"Aku menyukaimu." kalimat yang sampai kini belum pernah berhasil aku utarakan.
Aku mengenalnya sejak kelas satu, dia pemuda yang ramah dengan senyum menawan di wajahnya. Saat tersenyum, dua manik bulat yang selalu tampak berseri akan berbentuk bulan sabit yang indah.
Dia lebih tua setahun dariku, perbedaan tinggi yang jauh berbeda selalu membuatku merasa kecil acap kali kami jalan bersama sepulang sekolah.
"Ujian tahun ini bagaimana? Apa kau ada kesulitan dalam menjawab pertanyaan?"
Di persimpangan jalan, dengan sedikit mengeratkan syal yang menggulung di pundak, aku mendongak. Menatap sosok Sugawara Senpai yang tersenyum tipis menanti jawabku.
"Ah, aku sedikit kesulitan dalam menjawab beberapa soal matematika. Padahal, saat belajar bersama, Senpai, mengajariku dengan baik." ucapku
Ku curi sedikit pandang dari wajah berpikirnya, saat berpikir pun dia tetap saja terlihat tampan dan menawan.
"Hmm, mungkin ada beberapa yang aku lewatkan. Tapi, aku harap kau belajar lebih giat lagi di kelas akhir."
"Iya."
Hal seperti pulang bersama, jalan dalam hening dan menikmati langkah kami yang selaras. Adalah hal yang begitu aku sukai. Sesuatu sederhana yang sebenarnya membuatku jatuh cinta. Hanya dengan melihat langkah kami yang selaras atau bayangan yang tampak miring karena pantulan matahari, semua itu membuat darahku berdesir hangat.
Ku pandang wajah Sugawara Senpai sesaat sebelum kami berpisah di stasiun. Lagi-lagi ia mengulas senyum manis yang membuatku susah payah menyembunyikan rona merah muda di pipi.
Tangannya yang hangat berbalut kaos tangan menyentuh pucuk kepalaku, mengusapnya lembut sebelum mengucapkan kata perpisahan. Dan sekali lagi entah untuk keberapa kali, kalimat yang mencekik leherku tiap bersamanya kembali tertahan.
Di hari kelulusan setelah libur Musim Dingin. Di awal Musim Semi dengan semerbak harum bunga Sakura. Sugawara Senpai menghampiriku. Dua bucket bunga berada di pelukannya, aku tersenyum menyambut kedatangannya dengan perasaan campur aduk.
Senang mengetahui setelah ini ia menjadi lebih dekat dengan cita-citanya, sedih mengetahui bahwa kami tidak akan lagi pulang berdampingan setelah sekolah usai.
"Selamat, Senpai! Maaf, aku hanya bisa membawa bucket bunga kecil." ucapku, sebenarnya sedikit minder dengan bucket bunga raksasa yang indah di pelukannya.
Sugawara Senpai tersenyum, ia meletakkan dua bucket bunga lainnya di bangku yang sebelumnya aku duduki. Kemudian dengan wajah berseri ia meraih bucket milikku dan menghirup aroma bunganya dengan mata terpejam. Ah, dia tampan seperti biasanya.
"Terima kasih! Bukan dari ukurannya, aku bisa melihat ketulusan disini!" ucapnya sembari menunjukkan secarik kertas ucapan yang aku ikat dengan pita berwarna gold.
Itu bukan berisi ungkapan perasaanku, sampai kapan pun aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya. Terlalu menjadi pengecut dengan takut akan penolakan, padahal aku belum mencoba sama sekali. Bodoh, kan?
Kulihat Sugawara Senpai berjalan mendekat ke arah bangku taman. Kami duduk berdampingan, tak ada obrolan, hanya duduk dalam hening menikmati sakura yang bermekaran. Karena ini taman belakang gedung olahraga, sedikit yang akan ke tempat terpencil ini. Tapi, ini menjadi tempat kesukaan kami.
"Belajarlah yang benar, Nuii-chan." sembari menatap langit, ia membuka suara.
Aku mencuri pandang, menatap seksama figurnya dari samping. Sebenarnya, kapan Sugawara Senpai bisa terlihat jelek? Kenapa dia selalu menawan di mataku? Apa karena ini Musim Semi sehingga aku melihatnya seperti berkilau di bawah Pohon Sakura?
"Iya, aku akan berusaha semampuku."
"Hm, nanti kuliah dimana?"
"Eum, mungkin aku tetap di sini."
"Hm,"
Tak ada lagi obrolan diantara kami, Sugawara Senpai tetap memandang ke atas sana dengan gestur wajah sedikit berpikir. Aku menunduk, mengalihkan pandang dan tanpa sengaja menatap ke arah almamater yang dikenakan Sugawara Senpai. Kancing kedua miliknya sudah tidak ada.
Aku tersenyum kecut, merasa sedikit sakit di pusat jantungku. Bertanya-tanya, siapa gerangan gadis beruntung yang mendapat pin kedua itu? Tapi, siapapun itu aku berharap dia menjaganya dengan baik.
Dan sekali lagi, kalimat yang selalu mencekik tenggorokan setiap kali aku bersamanya, tidak bisa kukatakan. Berakhir kalimat itu tak terkatakan hingga dirinya berangkat ke Tokyo untuk Kuliah.
Di hari kelulusanku setahun kemudian, di tempat yang sama tampak sosok Pemuda yang kini lebih dewasa sejak terakhir kali aku mengingatnya. Punggung tegapnya ku tepuk, ia berbalik dan mengulas senyum yang ternyata tidak berubah, masih sama. Menawan dan menjerat hatiku.
"Selamat atas kelulusan mu, Nuii-chan! Aku tidak menyangka akan melihatmu berpidato sebagai siswi berprestasi di sekolah!"
"Oh? Senpai, melihatnya??"
"Iya, aku tidak mau melewatkan hal menakjubkan itu!"
Postur tubuh dan pundaknya sedikit lebih besar, namun tidak ada yang berubah. Wajahnya yang rupawan juga tampan, senyumnya yang menjerat dan hangatnya telapak tangan yang kini menepuk pucuk kepalaku bangga.
"Kau sudah berusaha keras! Selamat, ya?"
Aku mengangguk, menerima bucket bunga mawar merah yang begitu besar hingga aku memeluknya susah payah. Sugawara Senpai sampai tertawa dan bertanya mengapa aku sama sekali tidak tumbuh dalam waktu kurang lebih satu tahun ini?
Kami larut dalam obrolan ringan melepas rindu, saling menceritakan hal apa saja yang terjadi kemudian saling terdiam. Duduk dengan kedua pundak yang sesekali bersentuhan tanpa sengaja dan menjauh dengan gestur gugup.
Momen apa ini? Jantungku bekerja lebih cepat dari seharusnya, napasku sedikit tercekat dan lagi-lagi kalimat itu mencekik tenggorokanku. Aku mencoba memberi jarak sedikit lebih jauh, namun hal itu kuurungkan saat Sugawara Senpai dengan lembut meraih tanganku.
Meletakkan sesuatu yang kecil di atas telapak tanganku dan terkejut, saat aku tau bahwa itu adalah pin baju almamater miliknya satu tahun yang lalu.
"Ini milikku. Ku cabut paksa sebelum upacara kelulusan satu tahun yang lalu agar tidak ada yang meminta, sekarang aku mau ini menjadi milikmu."
Ku kerjapkan mata beberapa kali pertanda heran, ku tatap wajah Sugawara Senpai yang kini berpaling menatap ke depan. Aku masih mencoba mencerna, sampai akhirnya paham. Bahwa kalimat yang selalu ku tahan dan tak pernah terkatakan, sepertinya terbalas sebelum aku mengungkapkannya.
Dengan senyum tipis dan rona merah muda, ku genggam pin itu kuat, mencengkramnya hangat sembari menipiskan jarak pundak kami.
Aku tersentak saat pundak kami bersentuhan dan tak ada jarak sedikit pun diantara aku dan dirinya. Dapat kulihat Sugawara Senpai melayangkan tatapan lembut dari dua manik berbinarnya, senyum tipis terlukis. Kami saling melempar senyum sebelum ia menarikku untuk bersandar di pundaknya.
Merasakan bagaimana hangat dan nyamannya rangkulan lengan yang kuat itu, sampai aku tidak mau waktu berlalu dengan cepat diantara kami.
Kupejamkan mata, kali ini menikmati usapan halus pada pucuk kepala. Sampai kecupan halus yang teramat hati-hati dan sedikit gugup mendarat di keningku yang tertutup poni tipis.
Aku mendongak, mendapati pantulan diriku dalam jerat dua kelerengnya yang berkilau. Bersama dengan angin yang berhembus ia berbisik, "Aku menyukaimu,"
Kata-kata yang tak terkatakan oleh lidahku, berakhir keluar dari dua ranum yang kini mengecup lembut kurva milikku. Jantungku bergemuruh, meremat kuat mantel yang ia kenakan dan dengan sedikit malu juga wajah yang memerah padam, aku berkata.
"Aku juga menyukaimu."