar yang sejak tadi masih dipegang. "Baiklah, kau boleh tinggal disini. Tapi ada syaratnya."
"Syarat apa?"
"Kau harus menjadi pelayan pribadiku."
"Okeh, tapi kau juga harus berjanji tidak boleh berbuat hal yang macam-macam denganku."
"Tergantung." Ucap Sunghoon menggendikkan bahunya sambil menaikkan dua alis.
"Apa maksudmu tergantung? Aku sudah menerima syaratmu kau juga harus menerima janji yang kubuat."
"Aku tidak peduli, oh iya makanan itu taruh didalam kamarku dan kau ikut aku masuk." Titah Sunghoon berjalan ke dalam kamarnya tanpa mempedulikan raut wajah Rescha yang sedang bingung.
"Kenapa kau berdiri disitu saja? Cepat kemari!" Suruhnya dengan santai duduk di sofa tunggalnya.
Rescha menurut lalu mendekati Sunghoon. "Suapi aku." Ucapnya santai.
"Apa? Disuapi? Apa aku ini babysitter mu? Ada berapa banyak pelayan yang kau punya disini? Kenapa kau malah menyuruhku untuk menyuapimu?"
"Sya...rat.. ingat. Syarat. Mu." Rescha mendecih pelan lalu ia menuruti perintah Sunghoon.
Hari-hari berlalu, kedekatan Sunghoon dan Rescha secara tidak sengaja terjalin begitu baik. Meski pertengkaran kecil serta kejahilan-kejahilan yang dibuat untuk satu sama lain, mengisi waktu berdua mereka yang semakin lama semakin terikat. Hari ini saja Rescha mengajak Sunghoon ke tepi sungai yang ada jauh diluar kastilnya. Walaupun Sunghoon tak suka keluar kastil namun jika itu Rescha, ia akan melakukannya demi gadis itu. Ah, ada satu hal yang belum Rescha ketahui. Yaitu tentang kutukan Sunghoon ketika malam tiba. Kenapa Rescha tak tahu? Sebelum senja datang, Sunghoon sendiri yang pergi ke ruang bawah tanah agar nanti jika sudah malam ia dapat langsung dimasukkan ke kurungannya tanpa membuat rasa curiga pada Rescha. Ia membuat alasan bahwa setiap menjelang malam ia tak mau diganggu oleh siapapun. Rescha pun percaya dan menuruti perintahnya yang ini, meski dalam hati Rescha sungguh penasaran.
Kembali ke sungai. Rescha menatap air sungai yang begitu keruh, tidak ada ikan satupun hanya ada katak, capung dan tentu saja nyamuk.
"Hoon, apa tidak ada sungai lain yang bersih? Disini kotor sekali."
"Hanya itu sungai yang kumiliki di hutan ini. Dulu sungainya jernih tapi sekarang sudah keruh dan kotor."
Rescha terlihat menghela napasnya. "Padahal aku ingin mencuci mukaku disini jika bisa."
"Silahkan saja kau cuci mukamu."
"Mana bisa! Ini kotor! Lagipula sangat menjijikkan. Sudahlah, kita cari tempat lain saja."
Tanpa permisi Rescha menarik pergelangan tangan Sunghoon tapi respon yang pemuda itu tunjukkan malah terlihat biasa, sebelumnya Sunghoon sangat tidak suka ada yang menariknya paksa karena itu mengingatkannya pada saat diseret oleh pengawal untuk masuk ke dalam kurungan.
"Disini saja." Selang beberapa menit berjalan Rescha berhenti ketika ia menemukan sebuah danau ditengah-tengah pepohonan liar. Berbeda dari sebelumnya, yang ini sedikit bersih sudah terlihat dari permukaan danau tersebut.
"Apa yang mau kau lakukan?" Tanya Sunghoon yang melihat Rescha menunduk di tepi danau.
Rescha melihat pantulan bayangan wajahnya yang ada dipermukaan. Sepintas ide jahil muncul dikepalanya. Ia mengambil air itu menggunakan kedua tangannya lalu beralih menatap Sunghoon. "Tentu saja untuk, bermain-main." Rescha menyipratkan air itu ke wajah Sunghoon yang sedari tadi terus berdiri mengamatinya.
"Hey!!!"
Hanya terdengar gelak tawa dari si pelaku, korban juga tak ingin tinggal diam, jadi korban membalas keusilan pelaku. Terjadi perang air diantara kedua belah pihak, yang satu marah-marah tapi satunya lagi tertawa puas. Mereka asyik berdua hingga tak sadar bila hari hampir senja. Sunghoon lupa jika ia harus pergi ke ruang bawah tanah dari sekarang, ia terlalu senang bermain dengan Rescha sampai lupa waktu.
Tak terasa malam pun tiba, Sunghoon mulai merasakan keanehan dalam tubuhnya dan menyadari bahwa sebentar lagi ia akan berubah wujud.
"Kau kenapa Hoon?" Rescha mulai khawatir melihat Sunghoon seperti orang yang tengah menahan kesakitan.
"A-aku tidak apa-apa."
"Kau yakin?" Rescha ingin menyentuh lengan Sunghoon tapi pria itu lebih dulu menepisnya.
"Aku harus pergi!" Sunghoon berlari kencang meninggalkan Rescha yang sedang meneriakinya.
Sunghoon menambahkan kecepatan larinya agar sejauh mungkin menjauhi Rescha, ditengah perjalanan itu tiba-tiba Sunghoon sudah berubah menjadi kelelawar dan terbang dengan ganas mencari mangsanya. Inilah hal yang paling ditakutkan oleh penghuni kastil bila sampai Sunghoon dibiarkan berkeliaran dengan wujud monsternya. Ia akan menjadi sangat ganas untuk mengincar darah dari orang-orang yang ia lihat sebagai mangsa.
"Sunghoon kenapa tadi berlari meninggalkan ku? Apa disini ada hewan buas? Kenapa dia tega sekali membiarkan ku sendirian disini? Dasar jahat!!!"
Rescha terduduk di tanah sembari memeluk lututnya dengan takut. Jika sendirian di hutan yang gelap seperti ini tentu saja ia sangat ketakutan. Ketika sebuah suara nyaring menggema disekelilingnya, Rescha bertambah takut lagi. Ia berdiri dan mengedarkan pandangannya dengan waspada. Jauh dia melihat ke atas dimana ada dua buah mata merah yang sangat mengerikan disela-sela kedua batang pohon. Semakin lama mata merah itu semakin mendekat seakan seekor binatang buas akan menerkamnya.
CAAKK!!! CAAKK!!! CAAKK!!!
Seekor kelelawar menyeramkan tiba-tiba muncul dan mulai menyerang Rescha, gadis itu yang sangat ketakutan tak bisa berbuat apa-apa selain menghindar. Saat mulut kelelawar itu melebar ke arahnya, Rescha dengan segera membungkuk bersujud di tanah sambil memegangi kepalanya dengan tubuh menggigil ketakutan.
Namun di arah lain, seekor kelelawar lagi menghampiri tempat Rescha dan menyerang kelelawar yang tadi ingin menyerang Rescha. Pertarungan terjadi antar kelelawar. Rescha yang ketakutan apalagi terganggu dengan suara berisik dari perkelahian kedua kelelawar itu memilih berlari meninggalkan hutan. Tentu saja tujuannya sekarang adalah kastil Sunghoon. Walaupun ia tak bersama dengan pemuda itu tapi mau bagaimana lagi, Sunghoon sudah lari meninggalkannya di hutan jadi Rescha juga membalasnya dengan cara sama.
Satu kelelawar berhasil jatuh dengan tubuh yang robek sana-sini. Satu kelelawar lain juga ikut jatuh dengan banyak cakaran dibadannya. Salah satu kelelawar mati, dan satunya lagi pingsan, lemas tak berdaya.
...
Rescha berhasil sampai di kastil, lalu ia mencari pelayan wanita dan menceritakan semua yang terjadi padanya. "Apa? Pangeran hilang?!"
"Entah kenapa dia langsung pergi begitu saja, dia meninggalkanku sendirian." Isak tangis Rescha didepan semua penghuni kastil.
"Kalau begitu kita harus mencari Yang Mulia. Takut terjadi sesuatu yang akan membahayakannya." Sahut salah seorang pengawal.
Semua orang bersepakat pergi ke dalam hutan untuk mencari sang pangeran. Ada seorang pengawal juga yang sedia dengan karung ditangannya. Bisa dipastikan lah itu untuk apa.
...
Masih di dalam hutan tempat dua ekor kelelawar tergeletak. Di tengah akhir nafasnya salah satu kelelawar yang hanya tersisa satu sayap saja, mengeluarkan suaranya pada kelelawar yang masih bertubuh utuh dengan keadaan pingsan.
"Dia adalah yang kau cari Sunghoon. Dapatkan setitik darahnya lalu kutukanmu akan sirna."
Kelelawar itu tak menanggapi, tak berapa lama kelelawar bertubuh tak utuh itu mati. Dengan cepat bangkainya membusuk dan langsung dikerubungi semut dan ulat hingga serangga lainnya. Sedangkan yang satunya lagi tentu tidak, karena ia masih hidup hanya saja tidak sadarkan diri.
"Res..cha.."
Malam kembali berlalu, sinar matahari datang menyambut. Para penghuni kastil termasuk Rescha masih bergegas mencari pangeran mereka yang dari semalam belum juga ditemukan. Keresahan dan kekhawatiran mulai menjadi ketika makin hari matahari makin naik tapi ini masihlah pagi.
"Pangeran!!! Pangeran Sunghoon!!!"
"Sunghoon!!!" Hanya Rescha yang memanggil pemuda itu dengan namanya saja, tak seperti yang lain. Ia sudah menganggap Sunghoon sebagai teman jadi ia memanggil pun tanpa embel-embel gelar bangsawan si pemuda itu.
Tak lama terlihat seorang pemuda bertelanjang dada dengan banyak luka di sekujur tubuhnya berjalan tertatih didepan mereka. Rescha yang melihat itu segera menyadari bahwa pemuda itu adalah Sunghoon. Ia bergegas menghampirinya dan memeluknya sangat erat.
"Kau darimana saja?!! Kenapa keadaanmu seperti ini?! Kau berlari meninggalkanku sendiri! Sekarang kau datang dengan luka ini? Sopan kah begini?" Rescha memarahi Sunghoon dengan kesal sekaligus menangis. Pemuda dihadapannya itu hanya tersenyum kecil melihatnya khawatir.
"Yang Mulia, apa anda tidak apa-apa?"
"Bawa aku pulang."
Perintah sang pangeran segera dilaksanakan oleh pengawalnya, mereka memapah Sunghoon dan kembali ke kastil.
Seminggu telah berlalu, Sunghoon sudah pulih dari lukanya. Sekarang seperti biasa ia sedang bersama dengan Rescha, semacam dua bocah yang tengah bermain bersama. Mereka ada di halaman belakang kastil, di gazebo kecil yang sudah ditumbuhi tanaman akar merambat, tempat mereka biasa mengobrol berdua.
"Rescha."
"Hem?"
"Bolehkah aku meminta setitik darahmu?"
"Apa?"
"Untuk menghilangkan kutukan ku."
Rescha terdiam sejenak, ia sudah tau bahkan tau semuanya. Hanya tentang kutukan Sunghoon tapi dia belum tau bahwa cara menghilangkan kutukan itu adalah dengan darahnya.
"Aku tidak akan sampai menewaskanmu. Hanya setitik saja." Ujar Sunghoon menatap dalam kedua bola mata coklat itu.
"Apa kau yakin?"
"Jika kau mati, aku akan ikut mati."
"Yak!! Jangan bersumpah seperti itu!! Kalau benar terjadi bagaimana?!"
"Percaya padaku. Aku takkan membiarkanmu mati." Sunghoon menarik kedua telapak tangan Rescha membawanya untuk digenggam.
"Aku berjanji."
Saling bertatapan cukup lama, mungkin berusaha mengerti perasaan satu sama lain. Sebuah hal yang tak mudah, tapi tak disangka cinta tumbuh begitu cepat hingga satu pihak memilih memberikan darahnya.
"Ambillah secukup yang kau inginkan."
Rescha memberikan tangan kanannya didepan mata Sunghoon. Rela berkorban demi kesembuhan pemuda itu dari kutukannya.
"Aku tidak ingin lebih." Sunghoon menggenggam pergelangan tangan kanan Rescha, lalu menarik satu ibu jarinya. "Hanya setitik saja."
Perlahan Sunghoon mengeluarkan taring runcingnya yang tajam, tak ingin terlalu lama akhirnya ia menggigit ibu jari Rescha. Pekik lirih dari mulut Rescha terdengar menyakitkan bagi Sunghoon. Ia menahan nafsunya begitu keras sampai mendapatkan setetes darah Rescha. Setelah selesai Sunghoon langsung membalut ibu jari Rescha dengan kain supaya darahnya tidak keluar lagi, karena bisa dibilang lubang gigitan Sunghoon sangat besar tak mungkin jika ibu jari Rescha tidak bolong.
"Sudah, kau tidak mati kan?"
"Tetap saja tadi itu kejadian yang mengerikan. Apalagi kau tidak bisa merasakan kesakitanku." Rescha mengerucutkan bibirnya.
"Siapa bilang? Jika aku tidak menahan nafsuku maka aku sudah mengambil banyak darahmu."
"Benarkah? Kau seperti vampir."
"Hanya lima detik."
"Itu sama saja!!!" Rescha mengalihkan pandangannya dengan tangan dilipat di dada.
"Rescha." Panggil Sunghoon sekali.
"Hmm..."
"Maukah kau menjadi ratuku?"
"Apa?"
"Kau tuli?"
"Tidak, maksudku--"
"Menjadi ratuku. Selamanya..." Sunghoon mencengkeram lemah dagu Rescha. Dia mendekatkan wajahnya hingga tersisa sejengkal dengan Rescha.
"Jangan bilang kau ingin mencium ku."
"Apa? Tidak." Sunghoon mulai menjauhkan dirinya dari Rescha. "Aku hanya ingin menjadikanmu sebagai ratuku. Lagipula siapa juga yang ingin mengecupmu. Jangan ge'er."
"Haaa apa kau gengsi?"
"Tidak juga. Mungkin itu dirimu yang berharap lebih. Mengaku saja jika kau memang menginginkan itu."
"Hey aku bukan orang seperti itu!!!"
"Benarkah? Aku tidak percaya."
"Hiiiihh kemari kau!! Akan ku robek tubuhmu!!"
"Coba saja jika kau bisa."
Sunghoon berlari menghindar dari kejaran Rescha. Karena sangat kesal akhirnya Rescha mengejar Sunghoon sampai dia dapat.
...
"Malam ini bila aku tak berubah wujud lagi hingga pagi, berarti kutukan ku sudah hilang. Dan kau akan menikah denganku besok."
"Secepat itu?"
"Kau tidak mau?"
"Bukan maksudku--"
Ucapan Rescha tercegat kala Sunghoon mencium bibirnya, pemuda itu juga menahan tengkuk lehernya sehingga Rescha tak bisa lepas dari ciuman tersebut. Bersamaan dengan itu matahari yang berada tepat disebelah mereka telah tenggelam, malam sudah tiba tapi Sunghoon tak berubah menjadi seekor kelelawar lagi. Artinya kutukannya telah musnah, ia terbebas dari kutukan itu. Sunghoon senang sekaligus terharru, ia melumat lebih dalam bibir Rescha dengan penuh emosional.
"Besok kita jadi menikah."
"Apa?"
~Tamat~
Cast :
★ Rescha Ansara (bintang penolong)
★ Sunghoon Casildo (pemuda pejuang)
Hai teman" salam dari author🙏 semoga kalian suka ya sama cerpennya. Kalo suka jangan lupa kasih like ya, kasih saran juga dong atau kesan kalian membaca cerpen ini dengan cara komen. Ini asli dari otak author sendiri loh ya😉