"Maaf aku terlambat." Ucap Mara, menatap gundukan tanah yang masih merah dan lembab.
"Butuh waktu tiga tahun untuk mengerti ucapanmu saat itu, aku benar-benar bodoh.." Sambung Mara, bermonolog dibawah hujan gerimis sore itu.
Tangannya yang terasa kebas dan dingin, menyentuh perlahan batu nisan bernama kan, Morana. Dia adalah mantan suaminya tiga tahun lalu, pernikahan kontrak yang awalnya dimaksudkan untuk menjadi batu loncatannya mencapai mimpi. Justru menjebaknya dalam sebuah dilema, antara pernikahannya atau mimpinya, karena pada akhirnya ia malah jatuh cinta pada pria itu.
"Maafkan aku Mo.." Ucap Mara setengah berbisik, dengan suara parau menahan tangis. Kedua matanya sudah membengkak setelah menangis semalaman, ketika menerima kabar jika akhirnya Morana pergi untuk selamanya.
Menyesal pun sudah tak ada artinya, Morana sudah pergi meski ia menangis darah pun tak akan membawanya kembali.
Dulu saat masa pernikahan mereka berakhir, Morana pernah bilang jika dia hanya butuh tiga kata dari Mara, dan ia akan tinggal.
"Aku hanya butuh tiga kata dari mu, jika kamu mengucapkannya aku akan tinggal dan meninggalkan semua mimpiku untuk bersamamu." Ucap Morana saat itu tepat dihari wisuda Mara.
Mara tertegun untuk sesaat, dengan menggenggam erat toga ditanganya. Melihat Mara yang hanya terdiam, Morana tersenyum lembut, meski ada sedikit bias kesedihan dimatanya.
"Oke, hari ini pernikahan kita berakhir." Ucap Morana, tangannya menyodorkan secarik kertas ke hadapan Mara.
Surat cerai.
Mara dengan tangan sedikit gemetar mengambil surat itu, menandatangani nya dengan hati ragu.
Saat itu ketika tanda tangannya terbunuh dikertas itu, hubungan mereka berakhir.
"Mara!" Panggil Morana saat Mara berbalik, sekarang mereka sudah menjadi orang asing. "Bolehkah aku menciummu? untuk terakhir kali." Ucap Morana pelan, matanya menatap penuh harap.
Mara tersenyum kaku, tapi tidak menolak. Morana mendekat, menanggkup kedua pipi Mara dengan tangannya.
Sebuah kecupan manis yang singkat resmi mengakhiri semuanya, sebuah kecupan selamat tinggal.
..
Dua tahun berlalu, Mata dan Morana tak pernah bertukar kabar. Morana berhasil dengan mimpinya, menjadi seorang musisi yang terkenal di belahan Eropa. Sedangkan Mara ia tengah sibuk dengan konsernya, menjadi pemain biola terkenal.
Mereka hanya akan mendapat kabar masing-masing dari televisi, yang menyiarkan kabar terbaru dari mereka.
Hingga di tahun ketiga perpisahan mereka, Mara mendapat kejutan pahit. Morana telah berpulang. Meninggalkannya dengan perasaannya yang tak pernah berubah.
"Ini mustahil, Moran.." Bisik Mara tak kala televisi menayangkan berita kematian seorang musisi kondang ternama. Bernama Morana.
Itulah sebabnya Mata kini berdiri disini, sebuah pemakan umum dengan sebuket mawar merah berjumlah 66.
Mara simpan bunga mawar itu disamping nisan Morana, dengan secarik kertas yang dia tempel di atas nisannya.
Dengan air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya, Mara berlalu pergi.
Namun tak lama setelah Mara pergi ada seorang perempuan berpayung hitam, ia berjongkok disamping pusara Morana.
"Ini.." Wanita dengan payung hitam itu melihat secarik kertas yang disimpan dinisaan Morana, tulisannya sedikit kabur karena gerimis.
Tiba-tiba raut wajahnya terkejut, ia memutar kepalanya ke arah Mara tadi berjalan.
"Dia.." Kemudian wanita itu menangis tersedu-sedu.
..
Dear Morana.
sorry it took me three years to understand what you mean. Now I'm going to answer the three words you wanted to hear at that moment.
Yes, I love you..
..