Hari ini tidak ada yang berbeda di keseharian Ardi sebagai Prama di Kereta Api. Pekerjaannya berjalan lancar dan nyaris tanpa hambatan. Yang berbeda hanyalah dia berpindah tugas di kereta api malam, tapi itu tidak terlalu mempengaruhi kinerjanya.
Ardi melirik jam digital di salah satu gerbong , sekarang pukul 23.32. Sudah cukup malam, namun tanggung jawabnya masih berlanjut. Maklum saja , bekerja dengan jam kerja malam memang harus extra alias tidak boleh tidur walau sudah malam.
Namun Ardi merasa sangat mengantuk , akhirnya secara sembunyi-sembunyi Ardi mencuri waktu untuk meredakan kantuknya walau sebentar.
“Yah , 10 menit cukup lah.” Gumamnya.
Dengan santai Ardi mulai berjalan menyusuri gerbong , memperhatikan setiap gerbong berharap ada 1 gerbong kosong atau gerbong dengan penumpang yang sedikit.
Dalam perjalanan Ardi bertemu seorang teman dan mereka saling berceloteh sebentar.
“Mau kemana Bang Ardi??” tanya rekannya santai.
“Ini Bang, mau ngelemesin kaki bentaran. Ada gerbong sepi ga?” Jawab Ardi dan melanjutkan bertanya pada rekannya sambil tersenyum.
“Gerbong belakang udah saya kosongin Bang.” Sahut rekannya
“Okelah , Saya kesana bentar ya.” Timpal Ardi sambil berlalu pergi.
Terdengar suara sayup jawaban dari rekan Ardi , tapi dia tidak terlalu memperdulikan dan melanjutkan jalannya.
Tak lama Ardi sampai di gerbong paling terakhir dan melihat bahwa semua kursi hampir kosong, hanya ada satu orang wanita duduk di salah satu bangku no 5 dari tempat dia berdiri.
“Gapapa lah, cuma satu orang ini.” Batinnya
Ardipun berjalan melewati orang itu sambil tersenyum. “Misi mba ya.” Sapanya , dan hanya dibalas tatapan saja oleh wanita itu. Tapi Ardi tak ambil pusing.
Dia lirik jam digital di gerbong itu , menunjukkan pukul 23.57.
“Ok , cuma bentar doang,” Pikirnya..
Setelah menguap, akhirnya dia terlelap jatuh dalam tidurnya.
15 menit kemudian, Ardi akhirnya bangun. Dia mengerjapkan mata untuk mengembalikan kesadarannya setelah tertidur cukup pulas. Tidurnya nyenyak , 15 menit cukup untuk mengobati rasa kantuknya.
Namun sekarang Ardi tidak hanya berdua dengan wanita yang ada digerbong terakhir. Kini bangku gerbong ini sudah penuh dengan penumpang. Ardi merasa tak enak karena sudah tertidur ditempat yang ramai penumpang.
Bergegas Ardi berdiri dan ingin kembali ke tugasnya. Namun ada sesuatu yang membuatnya terpaku. Dia melihat salah satu penumpang di seberang bangku yang dia tiduri melihatnya dengan tatapan yang sayu.
Seorang pria dengan wajah pucat. “Mungkin bapaknya sedang sakit” Pikirnya cepat.
“Bapak baik baik saja?” tanya Ardi. Namun penumpang itu hanya diam saja tak bergeming. Dia hanya terus memandang Ardi tanpa berkata atau merubah ekspresi.
Ardi merasa hawa didalam gerbong sangat dingin , dia melihat ke arah AC dan ternyata AC - nya ada pada suhu yang tepat. Sama seperti gerbong lainya.
Tak berselang lama , Ardi baru sadar bahwa semua penumpang gerbong ini saat ini memperhatikannya. Dengan tatapan yang sama seperti Bapak tadi. Berwajah pucah , tatapan sayu dan tanpa ekspresi.
Seketika bulu kuduknya meremang. “Apa mereka bukan manusia??” Pikirnya.
Ardi ingat penumpang wanita bersamanya tadi, dia menoleh ke kursi penumpang itu. Wanita itu masih disana , tapi kenapa dia menangis. Wanita itu baru saja mengusap air mata dengan sapu tangannya.
Diperhatikannya lagi sekeliling dalam gerbong ini. Ternyata setelah diperhatikan , ada beberapa penumpang yang memang keadaanya tidak utuh.
Wanita di bangku paling belakang , salah satu tangannya hilang dengan darah terus menetes dari tangannya yang hilang itu.
Ibu hamil dengan anaknya di bangku belakangnya, mengusap perutnya dengan darah mengalir di kakinya. Anak yang bersamanya bahkan kehilangan setengah wajahnya.
Dan masih banyak lagi hal ganjil di gerbong ini.
Seketika wajah Ardi Pucat , tangannya dingin , jantungnya berpacu lebih cepat dan keringat dingin keluar dari seluruh tubuhnya.
Tanpa pikir panjang , Ardi menarik tangan satu penumpang yang menurut Ardi bahwa dia benar-benar manusia.
“Ayo mba, pergi dari sini. Disini berbahaya. Mereka bukan manusia” Ucapnya lantang.
Dan betapa terkejutnya Ardi , penumpang wanita itu berkata “Iya , saya tahu”
“Kalau begitu kenapa tidak pergi dari tadi??” Tanyanya sarkas.
“Masnya pergi dulu saja, saya masih ingin disini sebentar.” Ucap wanita itu, lalu berjalan kembali duduk dibangkunya.
Ardi lalu meninggalkan wanita itu dan berlari menuju gerbong staff dengan wajah pucat dan keringat dingin menempel dibajunya.
“Braaakk.” Ardi menabrak rekannya yang sebelumnya bertemu sebelum dia tidur.
“Setan Bang , banyak. Ada cewe ketinggalan. Gerbong belakang. Kursinya penuh.” Cerita Ardi sudah tidak beraturan dan sulit dimengerti.
“Sini duduk, minum dulu.” Ucap rekannya menenangkan.
“Kan tadi aku udah bilang Bang. Jangan kesana , udah mau jam 12. Itu Gerbong Khusus Penumpang Malam. Bang Ardi malah bablas terus.” Jelas rekan Ardi.
“Maaf Bang , Aku ga dengar tadi abang ngomong apaan.”
“Mba-mba tadi aku tinggal disana bang, dia ga mau diajak pergi.” Lanjutnya sambil menunjuk gerbong belakang.
“Udah biarin aja , dia emang sudah beberapa kali naik kereta kita dan memang selalu duduk disana. Sepertinya dia hanya ingin melihat salah satu penumpang di Gerbong Khusus Malam.” Ujar rekan ardi menerangkan.
Kini ia tahu kenapa Gerbong paling belakang selalu dikosongkan menjelang tengah malam. Itu karena akan ada penumpang yang naik dan memakai fasilitas kereta api ini. Gerbong paling belakang , Gerbong Khusus Penumpang “Malam”.