Aku ingin mencintaimu bahkan pada rasa sakit mu yang masih tersisa.
----
"Hey, kau suka salju?"
Suara itu tiba-tiba saja terdengar dari samping kananku. Aku berbalik, cukup terkejut menemukan seorang pemuda yang mungkin lebih tua dariku.
Ia tersenyum lembut dengan bibirnya yang pucat itu, memandang jauh ke depan sana di mana hamparan salju mulai menebal di balik dinding kaca rumah sakit.
"Mereka tidak menyerah, ya? Walau tahu akhirnya mereka akan terjatuh dan berakhir mencair, mereka tetap bersih keras membuat bumi menjadi lebih indah di Bulan Desember." ucapnya lagi, kali ini ia mengalihkan pandangan ke arahku.
Matanya yang menyipit ketika tersenyum dan surainya yang bergoyang lembut ketika memiringkan kepalanya sembari berkata, "Soalnya aku suka banget sama salju!"
Semua itu tampak berkilau, seperti bulir salju yang jatuh dari langit.
---
Tanpa sadar, pertemuan itu terjadi secara acak. Di koridor rumah sakit, di ruang tunggu, bahkan di depan ruang kontrol.
Ketika kami saling berpandangan, ia akan mengulas senyum selembut beludru putih. Surainya yang berwarna blonde selalu bergoyang lembut ketika ia melambai kecil ke arahku.
---
"Kau ini senang berdiri menghadap keluar, ya?" ucapnya berdiri di sisi kananku.
Ia ikut menatap ke depan sana, pada hamparan salju yang kian menebal.
"Entah sejak kapan, aku mulai rindu berada di bawah guyuran salju." gumam ku sembari menyentuh dinding kaca.
Ku rasakan ia bergerak di belakangku, hingga aku merasa sesuatu menyentuh pundakku. Saat sadar, ternyata ia memberiku jaket yang selalu ia kenakan.
"Mau mencoba bermain salju?"
"Eh? Memangnya diperbolehkan? Kaki ku masih belum pulih total dan kau juga pasien, bukan?"
Ia tersenyum, kemudian meletakkan jari telunjuknya di atas bibir.
"Cukup rahasiakan dari suster, bukan?"
Salju yang mengotori rambut, tawa yang sesekali menggema dan raut bahagia di wajah. Semuanya terekam menjadi memori indah antara aku dan dirinya.
"Aku suka dengan salju!" ucapku setelah kami membersihkan tubuh masing-masing dan masuk diam-diam dari pintu belakang rumah sakit.
Ia bergeming, menatapku dengan tatapan lembut. Tangannya terangkat, perlahan mengusap anak poniku yang terdapat setitik salju di sana.
Sembari tersenyum dengan manis ia berkata, "Aku lebih suka dirimu."
---
Keesokan harinya, bahkan di hari berikutnya, hingga tiga hari berlalu. Dia tidak datang di tempat ini setelah ia mengatakan sesuatu yang membuatku berdebar.
Sosoknya seolah hilang seperti salju yang mencair.
"Kau dengar berita itu? Pasien di kamar 91 sepertinya tidak akan sembuh. Ku dengar kondisinya semakin parah,"
"Obat-obatan tidak akan membantunya. Aku merasa kasihan dengan keluarganya, ku dengar dia adalah anak tunggal."
"Sangat disayangkan, padahal dia adalah anak yang ceria dan tampan. Akhir-akhir ini aku melihatnya lebih banyak tersenyum sejak bergaul dengan gadis di kamar 103."
Cakap-cakap dari para suster yang melewatiku terdengar. Seketika aku langsung menyadari sosok siapa yang mereka bicarakan.
Dengan bantuan tongkat, aku berusaha berlari ke arah kamar 93. Dan di sana, seseorang baru saja keluar dari kamar itu. Memakai tudung dan jaket tebal. Ketika sosok itu menyadari kedatanganku, ia langsung mengulas senyum yang begitu manis.
"Ai? Aku baru saja ingin menemui mu! Kau datang kemari karena merindukanku, ya?" ujarnya.
Aku terdiam. Sedikit tertegun, sebab aku sadar ada perubahan di wajahnya. Kedua pipi itu semakin tirus saja, bibirnya yang tebal tampak begitu pucat.
"Chifuyu-san, bukankah kau seharusnya beristirahat sekarang? Aku mendengar--"
"Berita kematian ku? Suster-suster itu mengasihani ku?"
Aku bergeming. Ia baru saja mengatakan sesuatu yang entah mengapa menyayat sudut hatiku sembari tersenyum.
Tangannya terangkat mengacak anak rambutku. Aku sedikit mengeluh, membuat ia tertawa lepas. Ia menyeka sudut matanya yang berair, kemudian mengulurkan tangan untuk menggenggam tanganku.
"Mau main salju denganku tidak?"
"Chifuyu-san, ku pikir kau--"
"Oke! Kita bermain lima menit saja!"
Tanpa menunggu protesku, ia menarikku berjalan ke tangga atap rumah sakit. Begitu bersemangat walau jalannya sedikit tertatih ketika menaiki tangga.
Seberapa besar usahanya menutupi rasa sakit, aku tahu berapa banyak rasa sakit yang ia tahan saat ini. Wajahnya tidak bisa menutupi sakit itu walau ia terus tersenyum.
Angin yang berhembus di atap rumah sakit menyapa kami. Ia tertawa, merentangkan kedua tangannya sembari memejamkan mata dengan menengadah ke atas langit.
"Hey, kau suka salju?"
Ia menanyakan hal yang sama di pertemuan pertama kami. Sembari memandangku dengan senyuman, ia kembali berkata.
"Aku begitu suka salju, tapi tidak sebesar aku menyukai mu."
Angin yang berhembus di antara kami, membawa sepenggal rasa sepi dari suatu tempat.
"Kau adalah apel di mataku."
Surainya yang menari diantara senyumnya yang merekah siang itu, entah mengapa membuat hatiku tersayat. Begitu sakit hingga aku tidak bisa menahan air mataku.
Ia mendekat, mengangkat jemarinya untuk menari di atas kedua pipiku yang basah oleh air mata. Senyumnya merekah dengan kedua mata yang menyipit menyembunyikan rasa.
"Tidak mengapa jika perasaanmu berbeda, aku sudah cukup senang mengetahui aku sempat menyukai seseorang seperti, Ai."
Aku yang tidak sanggup menahan rasa sesak di dadaku setelah ia berucap demikian, menghambur ke pelukannya. Menumpahkan air mata tanpa peduli ia yang sedikit terhuyung karenaku.
"Hey?"
"A-aku juga menyukaimu! Menyukaimu seperti apel! Kau adalah satu-satunya yang ku sukai!"
Tawanya yang selalu terdengar manis, entah mengapa hari ini terdengar seperti sebuah nyanyian perpisahan. Di sela tawanya ia sempat terbatuk, menahan sesak di dada tapi enggan melunturkan senyumnya pada dunia.
"Jujur, aku benci rasa sakit ini. Yang tersisa hanya sedikit, padahal aku ingin memiliki banyak kesempatan untuk terus melihatmu."
"Kalau begitu, aku ingin mencintaimu bahkan pada rasa sakit mu yang masih tersisa."
Sesaat setelah mengucapkan hal itu, pintu atap terbuka. Beberapa suster dan kedua orang tua Chifuyu memandang kami dengan pandangan terkejut.
Diantara salju yang menghantam bumi, juga angin berderuh yang menggoyangkan anak rambut seolah menari, ia tersenyum.
"Aku bersyukur, bisa dicintai seperti itu oleh Ai."
Senyum yang begitu manis, sampai aku tidak menyadari itu adalah senyum terakhirnya untukku sebelum kabar kematiannya terdengar keesokan paginya.
Seperti salju, sosoknya muncul tanpa diduga. Membawa rasa yang membekas ketika ia terjatuh di atas telapak tangan. Mencair kemudian hilang tanpa jejak.
Ia hanya hadir untuk membawa bahagia yang sementara. Persis seperti salju yang akan pergi ketika musim berganti.