“Kiri Pak”
Aku berteriak kepada supir angkot yang biasa aku naiki setiap pulang dari kampus. Hari ini jadwal kuliahku cukup padat ditambah aku harus mampir ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku. Bawaanku cukup banyak , tas ku terasa berat.
Angkotpun berhenti tepat di depan gang ku. Rumahku masih sekitar 300m lagi dari jalan raya , dari depan gang ke rumah biasanya aku memang jalan kaki. Tapi aku sudah biasa seperti itu sejak SMP.
Kulihat jam ditanganku sudah menunjukkan pukul 19.30 , belum terlalu malam untuk orang lain. Tapi bagiku itu sudah luar biasa , karena aku jarang keluar malam memang.
Aku melanjutkan langkahku , melihat kedepan dengan santai tanpa ada firasat apapun. Gang tempatku tinggal ini memang cukup sepi, mengingat hanya ada 4 rumah saja disini. Gang ini juga gang buntu, jadi wajar jika tidak ada yang lewat.
“Ternyata saat malam gang ini cukup membuat ngeri ya” Batinku berkata. Bagaimana tidak, kurangnya penerangan ditambah kanan kiri yang hanya ada kebun dan pepohonan menambah kesan horor yang jarang aku rasakan.
Sebenarnya jika siang gang tempat tinggalku ini cukup nyaman, hawanya sejuk dan angin selalu menenangkan pikiran. Namun jika malam , menjadi sedikit mencekam. Walau sebenarnya selama ini aku tidak pernah menemukan hal janggal.
Sambil berjalan aku bersenandung untuk menghilangkan rasa sepi yang mulai kurasa tak nyaman. Sayup-sayup kudengar ada suara wanita bersenandung mengikuti suaraku , tapi aku mencoba mengabaikannya. Tidak mungkin ada orang lain, karena aku tak mendengar suara langkah. Kupikir mungkin ini hanya halusinasiku.
Ku lanjutkan senandungku , sekarang lebih keras agar pikiranku lebih fokus. Sudah setengah jalan pikirku, sebentar lagi sampai. Tapi suara senandung itu semakin keras juga. Aku berhenti lalu menoleh kebelakang dan ke sekitar. Tak ada siapapun.
Aku mempercepat langkahku, tapi tiba-tiba ada langkah yang sepertinya mengikutiku dari belakang. Aku menengok kebelakang lagi, dan tak ada apapun. Aku sedikit tenang , dan kembali ingin melanjutkan perjalanan. Namun tiba-tiba saat aku berbalik , ada seseorang melintas sangat cepat.
Aku terkejut hingga terjatuh ke belakang. Dia seorang wanita , tapi bagaimana orang bisa berjalan begitu cepatnya. Lalu aku berdiri , membersihkan celanaku dan kulihat wanita itu berhenti di sebuah pohon. Dia hanya diam menghadap kepohon itu.
Wanita itu memakai gaun warna merah selutut. Kurasa itu gaun itu mahal, aku bahkan bisa melihat seperti ada motif payet disana. Tapi aku merasa sedikit aneh, kenapa wanita memakai gaun sebagus itu tapi rambutnya dibiarkan acak-acakan.
Tiba-tiba tubuhku meremang.
Aku melihatnya dengan teliti, dari rambut sampai kaki. Tapi dimana kakinya, kenapa kakinya hilang. Bagaimana dia bisa berdiri dan berjalan jika tidak memiliki kaki.
Otakku bergerak begitu lambat, dia tidak bisa memerintahkan kakiku untuk berlari. Bahkan aku tidak bisa membuka mulutku , aku hanya diam mematung dengan tubuh gemetar. “Oh Tuhan , dia menoleh. Jangan sampai dia melihatku” Batinku berteriak.
Terlambat, dia sudah melihatku. Bukan menoleh , lebih tepatnya kepalanya berputar. Lalu secara mendadak tubuhnya patah. Aku bahkan bisa mendengar suara kemelatak dari patahan tulangnya. Dia berjalan kearahku, bukan berjalan tapi merangkak, bukan entahlah apa itu namanya. Tapi yang pasti dia sedang menuju kearahku.
Aku mulai bisa merasakan kakiku kembali, tapi sangat berat untuk aku gerakkan. Kupaksa bergerak tapi tidak bisa. Kubuang tasku yang sangat mengganggu, kupikir karena berat maka aku tak bisa bergerak.
“Ok, menjauh darinya” Otakku memerintah. 1 Langkah , 2 Langkah , 5 Langkah.. Tapi makhluk itu trus mengikuti langkahku. Kubuka mulutku untuk berteriak , tapi yang keluar hanya udara bukan suara.
Aku semakin putus asa tak tahu harus berbuat apa. Aku masih terus melangkah dengan kaki yang berat , seperti membawa batu besar di pergelangan kakiku. Aku bahkan harus menggerakkan kakiku dengan kedua tanganku.
Keringat mengucur deras di seluruh tubuhku. Aku sangat ketakutan dan tak tahu harus berbuat apa. Tanpa sadar ternyata makhluk itu sudah memegang kakiku. Tangannya dingin seperti es, tidak padat tapi bisa terlihat.
Aku memejamkan mataku , berdoa apapun yang aku bisa. Berharap setelah aku membuka mata makhluk itu hilang. Akhirnya kubuka mataku , dari jarak kejauhan kulihat ada sinar lampu dari orang berjalan. “Kumohon cepat, tolong aku” Aku berteriak dalam hati.
Semakin dekat , semakin dekat , aku tak berani melihat kakiku tapi rasa dingin dikakiku sudah tidak ada. Aku masih berdoa komat kamit , tapi tak keluar suara.
Rasanya orang itu sudah dekat , tapi kenapa aku merasa dia lama sekali. “Tuhan , kenapa dia lama sekali” Gerutuku. Ekor mataku menangkap bahwa sosok itu tidak memegangnya , dia kembali kepohon itu. Posisi menghadap pohon , berdiri dengan gaun merahnya tanpa kaki.
“Ayaaah”. Aku menangis sejadinya. Mengadu meminta tolong, tapi tak tahu harus bicara dari mana. Aku hanya menunjuk pohon tempat makhluk tadi berada, namun dia telah hilang.
Setelah kuperhatikan , ternyata aku bahkan belum berjarak 50cm dari tempatku menjatuhkan tasku. Kakiku lemas luar biasa. Jantungku seperti ingin meloncat dari tubuhku. Keringat mengguyur hingga kepalaku terasa basah.
Akhirnya , aku dan ayahku berjalan meninggalkan tempat itu. Tentu ayah mengambil tasku, karena aku sudah tak punya tenaga bahkan untuk bercerita.
Kapok, aku pastikan pulang saat keadaan matahari masih ada. Jikapun terpaksa harus pulang dalam kondisi gelap , aku ingin ayahku menjemputku di depan gang.
Aku tak mau Dia Yang Bergaun Merah , menampakkan wujudnya yang menyeramkan itu.