Aku masih saja sama, Milana. Sendirian, sepi dan masih diliputi sunyi. Rumah ini juga sama kosongnya. Tak jauh lebih baik dariku semenjak kepergianmu. Aku merindukanmu, Milana. Hari ketika pertama kali aku melihatmu dan hari dimana kita berpisah adalah hari yang mampu menjedakan segala aktifitasku dalam ingatan. Ku tulis surat ini untukmu.
Barangkali bila kau masih hidup, mungkin kau tak kalah tuanya denganku. Kita akan tertawa lepas di setiap sore yang belum kemerah-merahan benar. Lalu mengobrol tentang banyak hal sambil saling menghitung jumlah uban yang mulai muncul di kepala kita masing-masing. Tapi tidak, Milana. Kau sudah mati. Kau dikhianati oleh Negara yang kau cintai setengah mati.
Aku masih ingat dengan jelas lidahmu yang selalu saja tajam, lengkap dengan aroma tubuhmu dan senyum khas yang hanya dimiliki olehmu. Benar, aku yakin bila senyum seindah itu hanya dimiliki olehmu. Dan lidahmu selalu saja tajam dan bringas. Tapi hal itulah yang membuatku mencintaimu, Milana. seolah segala hal yang melekat padamu selalu mampu membuatku terpesona.
Sebagai seorang jurnalis yang berpihak pada rakyat, kau cukup berani untuk ukuran seorang wanita. Semuanya baik-baik saja sampai pada akhirnya kau menyadari betapa busuknya bisnis media waktu itu. Semua berita yang ditampilkan di media hanya menyajikan segala hal yang ingin dibaca oleh masyarakat tanpa peduli akan kebenaran dan kenyataan, menduakan realita demi sebuah harga jual dan supaya laku di pasaran. Tentu reporter jenis ini sangat jauh berbeda dengan gayamu. Akhirnya kau dipecat dari kantormu sebab tulisan-tulisanmu yang tidak sejalan dengan perusahaan. Kau meracau sejadi-jadinya ketika tiba di rumah. Aku mendekat tanpa sepatah kata lalu memelukmu, sejenak dunia merasa iri pada kemesraan kita.
Beberapa saat setelahnya, kau mulai tertarik bergabung dengan suatu partai yang dilabeli partai kiri. Tentu saja aku kaget. “bukankah kamu benci politik, sayang?” tanyaku.
Kau pun menjawab “yang ini beda mas, memihak rakyat kecil. Mas kenal yu ruminah kan? Kemaren dia diberi bantuan berupa alat pertanian dan bibit bawang. Lik jumanto juga. Dan masih banyak lagi, cuma aku lupa siapa aja hehe”. Tentu saja aku tahu,Milana. Aku tahu harusnya waktu itu aku melarangmu untuk bergabung dalam dunia politik. Dunia hitam. Dunia yang hanya mengenal kepentingan golongan. Yang tidak mengenal siapa lawan dan kawan. Harusnya aku mengingatkanmu, Milana. Tapi tidak, aku mencintaimu. Aku tidak ingin membuatmu kecewa maupun bersedih.
Beberapa kawanmu dari partai yang sama denganmu sering mampir ke rumah. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang kecil yang justru kurang begitu paham urusan politik. Kalian justru lebih banyak membicarakan tentang harga cabai dan bawang merah yang naik ketimbang membicarakan urusan politik dan partai. Kalaupun ada yang berusaha membicarakan urusan politik pun hasilnya gagal besar, arahnya malah ngalor-ngidul tidak karuhan. Disanalah kadang aku menahan tawa, Milana.
Berbeda denganku, kau justru bisa tertawa terbahak-bahak dengan sangat ringan. Kadang juga tersenyum dengan sangat manis. Kau terlihat sangat bahagia dan cantik. Waktu seperti itulah saat-saat dimana aku sering mencuri pandang kearahmu. Aku rasa aku mulai mengerti kenapa kau tertarik bergabung dengan partai ini.
*****
Satu-satunya penyesalanku adalah aku tak bisa menyelamatkanmu atau setidaknya mati bersamamu. kau pun juga tahu waktu itu aku sedang ada di kanada dalam urusan bisnis. Sampai suatu ketika datang sepucuk surat dari seorang kawan tentang gejolak yang tengah terjadi di tanah air. Seketika itu juga aku pulang milana. Menemuimu. tapi aku tidak menemukanmu.
Aku mencarimu kesana kemari seperti seorang anak yang terpisah dari ibunya di keramaian. Aku pun sangat tahu bila keluarga anggota partai juga dicap sebagai kriminal. Karena itu lah aku menyamar menjadi seorang jurnalis supaya tidak dicurigai militer dan intel. Akhirnya aku menemukanmu, milana. Tergeletak menyedihkan di sudut kamar jenazah rumah sakit yang tak jauh dari rumah kita. Seketika seisi kamar jenazah seolah berubah warna menjadi hitam ke abu-abuan. Burung cakrawala yang selama ribuan juta tahun terakhir asik terbang, saat ini bertengger menundukan kepala dan sang waktu seolah ikut berduka bersamaku. Sementara aku? Aku masih menjeda dalam setiap keheningan. Milana, Aku kehilangan senyummu, aku kehilanganmu.
Desa kita yang sebelumnya sangat tentram kini menjadi sunyi dan mencekam. Tetangga-tetangga kita yang juga kawanmu di partai, terdengar kabar bahwa mereka dibantai di alun-alun kemarin sore. Yu ruminah dan lik jumanto juga hilang entah kemana. Aku merasa negeri ini bertindak agak berlebihan pada mereka, yang justru kurang begitu paham dengan situasi yang terjadi. Hanya karena mereka tercatat dalam nama anggota partai yang diduga hendak melakukan kudeta itu, mereka diadili tanpa pengadilan dan keadilan. Aku merasa sangat marah, Milana. Aku marah pada mereka yang menjadikan insiden ini sebagai upaya menaikan popularitas. Mereka dicap sebagai pahlawan karena telah menghabisi nyawa orang-orang kecil seperti yu ruminah dan lik jumanto. Aku marah pada mereka yang telah memisahkan kita, Milana.
Akhirnya aku pun mengebumikanmu, sementara keadaan telah mengebumikan seluruh harapan dan semangatku. Aku bahkan belum merasakan bagaimana rasanya menggendong calon bayi yang gagal lahir dari rahimmu dan memilih ikut pergi bersamamu dalam kedamaian. Aku benar-benar hancur, Milana. Sementara mereka yang menghancurkanku kini tengah naik pangkat dan barangkali tengah menyantap hidangan steak mahal sambil menceritakan kisah-kisah heroiknya pada cucu-cucu mereka yang mungkin saat ini genap berusia enam tahun.
Sementara aku masih sendirian, Milana. Ragamu memang telah menyatu dengan bumi puluhan tahun lalu. Tapi kenangan akan senyum dan paras cantikmu selalu mampu menghangatkan jiwaku pada malam-malam dingin yang penuh kebekuan.
Tentu saja aku pernah berusaha mencari penggantimu. Tetapi setiap hal yang aku lakukan bersama perempuan baru hanya akan semakin membuatku mengingat kembali tentangmu. Bahkan barang-barang di rumahpun seolah-olah mengisahkan kembali kisahmu, kisah cinta kita yang penuh kesederhanaan dan kebahagiaan. Mengingat hal tersebut, bagaimana mungkin aku akan mampu hidup dengan perempuan lain? Karena aku telah mengalirkan seluruh darahku di dalam darahmu dan menghembuskan seluruh nafasku di dalam nafasmu. Kau masih tetap yang kucinta, Milana.
Aku tahu semua yang aku lakukan ini –mengenang dan menulis surat untukmu- adalah hal paling tak berguna yang pernah aku lakukan. Sebab kau telah tiada dan aku pun tidak tahu di mana alamatmu sekarang. Jadi bagaimana cara aku mengirimnya? Aku tidak tahu, Milana. aku hanya sekedar ingin menulis dan ingin meluapkan segala kerinduan, rasa bersalah dan penyesalan yang telah menggunung ini. Lagipula bagiku tidak semua hal harus berguna. Berharap dengan cara ini aku mampu melepaskan sedikit beban di pundakku sebelum aku meletakkan kepalaku dengan tenang untuk menemuimu.
Menyedihkan memang, bila harus mati sebelum mampu memintakan keadilan bagimu, yu Ruminah, Lik Jumanto dan beberapa tetangga kita. Aku yakin dengan sangat yakin bila keluarga mereka pun juga tak kalah menyedihkannya denganku. Atau mungkin mereka juga ikut dibinasakan pada waktu itu. Mengingat hal itu selalu saja membuatku sangat marah, Milana.
*****
Milana tercinta,
Kususun tulisan ini sebagai penanda rindu di ujung sekaratku. Aku akan segera menyusulmu, Milana. Tunggu saja!.
Ku kirimkan surat ini padamu, Milana. lengkap dengan sisa-sisa kerinduan dan penyesalan di ujung usiaku.
Milana terkasih, yang paling asih di antara orang-orang yang dikasihi.
Ku kirimkan surat ini padamu lewat ribuan kunang-kunang yang hinggap di malam-malam dingin.Yang kuning sayunya selalu mampu membuatku larut dalam kepedihan.
******
Aku masih saja sama, Milana. Sendirian, sepi dan masih diliputi sunyi. Rumah ini juga sama kosongnya, tak jauh lebih baik dariku semenjak kepergianmu. Kami benar-benar saling diam dalam keheningan. Aku memilih memaafkan mereka semua, Milana.
Bagaimana denganmu?
NB:
Ngalor ngidul adalah ungkapan yang digunakan oleh orang jawa untuk menjelaskan tentang pembicaraan yang tidak jelas inti atau juntrungannya.