Namaku Muhammad Albara Saktah.
Dalam ilmu tajwid, saktah ialah berhenti sejenak sekedar satu alif tanpa bernafas.
Seperti arti dari namaku itu, aku adalah seorang yang pendiam, tidak banyak bicara, dan jarang berbaur dengan teman seangkatanku.
Setahun yang lalu, aku telah berdiri bangga memegang ijazah serta mengenakan pakaian wisuda. Bangga karena termasuk dalam 3 besar siswa terbaik di SMA.
Hari ini,
aku akan pergi ke kampus.
Bis adalah transportasi ku sehari-hari menuju kampus. Memang hanya bis, tapi aku sangat bersyukur dalam kesederhanaan ini.
Sesampainya di kampus, aku langsung menuju ke perpustakaan untuk merevisi materi kemarin dan mencari buku serta mencari referensi untuk bahan skripsi.
Skripsi? Ya, semester awal sudah mencari bahan untuk skripsi memang terdengar cukup aneh. Tapi itulah aku, suka mempersiapkan suatu hal dari awal dan tidak suka menunda-nunda.
Kesunyian dan kedamaian adalah surga tersendiri bagiku.
Hingga tiba-tiba...
*BRUK
Suara yang cukup mengangguku untuk berkonsentrasi.
Padahal, suaranya juga tidak terlalu keras. Tapi cukup menganggu aku yang suka dengan ketenangan.
Aku seketika menoleh kearah sumber suara itu. Dan ternyata beberapa tumpukan buku jatuh berserakan dilantai, bersamaan dengan wajah bengong gadis cantik dihadapanku.
“Maafkan aku...
aku tidak sengaja menjatuhkannya.” Ucapnya dengan suara yang pelan.
Aku hanya mengangguk tanda memaafkan dia.
*BRUK
Lagi-lagi suara bising.
Aku menoleh kearah suara bising itu. Dan lagi-lagi gadis itu menjatuhkan sesuatu, sambil tersenyum dan menyatukan tangannya sambil menatapku, berharap aku memaafkannya sekali lagi.
Aku tidak menghiraukan dia, dan meneruskan ritual belajarku.
*BRUAKKK
Lagi dan lagi, suara yang sama. Bahkan lebih keras dari sebelumnya.
Aku yang mencoba untuk menahan emosi, berusaha agar tidak melabrak dan menyentak gadis itu, hanya karena suara buku jatuh.
Tapi, aku menghampiri gadis itu dan membantunya untuk membereskan buku yang berserakan karena ulahnya.
Setelah semua buku tersusun rapi dirak, aku menatap gadis itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Gadis itu balik menatapku dengan muka datarnya, tidak seperti tadi yang tersenyum sambil meminta maaf. Tapi kali ini, dia diam seolah tidak merasa bersalah.
Karena kesal melihat dia yang diam seperti itu, aku pun berkata, “Tindakanmu yang seperti itu sangat menganggu orang disini”.
“Freak”.
Aku membelalak dan ingin mengatakan sesuatu lagi padanya, tapi dia keburu keluar sambil menunjukkan ekspresi wajah yang seolah mengejekku.
Karena kejadian tadi yang membuatku tidak mood untuk meneruskan belajar diperpus, aku pun langsung menuju kelas untuk mengikuti materi pada jam pertama.
Siang hari yang terik.
Pada jam ini aku sudah pulang.
Kuliah pagi yang membuatku bersemangat untuk melanjutkan aktivitas selanjutnya sepulang dari kampus.
Berniat menuju bus way untuk segera pulang kerumah, tapi malah aku melihat didepan gerbang, ada seseorang menungguku. Ini yang membuatku malas untuk beraktivitas siang ini.
Aku mendekat kearahnya dengan terpaksa.
“Kak saktah...
mari ke pondok.” Ucapnya dengan senyum yang merekah diwajahnya.
Dia adalah Ahmad Hanif. Adikku. Nggak, lebih tepatnya adik-adikan ku.
Aku tidak menjawab ajakannya. Akan tetapi, dia menarikku keatas motornya dan menyuruhku untuk menyetir serta memboncengnya.
Sesampainya di Pondok Pesantren.
“Ayo kak, abi sudah menunggumu.” Lagi-lagi dia berkata dengan nada menyebalkannya.
“Dimana?” tanyaku.
“Di pendopo” jawabnya.
“Tapi aku akan kembali, ustadz sudah menungguku. Apa kakak nggak papa sendirian?” lanjutnya lagi.
Aku mengangguk, dan langsung menuju pendopo untuk menemui abi disana.
“Assalamu'alaikum abi” aku mengucapkan salam serta langsung mencium tangan abi.
“Waalaikumsalam” abi menjawab.
“Saktah...
bagaimana kuliahmu?”
“Seperti biasa abi”
“Abi ingin bertanya denganmu”
“Silahkan abi”
“Apa kamu tidak mau mengabdi dipondok putra bersama hanif nak?”
*DEG*
Inilah kata kata keramat yang terlontar dari mulut abi. Aku dari dulu sangat menghindari jika abi akan menanyakan hal ini.
“Aku tidak bisa abi” akhirnya kata itu yang keluar dari mulutku.
“Kenapa nak?” abi bertanya sambil mengerutkan keningnya.
“Karena aku tidak pantas” aku berkata begitu sambil menundukkan pandanganku.
“Astagfirullah saktah...
kamu tidak boleh bilang seperti itu nak”
“Tapi memang kenyataannya seperti itu”
“Pantas atau tidaknya seseorang, hanya Allah yang bisa memutuskan. Kita sebagai manusia hanya bisa berikhtiar untuk menjadi yang terbaik serta pantas dimata Allah” “sebenarnya apa yang membuatmu berkata seperti itu?”
“Sudah sangat jelas abi. Aku tidak se soleh hanif”
“Hanya itu?” “Jangan berkata begitu lagi nak. Kamu anak yang soleh”
“Kalaupun seperti itu, hanya hanif yang pantas abi”
“Kenapa?” dengan jutaan keheranan, lagi-lagi abi bertanya dengan kening yang berkerut.
“Bunda hanya menitipkan aku kepada abi, yang artinya aku bukan siapa-siapa” “sangat tidak tau diri jika aku mengabdi di pesantren ini, sedangkan aku bukan siapa-siapa disini”
“YaAllah.. Istighfar saktah...
kamu tidak boleh ngomong begitu” “Kamu sudah abi anggap seperti anak abi sendiri, kamu anak abi nak..”
Aku hanya diam.
Kemudian abi mendekat lalu memelukku dengan erat.
Merasakan sebuah getaran yang selama ini tidak kurasakan. KASIH SAYANG SEORANG AYAH.
Abi adalah orang yang memberiku kasih sayang sejak aku kecil. Walaupun aku kehilangan bunda pada saat umurku 8 tahun. Tapi abi sangat menyayangiku, mengingat almarhum ayah yang bersahabat baik dengan abi.
Ayah berpesan kepada abi untuk mengajariku ilmu agama, agar aku menjadi pemuda yang berakhlak serta berbekal ilmu agama yang cukup.
Akhirnya abi memutuskan untuk aku tinggal di pondok pesantren bersama hanif.
Aku tidak tau banyak tentang islam. Tapi abi pantang menyerah untuk mengajariku secara langsung tentang apa yang tidak ku ketahui.
Hingga aku mulai beradaptasi dengan lingkungan pondok pesantren, yang dari pagi sampai malam diisi dengan belajar, mengaji, bersekolah, menunaikan sholat, dan tidur.
Aku sedikit demi sedikit mulai lebih faham tentang islam, berkat ajaran abi selama ini.