"Sudah lama aku tidak ke perpustakaan sekolah"gumam Luna.
Dia terus berjalan memutari sekeliling perpustakaan itu untuk mencari buku yang ia inginkan.
Selesai ia menemukan buku itu Luna langsung terlarut kedalam isi cerita.Tidak sadar jika sudah menjelang sore,ia lupa sedang ada di perpustakaan sekolah.
tuk... (menutup buku)
"Sepi" kata Luna sambil melihat sekitar,
"Astaga"ucap Luna panik saat melihat jam ditangannya,
"Semoga belum dikunci".
ceklek...
Luna berhasil membuka pintu keluar,ia bernafas lega.
Jrengg...
Petikkan gitar membuat langkah Luna terhenti.Ia mengintip ruang musik yang ada di samping kananannya.
Seseorang yang membuatnya kagum akan ketampanan dan kepintarannya.Luna selalu melihat sisi ceria lelaki itu,tetapi sekarang sepertinya sisi itu menghilang.
Lelaki itu memetik gitar sambil melihat sendu jendela kelas.
Entah bagaimana Luna tidak bisa hanya diam melihat, ia melangkah masuk dan mengagetkan lelaki itu.
"Kenapa kesini"suara khas lelaki itu dengan sopan masuk ke telinga Luna.
"Maaf, tapi petikkan gitar mu bagus" Luna menunduk karena takut akan tatapannya.
Ia meruntuki kebodohannya karena dengan sopannya masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.
Lelaki itu seakan tidak peduli dengan alasan Luna ia kembali memetik gitarnya.
"Mau cerita?" dua kata yang Luna ucapkan mampu membuat lelaki itu menatap Luna.
"Gue nggak kenal lo, lo bukan orang terdekat mending lo pergi" ucapnya dengan nada tak bersahabat.
"Kamu bisa bercerita tentang masalahmu, siapa tau aku bisa memberi solusi.Anggap aku orang terdekatmu saat ini.Aku tau nggak enaknya menyimpan semua masalah"
Lelaki itu menunduk, "Semuanya pergi"ucap lelaki itu.
"Gue baru mau ngucapin ulang tahun tapi dia pergi"lanjut lelaki itu sambil menatap luar jendela.
Luna diam menyimak cerita lelaki itu.Akhirnya dia bisa membuat orang yang ia kagumi bercerita tentang masalahnya.
"Aku tau rasanya, bukan aku tau seakan sok tau saat ada di sisi kamu. Tapi aku juga pernah mengalami".
"Siapa yang pergi?"tanya lelaki itu.
"Ibu"
Satu kata membuat lelaki itu terisak.
"Lo ngucapkan itu seakan lo kuat banget".
Lelaki itu menangis.Jujur ia baru kali ini melihat seorang lelaki menangis selain ayahnya.
"Aku baru tau cowo bisa nangis" ucap luna seraya mengusap punggung lelaki itu.
"cowo juga manusia"
"Dia pergi tanpa pamit,dia lupa janjinya akan terus temanin gue disini saat gue sedih"lanjut lelaki itu.
"Pencitraan itu memang dibutuhkan Gilang, hanya sebagai bunga tidur yang menenangkan.Rasanya emang sakit,tapi aku yakin kamu kuat kamu bisa ikhlas atas kepergiannya" ucap Luna.
Lelaki bernama Gilang itu kembali mengambil gitarnya.
"Hanya musik yang bisa bikin gue tenang sekarang"ucap Gilang sambil menatap Luna.
"Mau nyanyi bareng?"lanjutnya.
Luna tersenyum.Untung ia bisa tahan dengan kelakuan doinya, walau perutnya geli seakan ada ribuan kupu kupu yang terbang.