Embun beku dari pepohonan di “Teras Pohon Beku” terlihat seperti bunga yang terbuat dari es. Ini adalah sebuah fenomena musim dingin yang indah yang terjadi ketika kelembaban dan kabut di udara membeku ke cabang-cabang pepohonan.
Musim dingin sudah datang suhu udara rata-rata sudah di bawah minus aku menatap keluar jendela melihat Jatuhnya butiran-butiran salju dari langit seperti kapas yang beterbangan, ku peluk tubuhku yang terbalut mantel tebal. Aku memejamkan mata dan menarik nafas panjang,
"Desember," desisku.
Entah kenapa setiap kali jatuh pada bulan Desember baik ku undang atau tidak undang semua pikiranku seakan dipenuhi oleh satu kata yaitu Mama, entah mengapa setiap kali mengingat Mam selalu muncul dua kenangan yang bergelut dalam hati dan juga pikiranku.
"Mama," gumam ku datar.
Kubawa tubuh letihku setelah seharian melakukan aktivitas sekolah terlentang di atas ranjang tempat tidurku, manik mataku menari-nari dari satu sudut ke sudut lain atap plafon yang bagai langit terdekat sebatas pandangan netraku.
Sebelumnya aku perkenalkan diriku, namaku erlangga orang sering memanggilku Er, aku dua bersaudara. Adikku seorang perempuan, Janet namanya. Dia hampir sebaya denganku mungkin jarak kami yang terlalu dekat sehingga kami seperti saudara kembar. Janet lah satu-satunya teman dan juga musuh.
Walaupun Janet seorang perempuan tapi kalau kita sedang bertengkar kami tidak melihat gender aku akan memukul dia seperti layaknya aku memukul anak laki-laki. Satu hal yang aku benci setiap kali terjadi pertengkaran antara aku dan Janet adalah sikap mama. sejak kecil mama selalu pilih kasih, dia melihatku dengan sebelah mata.
Seberapa besar kesalahan Janet di mata Mama selalu saja aku yang akan di salahkan, aku terkadang tidak mengerti mengapa mama bisa seperti itu dengan diriku. Mama membenciku bahkan menganggap aku adalah pembawa sial dalam hidupnya hanya karena aku lahir sebagai seorang anak laki-laki.
"Bukan aku yang meminta untuk lahir dan memilih takdirku mah," bisikku.
Ku pejamkan mataku aku sedang mendebat diriku sendiri, " Er kamu tuh cowok kamu harus kuat dan kuat, apapun yang terjadi dalam hidupmu tidak perlu menangis atau meratap,"
Itulah kata-kata yang selalu Mama hasut ke dalam pikiranku agar aku tidak pernah menangis sebagai seorang anak laki-laki. Oh ya, aku akan sedikit bercerita tentang mamaku ,dia seorang wanita yang cantik seorang wanita karir yang ramah dan selalu bisa bergaul dengan mudah dimanapun dia berada. Terlihat sekali Mamaku dari luar adalah wanita yang perfect
Memori liarku mengajakku berkelana mengenang beberapa kejadian buruk dan pahit yang pernah terjadi dalam perjalanan hidupku. Bagaimana mungkin tidak kubilang pahit, saat aku masih duduk di bangku SD karena kesulitan ekonomi kami aku dititipkan di sebuah panti asuhan.
Mama berpesan padaku jika suatu hari nanti dia akan menjemput ku, entah karena rasa takut atau karena perasaanku saat itu aku hanya mengikuti kata Mama ku, kalau nanti dia akan datang menjemput ku. Aku hanya bisa memandang kepergian Mama meninggalkan aku seorang seorang diri di panti asuhan.
Kehidupan panti yang keras memberikan rasa sakit akibat goresan luka yang amat dalam di dalam hidupku, bagaimana tidak kubilang aku tak terluka, selama di panti aku tidur di sebuah kandang kuda, mereka memberikan aku makanan sisa yang tak jarang makanan itu hampir basi, tapi karena lapar aku tidak mempedulikan semua itu.
"Busuk," desisku
Aku masih bisa bersyukur walaupun aku mengalami kondisi pahit di panti, Tuhan mendatangkan malaikat bagiku yaitu Oma. entah dari siapa Oma tahu keberadaan ku di panti, saat melihat kedatangan Oma aku benar-benar senang rasanya seperti angin Dhuha yang semilir yang mengusir semua kesedihan dan kegalauan ku. Aku memeluk Oma erat menangis sejadi-jadinya.
"Oma tetaplah ada untukku," aku menarik nafas dalam untuk menghilangkan sesak yang tiba-tiba menguasai dadaku hingga membuat aliran darahku seakan terhenti dan mulai mendidih.
Di mataku Mamah adalah orang yang sangat tega saat kecil kalau aku menangis dia membentak ku dengan sangat keras hingga aku merasa dadaku bergetar dan ingatan Itu sangat kuat sekali ada di pikiranku.
saat ada kesalahan yang kulakukan Mama akan memukul tanpa rasa iba, perlakuan Mama seperti itu seperti bangunan tembok berduri yang Mamah bangun di dalam hati dan pikiranku hingga membuatku trauma sampai saat ini.
Mama sangat menyukai kucing, kucing Mama pernah menggigitku Aku tidak tahu kenapa sampai hari ini aku fobia dengan kucing, apakah karena pengalaman digigit oleh kucing atau karena mama menyukai kucing. Hampir semua yang Mama sukai aku membencinya, perlakuan kata-kata kasar Mama juga sikapnya membuatku benar-benar mati rasa sebagai seorang laki-laki yang tumbuh mulai remaja.
Aku iri dengan mereka yang selalu mengagungkan Mamanya seperti layaknya malaikat atau bidadari, sementara aku sendiri melihat Mama seperti sosok yang sangat menakutkan. Pernah ada seorang teman yang tanya padaku siapa yang paling membuatku takut, aku menjawabnya Mama.
Jika aku boleh memilih aku ingin lahir dari seorang mama seperti layaknya Ibu Siti Hajar yang mau berlari dari satu bukit ke bukit satunya untuk mencari air buat Putra kesayangannya Ismail, Rasa sayang yang begitu besar tumbuh dalam Ibu Siti Hajar itulah yang seperti bidadari atau malaikat.
Aku menarik nafas panjang sambil memejamkan mataku, aku merasa ada yang memelukku hangat begitu hangat. Saat Aku menoleh ke belakang Oma tersenyum dengan begitu tulus dan senyum itu begitu indah seperti kilauan berlian. Oma menyandarkan kepalanya di pundakku harum baru rambut peraknya membuat hangat hatiku.
"Salju pertama yang indah Er," bisik Oma di telingaku begitu merdu suaranya.
"Iya," saut ku datar.
"Dingin, mau pulang ke Indonesia? Di sana agak sedikit hangat sayang," tanya Oma.
"Nggak Oma, di sini lebih hangat ada perapian yang selalu Oma menyalahkan untukku," jawab ku.
"Hmmm," Oma berdeham dan memelukku erat.
iya mungkin muara kasih sayangku ada pada Oma bukan pada Mama, rasa sayang Oma seperti hangatnya api perapian yang selalu membuatku untuk terus bertahan dalam sikap dingin Mama.
Maafkan aku ya Robb, mungkin belum saat ini aku berbakti pada orang yang sudah menghadirkan ku di dunia ini aku butuh waktu untuk menyembuhkan semua lukaku dan aku berharap Engkaulah yang akan menyembuhkannya.
Jepang Desember 2021
Note author:
Sahabat doa terbaik untuk mu semoga muara kasih bunda akan datang padamu, menjadi ikhlas itu sulit tapi menanam dendam dan sakit hati lebih sulit. Semoga Ikhlas membuat semua luka hatimu meringankan langkah mu