Berkali-kali aku menarik napas panjang, rasanya dadaku sesak sekali. Aku tak percaya, mengapa ini mesti terjadi! Aku berharap ini adalah mimpi di malam hari. Beberapa kali aku mencubit tanganku sendiri, karena masih belum percaya apa yang terjadi. Namun ini bukan mimpi, apa yang dikatakan oleh Pa Ardi tidak mungkin berbohong
Pa Ardi sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum tampak terdiam setelah menyampaikan laporannya. Dia pun tampak wajahnya pucat serta menahan kekecewaaan.
"Apakah benar Shinta telah berbuat begitu?" tanyaku dengan penuh rasa penasaran.
"Saya sudah tanya langsung sama anaknya kemarin, benar dia mengakui sudah melakukan....."
Rasanya seperti mendengar petir di siang hari, karena siswa itu baru berusia 14 tahun. Anak yang belum cukup umur untuk mengandung, bahkan dia tidak mengerti sama sekali
"Terus sekarang sudah berapa bulan?"
"Delapan bulan, Pak!"
"Jadi sudah lama melakukannya..."
"Iya, Pak!"
"Siapa yang telah menghamilinya? Apakah siswa kita juga atau pacarnya? tanyaku dengan penasaran.
Pa Ardi tidak langsung menjawab pertanyaanku, dia hanya hanya berbisik pelan dan nyaris tidak terdengar.
Aku terperanjat mendengarnya. Nafasku seakan berhenti seketika. Sama sekali aku tidak percaya, mengapa ini mesti terjadi pada Shinta, yang selama ini kukenal sebagai anak cantik, pintar namun pendiam. Tapi nasibnya sungguh diluar perkiraan.
Di kelas tidak jauh berbeda dengan siswa lainnya, namun tampak dari wajahnya dia memang cenderung tertutup. Beberapa kali bertemu pun, dia nampak tidak memperlihatkan wajah ceria, namun seperti menyimpan rahasia.
Masih ingat ketika aku berada di kelas sedang mengajar, Shinta duduk di belakang. Anak itu berbeda dengan siswa lainnya, bahkan terlihat badannya agak membesar. Aku tidak curiga terhadap anak itu, anggap wajar saja sedang masa pertumbuhan.
Namun beberapa kali masuk kelas untuk mengajar, Shinta sudah nampak tidak terlihat lagi, maka ketika aku tanyakan, pada teman sebangku ternyata dia sedang sakit. Aku kira memang sedang sakit , namun ternyata aku mendapat laporan yang sangat mengangetkan.
Hari itu juga setelah mendapat laporan, aku akan ke rumahnya untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Aku penasaran dan tidak habis pikir, siapakah yang telah berani menghamili Shinta! Dia belum saatnya hamil, apalagi mempunyai anak.
Tanpa banyak kata lagi, aku bergegas untuk menemui rumah Shinta yang tidak terlalu jauh rumahnya dari sekolah. Selama perjalanan aku mengutuk pada orang yang telah berani menghancurkan masa depannya. Bukankan bulan depan dia akan Ujian Nasional? Bagaimana dia sedang hamil? Jika ketahuan oleh pihak Dinas Pendidikan, tentu akan berisiko.
Berkali-kali aku hanya menarik napas panjang. Tak kukira sekolahku harus menghadapi peristiwa pelik seperti ini. Padahal selama ini aku berusaha mendidik siswa agar jangan sekali-kali melakukan perbuatan zinah, karena sangat berbahaya sekali bagi anak-anak yang masih sekolah.
Rumah sederhana itu sepi dan berada di gang yang cukup hanya memakai kendaraan motor. Aku bergegas turun setelah sampai di rumahnya. Hatiku berdebar saat mengetuk pintu rumahnya karena yang terbayang wajahnya yang polos.
"Assalamu'alaikum!" ucapku sambil mengetuk pintu. Tidak lama terdengar suara perempuan dari dalam, menyahur jawabanku.
Ketika dibuka pinru, Ibunya Shinta tersenyum karena sudah kenal dan hapal denganku. "Oh bapak! Silahkan masuk pak!" katanya.
Segera aku duduk di kursi dengan perasaan masih berkecamuk, sebab masih belum percaya terhadap Shinta.
"Bu Shintanya ada ?" tanyaku.
"Ada pak, lagi di kamar.." katanya, "sebentar saya panggil dulu...."
Aku menunggu dengan perasaan gelisah. Belum yakin apa yang terjadi, dan aku ingin membuktikan sendiri.
Tidak lama, Shinta keluar dengan wajah kusut dan nampak terlihat wajahnya bekas menangis dan matanya merah.
Ketika Shinta melihat aku, dia nampak tegang, namun segera berlari sambil menangis di pangkuanku. Aku terperangah dan tak kuasa menahan air mata,karena tak percaya, perutnya sudah membesar.
"Ya Allah...." hanya kata itu yang keluat dari mulutku karena nafasku tertahan isak tangisku. Aku hanya bisa memegang tangannya dan menenangkan Shinta.
Lama Shinta berada dalam pengakuan, disaksikan oleh ibunya yang juga tengah berurai air mata.
Setelah suasana agak tenanng, Shinta aku dudukkan di kursi. Napasnya masih turun naik dan beberapa kali mengusap air mata.
"Shinta, ini adalah takdir yang harus kami jalani. Namun bapak pesan, jangan engkau putua asa menghadapi ujian berat....sekarang kamu jujur dan terus terang ke bapak ..siapa yang telah berbuat ini kepadamu?" tanyaku, meski sebenarnya aku sudah tahu dari Pa Ardi, namun aku ingin langsung mendengarkan pengakuan dari Shinta .
Shinta beberapa kali menarik napas panjang. Dia begitu berat untuk menyampaikannya. Namun setelah didesak,akhirnya dia berkata.
"Pak, maaf...Ayah tiri saya yang ...yang melakukan semua ini!" katanya dengan suara parau nyaris tak terdengar. Aku menarik napas dalam-dalam karena apa yang disampaikan Pa Ardi benar adanya. Jadi aku tidak terlalu terperanjat, aku hanya ingin mendengar langsung dari korban.
Ya Allah, betapa teganya seorang ayah tiri berbuat biadab kepada anak istrinya. Sementara Ibu Shinta yang sejak tadi mendengarkan hanya berurai air mata, terisak-isak menangis.
"Benar Pak! Bapak tirinya yang telah berbuat biadab...suami saya sendiri mengakui semua perbuatannya..." ujar Ibu Shinta.
"Sekarang dia dimana?" tanyaku penasaran.
""Dia sekarang ada di kantor polisi sebagai tahanan...karena bapaknya Shinta melaporkan kasus perkosaan," katanya.
"Bapak Shinta tinggal di daerah ini?"
"Iya Pak, hanya beda RW..dia yang melaporkan ke polisi dan sudah seminggu ditahan..." katanya.
"Jadi sekarang bagaimana sekolah Shinta, mau dilanjutkan atau berhenti karena bulan depan harus ikut UN ..." tanyaku.
"Saya ingin terus sekolah Pak, ikut Ujian Nasional! Tolonglah pak!" kata Shinta seraya menatapku dengan penuh harap. Aku salut dengan semangat tinggi yang terus bergelora ingin sekolah hingga selesai SMP.
Ah, aku taku kuasa menatap wajahnya yang lugu dan polos, yang belum mengerti apa artinya hamil dan berumah tangga.
"Shinta, yang bapak kuatirkan sejak bapak mendengar peristiwa pada kamu...bapak takut kamu putus asa...kamu mengambil jalan pintas..kamu bunuh diri..." ucapku dengan tenggorakan terasa berat.
Shinta menatapku, kemudian berujar ,"semula begitu Pak, saya putus asa...malu terhadap teman dan para guru...namun ibuku menasihatiku dan jangan putus asa,". Dia menundukkan kepala dan mengusap air mata yang sejak tadi terus menetes.
"Alhamdulillah kalau begitu..." ucapku lega mendengar pengakuan Shinta itu.
Berkali-kali aku menarik napas panjang, seakan aku merasakan beban berat yang dihadapi Shinta. Bagaimana pun Shinta adalah siswa yang masih belajar tentang arti kehidupan.
Beban kini berada dipundakku, aku harus menyelamatkan Shinta agar tetap bisa UN, tapi bagaimana kalau nanti ketahuan, ada siswa hamil ikut UN? tentu sekolah akan cemar, apalagi kalau ada wartawan yang membocorkan kasus memalukan ini? Berbagai macam masalah negatif muncul dalam benakku.
Pulang dari rumah Shinta, aku belum bisa tenang, sebab ikut memikirkan juga keadaan keluarga Shinta, jika ayah tirinya masuk penjara, bagaimana kehidupan mereka sehari-hari? Bagaimana pula peristiwa itu bisa terjadi? Bagaimana pula bayi yang ada dalam kandungan? Bagaimana status bayi itu?
Ah, sungguh kasihan Shinta harus menjadi korban kebiadaban ayah tirinya, padahal aku tahu persis, ayah tirinya yang setiap hari mengantarkan sekolah Shinta. Bagaimana peristiwa itu bisa terjadi?
Aku hanya terpaku dan tak mampu lagi berbuat banyak, selain fokus menyelamatkan Shinta harus bisa ikut UN, meski risiko terpahit sekalipun harus siap aku tanggung.
Ah, Shinta sungguh nasibmu tak seindah masa anak sekolah, dia jadi korban ayah tirinya yang tega menghancurkan masa depannya..
Bandung, 22 Desember 2021