Seorang gadis tengah termenung di sebuah ruangan gelap tanpa cahaya, gadis itu melihat ke arah dinding dengan tatapan kosong. Jangan khawatir tak ada yang akan merasuki gadis itu karna otaknya sudah penuh dengan masalah yang cukup rumit. Gadis itu bernama Alyisa, seorang gadis yang baru saja menginjak usia dua puluh tahun dan dia baru menyadari tak akan ada hal baik setelah menginjak usia dewasa.
Alyisa mengambil ponsel yang ia letakkan di saku bajunya, membuka galeri dan menatap sebuah foto seorang pria.
"Saya tau, tanpa kehadiran saya kamu pasti bisa bahagia. Namun apakah kamu tau, tanpa kamu dunia saya hancur." ucap Alyisa dengan air mata yang ia tahan dengan sekuat tenaga, gadis itu sudah berjanji tak akan meneteskan air matanya lagi meski terasa sakit.
pria yang ada di dalam foto itu adalah mantan kekasih dari Alyisa, seorang pria yang ia temui di tahun dua ribu dua puluh dan masih ia cintai hingga akhir dua ribu dua puluh satu. Namanya Gibran Alkara, seorang pria yang satu tahun lebih muda dari Alyisa namun berhasil membuat gadis itu jatuh cinta padanya. Gibran adalah pria dingin, cuek, dan pendiam pada orang yang tak dikenal olehnya.
"Gibran, Alyisa sedang tidak baik baik saja." ucap Alyisa dengan wajah yang berubah menjadi pucat, dadanya terasa sangat sesak, sesekali gadis itu menghela nafas berat.
Hening, ruangan gelap itu sangatlah hening dan sunyi. Alyisa saat ini sedang sendirian di rumah ibu dan adik gadis itu tengah pergi ke rumah saudara dan akan kembali esok pagi.
Alyisa mulai berpacaran dengan Gibran pada bulan Januari dua ribu dua puluh satu dan hubungan itu harus berakhir pada bulan Mei dua ribu dua puluh satu. Meskipun mereka bukan sepasang kekasih lagi, hubungan Alyisa dan Gibran masih sama seperti sebelumnya. Gadis itu sering mengirim pesan singkat untuk mengutarakan rindunya pada Gibran, akan tetapi di akhir bulan ini Gibran sedikit berubah ia tak terlalu menanggapi pesan dari Alyisa. Karna hal itulah Alyisa merasa sangat sedih, ia bahkan berdiam diri untuk beberapa hari, jadwal makan gadis itu menjadi berantakan.
"Gibran udah dapet pengganti Alyisa kah? sampe Gibran jadi cuek sama Alyisa?." ucap gadis itu yang sedang bertanya pada gelapnya malam itu.
Alyisa bukanlah gadis yang lemah ia hanya merindukan kasih sayang dari seorang pria, seorang gadis yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah pasti mendambakan perhatian dari pria lain. Ayah Alyisa meninggal saat gadis itu menginjak kelas enam SD, tentu perasaan gadis itu hancur saat itu juga meski tak terlalu dekat dengan sang ayah namun Alyisa sangat menyayangi ayahnya itu.
"Hiks hiks hiks." terdengar suara tangis samar samar dari gadis itu. Ia tak bisa menepati janjinya lagi, air matanya sudah tumpah.
"Kenapa Gibran sama Alyisa ga bisa sama sama?." ucap gadis itu dengan suara yang bergetar, air matanya terus menetes tanpa henti.
Alyisa sangat bahagia ketika menemukan seorang lelaki baik seperti Gibran, sayangnya takdir tak berpihak pada mereka berdua. Dua orang yang memiliki pondasi yang berbeda tak akan pernah bisa bersama, seamiin yang tak seiman perlu sebuah pengorbanan dan tak ada yang ingin berkorban.
"Alyisa sayang sama Gibran, tapi Alyisa lebih sayang sama keyakinan Alyisa." ucap Gadis itu.
Gadis itu terdiam untuk beberapa saat, air matanya juga terhenti tak ada yang tau apa yang terjadi saat itu. Alyisa menatap tajam ke arah vas bunga yang ada di dekatnya. Tenang saja gadis itu tak sedang mencoba untuk mengakhiri hidup, ia hanya perlu sesuatu untuk meluapkan emosi saja. Alyisa bangun dan mengambil vas bunga itu, ia melempar vas bunga yang terbuat dari kaca ke tembok.
Suara barang pecah yang terdengar sangat nyaring, tak ada siapapun di rumah jadi itu aman aman saja.
"Aaaaaaaaaaaaaa." teriak Alyisa dengan sangat keras mungkin terdengar hingga rumah tetangganya.
Gadis itu hanya butuh sebuah pelukan agar hatinya lebih tenang, akan tetapi Alyisa faham dengan situasinya saat ini. Tak akan ada yang mengerti se lelah apa dia sekarang, sehancur apa perasaanya, dan seberapa besar ia menahan hasrat untuk mengakhiri hidupnya.
"Alyisa kan selalu baik sama orang lain tapi kenapa hidup Alyisa hancur?." tanya gadis itu pada dirinya sendiri. keheningan tak akan mempu menjawab pertanyaan dari gadis itu.
Hidup Alyisa sejak awal memang sangat sulit, beberapa kali dipatahkan oleh takdir, di buat kelelahan oleh harapan harapan yang ia ciptakan, dikhianati oleh manusia manusia yang ia percayai. Dengan alasan apa lagi Alyisa harus meneruskan hidupnya? sekuat itu sosok Alyisa yang tak semua orang tau.
"Gibran."
"Gibran."
Gibran."
Ucap Alyisa beberapa kali dengan suara yang sangat halus, ia tau tak akan ada yang menjawab panggilannya itu. Mungkin saat ini seorang Gibran Alkara sudah berhasil menghapus seluruh kenangan singkatnya bersama Alyisa, kini tinggal gadis itu yang masih terjebak dalam kenangan masa lalu yang belum bisa ia lupakan.
"Gibran harus tau, banyak yang datang buat sembuhin hati Alyisa." ucap gadis itu dengan senyuman penuh paksaan.
"Tapi Alyisa tau cuma Gibran yang bisa sembuhin luka ini." ucap Alyisa yang kembali terduduk di lantai dingin itu.
"Alyisa tau Gibran ga ada niatan jahat, mungkin Gibran mau Alyisa bahagia tanpa Gibran." ucap gadis itu lagi dengan helaan nafas beratnya. Alyisa memukul dadanya beberapa kali untuk menghilangkan rasa sesak yang tiba tiba datang.
Alyisa tak bisa mengalahkan Gibran atas keputusan yang telah laki laki itu buat, bagaimanapun Alyisa tak memiliki hak ikut campur atas semua keputusan Gibran. Kini Alyisa hanya bisa menjalani hidup seperti biasanya meski ia harus menahan lagi, mengobati lagi, dan memulihkan sendiri lagi.
"Kita adalah sebatas pernah yang tak akan terulang lagi, dinding pembatas di antara kita sangatlah tinggi Gibran. Sesayang apapun Alyisa sama Gibran, Alyisa janji ga akan ambil Gibran dari Tuhan yang Gibran percayai." ucap Alyisa yang hanya bisa pasrah sekarang.
Alyisa ingat kata kata yang pernah Gibran katakan sebelum mereka berdua berpisah. Gibran pernah berandai andai jika ia lahir dengan keyakinan yang sama dengan Alyisa pasti mereka berdua sudah bahagia saat ini. Ini adalah takdir yang tak bisa mereka rubah dengan mudah.
"Gibran baik baik di sana ya, Alyisa juga baik baik di sini." ucap Gadis itu sambil memandangi foto Gibran.
Satu hal lagi yang lupa ditambahkan dalam cerita singkat ini, Alyisa dan Gibran menjalin hubungan jarak jauh dimana mereka belum pernah bertemu satu sama lain. Mungkin ini cara terbaik yang semesta ciptakan agar mereka tak melangkah terlalu jauh.
Untuk semua pernah yang Alyisa rasakan saat bersama dengan Gibran, terimakasih.
...................................... SELESAI...................................