Vina berjalan di bawah matahari yang bersinar dengan cerah di pagi hari. Pohon kelapa menghiasi pinggiran pantai, angin sepoi-sepoi menerpa rambutnya yang hitam panjang. Mata Vina bersinar-sinar ketika melihat pemandangan pantai yang indah itu.
Hari ini Vina jalan-jalan sendirian karena Erick tidak bisa menemaninya. Erick mengatakan ada urusan kantor. Erick adalah calon tunangannya. Mereka berdua akan bertunangan bulan depan. Vina sangat menantikan saat itu tiba.
Karena matahari pagi mulai meninggi, akhirnya Vina memutuskan untuk duduk di bawah pohon kelapa.
"Erick!".
Vina melihat seorang wanita cantik, tinggi bak model sedang melambaikan tangan sambil meneriakkan nama Erick.
Vina penasaran ingin tahu seperti apa pria yang memiliki nama seperti kekasihnya. Vina menoleh ke kanan dan dari kejauhan ia melihat pria tinggi, putih, dan tampan sedang melambaikan tangan pada wanita yang memanggilnya.
"Apa?" jantung Vina seperti akan copot.
Pria yang dipanggil oleh wanita cantik itu memang Erick, Erick kekasihnya. Wanita itu berlari ke arah Erick dan langsung memeluk pria yang Vina klaim sebagai kekasihnya.
Erick membalas pelukan itu dengan erat, bahkan wajahnya terlihat gembira dan senyumnya begitu lebar dan tulus. Ia membelai rambut belakang wanita itu.
Hati Vina remuk seketika. Erick yang berkata ada urusan kantor ternyata pergi ke pantai untuk bertemu dengan wanita itu. Erick kekasihnya yang ia percaya dapat setia ternyata menduakan cintanya.
Air mata menetes begitu saja dari mata Vina. Ia tidak tahan lagi melihat kemesraan kekasihnya dengan wanita lain. Ia sangat kecewa dan akhirnya memutuskan untuk pergi.
Ia berdiri lalu melangkah pergi. Samar-samar ia mendengar suara pria memanggilnya. Vina yakin itu adalah suara Erick yang memanggil namanya setelah melihat dirinya pergi. Tanpa peduli dan tanpa menoleh kebelakang, Vina terus melanjutkan langkahnya dengan cepat.
Hati Vina sangat sakit dan rapuh. Ia tidak menyangka Erick akan berkhianat.
"Mengapa kau baru menunjukkan kebusukanmu setelah aku sangat mencintaimu dan percaya padamu? Mengapa kau berkhianat di saat pertunangan kita sudah ditentukan? Mengapa?" Vina terus berbicara pada dirinya sendiri sambil menangis.
Tak sadar Vina berjalan ke arah jalan raya dan mulai menyeberangi jalan itu tanpa menoleh kanan dan kiri. Tiba-tiba terdengar suara memekakan telinga dan terdengar juga suara jeritan orang-orang. Vina menoleh ke kanan. Belum sempat ia mencerna apa yang terjadi, tubuhnya sudah dihantam oleh mobil pickup dan ia terpental jauh dari titik kejadian.
"Vinaaa!!"
Hanya suara itu yang dapat Vina dengar dengan jelas. Penglihatannya buram dan Vina hanya bisa menggerakkan jarinya lalu ia memejamkan matanya.
"Vina, Vina, bangun Vina, Vina!" Erick mengangkat kepala Vina ke pangkuannya.
Darah Vina sudah menodai jas dan kemeja yang Erick pakai. Air mata Erick mengalir deras. Ia terus menepuk pipi Vina agar wanita itu tersadar. Tapi percuma, Vina tidak dapat membuka mata.
"Ambulans, panggilkan ambulans. Cepat!" Erick membentak semua orang yang berkerumun. Ia sudah sangat panik.
* * * *
Sudah seminggu Vina koma di rumah sakit. Keluarganya bergantian menjaga Vina. Berbeda dengan keluarga Vina yang masih pulang ke rumah untuk istirahat, Erick sama sekali belum pulang ke rumah. Ia hanya berganti pakaian dan makan sekedarnya. Ia juga selalu berjaga semalaman menunggu Vina tersadar.
"Vina, aku mohon sadarlah. Aku bisa gila jika kehilanganmu" kata Erick berbisik lirih sambil terus menciumi tangan Vina yang terhubung dengan selang infus.
"Mengapa kau tidak mendengar saat aku memanggilmu? Mengapa kau terus pergi? Aku mohon Vina, buka matamu. Lihatlah aku di sini".
Bendungan air mata Erick kembali runtuh. Vina adalah separuh jiwanya, jika Vina pergi meninggalkan nya, maka ia tidak mungkin bisa meneruskan hidupnya.
"Erick" Lidya ibunya Vina memanggil nya.
Erick menoleh ke belakang untuk melihat sumber suara. Dilihatnya wanita paruh baya itu sedang menangis. Isak tangisnya bisa membuat siapapun ikut menagis.
"Ada apa Bu?" tanya Erick yang kini sudah berdiri.
"Tadi kami sudah menemui dokter, dan dokter itu mengatakan bahwa Vina...".
"Vina kenapa Bu?" Erick sudah tidak sabar. Jantungnya berdetak kencang karena tahu Lidya akan mengatakan suatu kabar buruk.
"Syaraf mata Vina rusak, dan dia akan buta" tangis Lidya pecah di tengah keheningan ruang rawat Vina.
"Apa? Tidak, tidak mungkin. Vina pasti tidak akan buta. Dia telah berjanji akan melihat wajahku menua bersamaan dengan nya. Tidak".
Erick kembali duduk di samping ranjang Vina. Ia mengusap kepala Vina yang di perban. Air mata terus jatuh. Entah sudah berapa kali Erick menangis dalam satu minggu itu.
"Bu, pasti ada donor mata kan?" tanya Erick pada Lidya.
"Tidak, kami sudah mencari donor mata yang cocok untuk Vina. Tapi kami tidak mendapatkan satu pun".
Jawaban Lidya membuat tubuh Erick lemas.
Ia duduk bersandar pada kursi sambil menatap wajah Vina. Cukup lama ia terdiam, akhirnya ia bangkit dari kursi.
"Vina, kau harus tetap melihat dunia ini" kata Erick langsung berlalu pergi meninggalkan ruangan.
Ia pergi meninggalkan Vina dengan Lidya di ruang rawat VIP itu.
* * * *
"Dok, apakah hasilnya cocok?" tanya Erick.
"Ya, hasilnya cocok" jawab dokter pria itu.
"Lalu kapan bisa dilakukan operasi nya?" tanya Erick.
"Lebih cepat lebih baik Tuan. Tapi saya harap Anda tidak menyesalinya" kata dokter itu.
"Silahkan tanda tangan" kata dokter itu lagi.
Dengan yakin Erick menandatangani sebuah surat kemudian ia menyodorkan surat itu pada dokter.
"Suster, siapkan ruang operasi" perintah dokter.
Suster yang di perintah itu langsung melaksanakan tugasnya.
Di lain tempat, keluarga Vina sedang duduk di ruang rawat Vina. Tak lama kemudian empat suster masuk dan berjalan menuju ranjang Vina. Keluarga Vina bingung dan tidak mengerti mengapa suster itu datang sedangkan jam pengecakan belum tiba.
"Suster, ini ada apa?" tanya Bram ayahnya Vina.
"Begini Pak, sesuai yang keluarga Bapak inginkan, pasien akan segera di operasi" jawab salah satu suster.
"Apakah sudah ada donor matanya?" tanya Lidya senang bukan main.
"Sudah Bu. 100% cocok dan 95% operasi ini akan berhasil" jawab suster itu ramah.
Kedua orang tua Vina menangis bahagia. Akhirnya putri mereka mendapatkan donor mata. Kedua orang tua Vina berjanji akan memberikan setengah harta mereka pada sang pendonor dan keluarganya.
Beberapa menit kemudian, Vina sudah berada di dalam ruang operasi. Semua peralatan sudah tersedia. Kini giliran menunggu sang pendonor datang.
Keluarga Vina menunggu di depan ruang operasi. Mereka menantikan kedatangan sang pendonor. Tiba-tiba mereka membelalakkan mata karena terkejut.
"Erick?".
Erick berjalan ke arah ruang operasi bersama dua orang suster. Ia sudah menggunakan pakaian steril dan penutup rambut. Ia tersenyum pada seluruh keluarga Vina. Sebelum ia masuk, Bram menghentikannya.
"Erick, apa yang kau lakukan? Jika itu membuat mu kehilangan indramu, aku tidak setuju" kata Bram dengan mata yang berkaca-kaca.
"Pak, aku sangat mencintai Vina, apapun akan aku berikan pada nya. Tolong izin kan aku untuk melakukan apa yang aku inginkan" kata Erick.
Keluarga Vina terharu pada cinta Erick yang begitu besar untuk Vina. Karena tidak ada yang berbicara lagi, Erick pun diminta oleh suster untuk segera masuk ruang operasi.
Erick melangkahkan kakinya menuju ranjang yang bersebelahan dengan ranjang Vina. Di sana ada Vina yang masih menutup kedua matanya. Erick berbaring di atas ranjang operasi. Ia menoleh ke kanan, menatap wajah Vina. Ia memandang wajah Vina dengan dalam. Ini adalah terakhir kalinya ia menatap wajah cantik Vina yang ia cintai. Setelah itu ia tidak akan bisa menatap wajah Vina untuk selamanya.
Dulu ia berangan-angan akan melihat wajah cantik kekasih hatinya menua, melihat anak dan cucunya, dan selalu memandang wajah Vina setiap pagi ketika bangun tidur. Tapi kini semua itu hanya sekedar angan-angan, ia tidak mungkin bisa mewujudkan nya.
"Vina, aku pernah berjanji pada mu aku akan memberikan segalanya untuk mu. Dan sekarang aku membuktikan dan menepati janjiku. Aku akan memberikan dunia ini untuk kau lihat. Jika kau sadar nanti, ingatlah, hati kita, cinta kita, dan mata kita semua itu bersatu dalam dirimu. Mulai sekarang aku akan melihat dunia lewat mataku yang akan menjadi milikmu. Berjanjilah untuk bahagia setelah ini".
Itulah kata yang diucapkan oleh Erick sebelum ia memulai operasi. Sang dokter meminta agar Erick berhenti memandang Vina karena operasi akan segera dimulai.
"Suster, ambilkan suntikannya dan hitung waktu operasi. Dimulai dari sekarang".
Lampu operasi menyala menyinari wajah sepasang kekasih itu. Dari luar, keluarga Vina melihat lampu tulisan 'operation' menyala pertanda operasi sudah dimulai. Mereka semua berdoa untuk kelancaran dan keselamatan dua orang yang sedang di operasi.
* * * *
Seminggu kemudian, Erick menemui keluarga Vina yang sedang berada di ruang rawat Vina. Matanya diperban dan ia berjalan menggunakan tongkat dan dibantu oleh suster. Keluarga Vina menyambut Erick dengan hangat dan air mata.
"Bu, apakah Vina masih belum sadarkan diri?" tanya Erick yang arah kepalanya entah ke mana karena tidak tahu posisi orang di sekitarnya.
"Belum, dokter memprediksi tiga hari lagi" jawab Lidya.
"Erick, kami tidak tahu harus berterima kasih dengan apa. Kami sangat berhutang budi padamu" kata Bram lalu memeluk Erick.
"Tidak perlu berterima kasih Pak. Justru aku sangat senang bisa memberikan sesuatu yang sangat berharga untuk Vina" kata Erick.
Erick berjalan sambil menggerakkan tongkatnya. Ia ingin berdiri di samping Vina. Dengan bantuan suster dan Bram, Erick berhasil berdiri di samping Vina. Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Vina.
Erick meraba kening, hidung, kelopak mata, pipi dan bibir. Ia tersenyum karena dari rabaannya ia bisa membayangkan wajah Vina. Ia menunduk dan mencium kening kekasihnya itu dengan lembut.
"Vina, aku akan selalu mencintaimu. Tolong berbahagialah tanpa diriku. Tidak mungkin aku bisa bersama mu dengan kondisiku yang sekarang. Aku tidak bisa lagi melindungi mu. Aku pamit, jaga dirimu baik-baik. Jaga kesehatan dan jangan manja. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu."
Erick berdiri tegak, kemudian berbalik.
"Pak, bulan depan aku akan pergi ke Australia. Aku akan tinggal bersama kedua orang tuaku. Aku titip hatiku pada Vina. Tolong carikan dia pria yang sangat mencintai nya dan bisa menjaganya dengan baik. Jika dia sadar nanti, tolong katakan aku pamit pergi dan aku sangat mencintai nya" kata Erick.
"Pasti. Terima kasih" kata Bram sambil menangis. Ingin sekali ia berbicara lebih banyak, tapi lidahnya tidak sanggup untuk bergerak.
Erick melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Semua mata keluarga Vina menatap kepergian Erick dengan mata yang berkaca-kaca. Mereka bisa merasakan apa yang di rasakan oleh Erick.
* * * *
Sebulan kemudian, Vina sudah pulih seperti semula dan sudah melakukan aktivitas seperti biasanya. Keluarganya tidak memberitahu bahwa sebulan yang lalu ia pernah hampir buta dan Erick mendonorkan matanya.
Sampai sekarang Vina masih membayangkan Erick memeluk wanita lain dengan erat. Hatinya tersayat dan marah. Ia tidak ingin menemui Erick sampai Erick yang menemui nya dan meminta maaf. Ia bertambah kesal ketika mendengar dari orang tuanya bahwa selama ia di rumah sakit, Erick tidak menampakan diri.
Vina sedang duduk di kafe sambil menikmati kopi hitam hangatnya. Tiba-tiba ia menahan nafas ketika melihat wanita yang waktu itu ia lihat memeluk Erick, kini sedang menggelayut di tangan pria lain. Vina menjadi penasaran. Ia berjalan ke meja wanita itu lalu menggebrak meja dengan keras. Sontak saja semua orang menoleh padanya.
"Siapa kau? Beraninya kau merebut kekasihku dan sekarang menempel pada pria lain. Apakah kau ini wanita bayaran?" kata Vina dengan amarah.
Tiba-tiba wanita itu bergantian menggebrak meja, "Tutup mulutmu! Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti. Jangan asal bicara ya" bentak wanita itu.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Kau bertemu dengan Erick di pantai lalu berduaan kan?" kata Vina sambil memelototi wanita itu.
"Eh dasar wanita aneh. Erick itu Kakak sepupuku".
Vina tersentak. Apakah yang dikatakan wanita itu benar?.
"Ini tunanganku. Jadi jangan kau menuduh orang sembarangan sebelum tahu dengan jelas. Apa yang kita lihat belum tentu sama dengan kenyataan." kata wanita itu lagi.
"Tapi, bagaimana mungkin?" kata Vina masih tidak percaya.
"Waktu itu aku baru tiba dari Australia. Kemudian aku menelepon nya dan meminta nya untuk datang ke pantai karena aku ingin memberikan oleh-oleh" jawab wanita itu.
"Oh, apakah yang dipanggil oleh Erick itu kau? Dia meninggalkan ku begitu saja karena mengerjar kekasihnya" kata wanita itu lagi.
Vina tidak berkata apapun. Ia masih terkejut, ternyata ia telah salah paham. Tanpa bicara lagi Vina langsung berlari keluar kafe. Ia ingin menemui Erick segera. Karena sekarang jam kantor, Vina memutuskan untuk menemui Erick di kantor.
* * * *
Vina sudah ke kantor Erick tapi mereka berkata bahwa sudah dua bulan Erick tidak ke kantor dan bahkan sekarang jabatannya sudah di serahkan pada sang asisten. Vina tidak banyak berpikir ia segera menelepon Erick. Sungguh disayangkan nomor Erick tidak bisa di hubungi. Akhirnya Vina memutuskan untuk pergi ke rumah Erick.
Vina sudah sampai di rumah mewah Erick. Ia mengetuk pintu dan tak lama kemudian sang asisten rumah tangga Erick membukakan pintu.
"Bi Putri, Erick ada di rumah?" tanya Vina.
Asisten rumah tangga Erick yang bernama putri itu tidak menjawab. Ia malah menatap bola mata Vina.
"Bi, kenapa memandang ku seperti itu? Tolong jawab, di mana Erick" kata Vina.
Putri malah menangis. Ia memeluk Vina.
"Kau mengingat ku pada Tuan Erick. Dia sangat baik."
"Apa maksudmu Bi?" tanya Vina.
"Seharusnya aku dilarang tuan untuk mengatakan ini. Tapi aku tidak tahan untuk merahasiakan ini" kata Putri sambil terus menangis.
"Tolong katakan apa yang Bibi maksud. Aku tidak mengerti".
Putri menceritakan semuanya pada Vina. Tidak ada yang terlewat dari ceritanya.
Vina terkejut dan hampir terduduk lemas jika tidak dipegangi oleh Putri.
"Sejak tuan menjadi buta, tuan tidak lagi ke perusahaan. Sekarang dia tidak ada di rumah ini dan tidak akan tinggal di sini lagi".
"Lalu di mana dia?" tanya Vina dengan air mata yang menggenang.
"Baru setengah jam yang lalu Tuan berangkat ke bandara untuk pergi ke Australia" .
Tanpa berkata-kata lagi, Vina langsung berlari pergi.
"Erick, tolong maafkan aku. Jangan pergi tinggalkan aku".
Vina menaiki mobilnya dan melaju menuju bandara.
Sesampainya di bandara, Vina langsung mencari penerbangan Internasional ke Australia. Sambil berlari ia terus mencari sosok Erick. Dari pihak informasi ia tahu bahwa lima menit lagi penerbangan ke Australia akan berangkat.
Dengan memegang harapan terakhir, Vina berlari menuju ruang tunggu. Dengan nafas yang tersengal-sengal, ia terus berlari sambil meneteskan air mata.
Setelah lima menit mencari, akhirnya Vina putus asa. Ia terduduk di lantai sambil menangis tersedu-sedu.
"Erick, aku mohon jangan tinggalkan aku. Maafkan aku, karena aku kau harus kehilangan penglihatanmu. Aku mencintaimu Erick, aku mencintaimu".
"Aku juga mencintaimu Vina".
Suara yang sangat dikenali oleh Vina terdengar dari belakang nya. Vina menoleh ke belakang dan ia bisa melihat pria yang ia cintai berdiri di belakang dengan memakai tongkat dan kacamata hitam.
"Erick?".
"Ya aku di sini. Aku belum pergi" kata Erick.
Vina berdiri dan langsung memeluk Erick dengan erat. Air matanya semakin deras.
"Jangan pergi, aku sangat mencintaimu" kata Vina semakin mempererat pelukannya.
"Aku juga sangat mencintaimu. Maafkan aku yang berpikir untuk pergi. Aku berjanji akan terus di sisi mu". kata Erick sambil membalas pelukan Vina.
Tamat