Hilang namun kembali datang...
Pelukannya yang hangat, mencintai seperti tidak ada batas.
Suaranya yang lembut, tatapannya yang membuatku hanyut. Semua ada pada dirinya, semua membuatku gila meskipun hanya dengan sentuhan kata.
Jika diibaratkan dengan nafsu, ia adalah gelora membara yang selalu ingin bersatu, merajut malam dalam detik keringat kebahagiaan. Ternyata itu mimpinya untuk gadis yang ia peluk empat tahun lalu saja.
Apa karena aku cantik kau sampai begitu ingin?
Tapi yang paling penting, hidupku sangat kacau dan susah, kamu mungkin tidak akan sudi.
***
Pengalaman dijadikan perisai, menjadi alasan semua orang ingin hidup terus-menerus. Katanya pengalaman adalah guru dalam hidup, namun sampai sejauh ini hanya aku yang belum mendengar pengalaman menasihati, mengajari dan membimbingku. Aku masih seperti wanita bodoh berumur lima belas tahunan dalam tubuh umur dua puluh dua tahun.
Penggila juara saat di SMA, tapi hidupku tak ubahnya daun kering yang beterbangan kesana kemari. Merajut asmara atau merajut peliknya hidup sama saja seperti anak remaja tahun 50-an yang tidak mengecap bangku SD walaupun hanya duduk dihalaman sekolah saja. Ya pantas, masa itu adalah masa kakek nenekku yang melarat, masa dimana pagi bubur malam nganggur.
Setelah lulus SMA aku kira akan mudah bertengker dikursi bos karena predikatku lulusan terbaik. Tapi nyatanya aku masih memperbudak betis kakiku untuk wara wiri di mall sebagai pelayan.
Arghhh... berpuluh-puluh kali kutarik napas dan menghembuskannya kembali dengan sekuat tenaga. Tepat ditengah hari dibawah terik matahari didepan gedung pencakar langit, lagi-lagi kunikmati makan siang hanya dengan semangkuk mie ayam, sebelum waktu dimana kedua betis kakiku terasa keram. Berdiri berjam-jam, mengelilingi produk dan mengikuti pelanggan. Didalam mall, diruangan yang bertengker berbagai macam pakaian, dimana harusnya aku sebagai pengunjung tetapi menjadi pribumi sebagai pelayan sejati. Sampai kini, ditempat ini, setiap hari dan setiap detik aku menunggu bagaimana masa itu datang. Menunggu seseorang yang mampu menyelamatkan kehidupanku yang sekarang.
Lelah namun harus melangkah, lagi-lagi ke toko yang bukan milikku. Sudah tiga tahun setelah hari pertama aku memutuskan untuk bekerja ditoko ini, menjadi wanita kepercayaan bos dalam memelihara tokonya agar tetap laris. Waktu yang bukan sebentar untuk mencapai peluang kejayaan. Jika kerja dikantoran mungkin sudah waktunya diangkat menjadi pegawai tetap, atau sudah mendapat gebetan pria yang berkantong tebal.
“mbak, bisa berikan saya kemeja maroon?”
Suara ini! aku benar-benar kaget. Bisa-bisanya melamun saat bekerja. Kelabakan rasanya kepergok oleh pelanggan sendiri. Tapi suara ini, suara yang tak asing. Apakah karena aku terlalu banyak pikiran.
‘ah, aku sepertinya sudah gila!’ tanganku gemetar, menyodorkan satu buah kemeja namun dia adalah pelanggan pertama yang tak ku sangka.
“NORI” suara yang khas terucap sangat keras. Kami sama-sama terpaku dalam detik yang tak disadari. Tubuh itu merangkulku erat, layaknya anak yang sudah lama tidak bertemu ibunya.
‘ini tidak benar, apakah pantas bagimu yang sekarang memelukku tanpa persetujuan?’
Aku hanya membeku, diam dan tak percaya. Nafasku tertahan dada bidangnya, sesaat dia menyadari dan melepaskan pelukannya.
“kau masih mengingatku kan?” “kenapa kau susah sekali dihubungi?”
“....”
“hei kau diam saja, apa kau berpikir kita sudah putus?”
Pertanyaan yang bertubi-tubi hingga membuatku frustasi. Apakah perlu aku menjelaskan dalam situasi ini? Lidahku terasa kelu. Tiba-tiba air mataku tergenang tanpa permisi.
“a..aku...” aku tak bisa melanjutkan kata.
“kau tak perlu cerita sekarang, aku tidak akan melepaskanmu lagi. Nanti sore aku akan menjemputmu kembali ke toko ini, kamu jangan kabur ya!”.
Tangan lembutnya mengelus-elus kepalaku. Sesaat punggungnya menjauh, kemeja yang ia minta tergeletak, mungkin karena saking kagetnya melihatku. Dia terlihat buru-buru, entah apa yang sudah membawanya kesini.
‘sebenarnya ini hanya kebetulan atau sudah direncanakan?’
‘dia menemukanku, kenapa bisa?’
Aku bertanya pada diriku sendiri, tentu jawabannya tak mungkin ada. Tapi yang terpenting, dia masih tampan dan bertambah keren.
‘ah sebenarnya apa pekerjaan dia sekarang? Mungkinkah dia sudah mendapat pekerjaan yang layak, atau mungkin sudah jadi bos dan semacamnya. Bagaimana jika dia tahu tentang kehidupanku yang sebenarnya?’
***
Pagi itu saat wisuda, dimana kehidupan SMA diakhiri oleh hari ini.
“kau harus janji, setelah kita lulus kuliah kita harus menikah”
“iya aku janji jiho”
“aku mencintaimu, apakah kau benar-benar tidak akan ikut denganku?”
“aku tidak ada niatan kuliah diluar negeri, kamu kan tahu sendiri keadaanku”
“aku mengerti, tapi saat ini aku belum bisa membantumu”
“kau tidak perlu sedih begitu, aku akan kuliah di bandung kok”
“baiklah, walaupun kita harus menunggu empat tahun tapi aku tidak ingin kita putus, kita harus bertukar kabar minimal satu hari sekali ya”
“iya iya.. kamu benar-benar cerewet ya, padahal kamu yang akan meninggalkanku”
“hei biarpun aku keluar negeri tapi aku tidak akan tergoda oleh wanita lain disana”
“baguslah, kau memang laki-laki terbaik. Aku berjanji akan menikah denganmu”
Aku masih ingat binar kebahagiaan diantara kami saat itu, bahkan setelah lulus sampai satu tahun selanjutnya kami masih bertukar kabar. Tapi selama itu pula aku merasa bersalah, setiap hari aku menciptakan kebohongan tentang kegiatan kampus pada jiho, padahal aku hanya termangu didalam rumah.
Saat aku sadar bahwa kesempatan kuliahku mustahil terjadi, aku ingin memulai hidup baru, mencari kerja dan melupakan jiho. Ibu menyetujui pekerjaan yang aku dapatkan, mungkin itu lebih baik dibandingkan hanya menjadi pengangguran. Tapi kini lain, dalam kenyataan aku bertemu kembali dengan seseorang yang entah akan menyelamatkan atau mungkin tidak akan mampu menerima kenyataan.
Air mataku tak pernah berhenti menggenang, sesekali menetes membuatku berkali-kali menyekanya. Duduk disamping lelaki yang pernah aku cintai, berduaan dimobilnya yang begitu mewah, sedang aku hanya memakai baju lepek oleh keringat.
“apa kau menangis?” “ya ya bagus, kau harus menangis karena telah kabur dariku”.
Perkataan yang tidak pernah berhenti terucap, namun aku belum siap bahkan hanya memandang wajahnya.
“HEI APAKAH KAU AKAN DIAM SAJA?, APA KAU TAHU BETAPA MENDERITANYA AKU SELAMA TIGA TAHUN INI HAH?”
Tiba-tiba suaranya meninggi, bahkan aku tidak percaya itu adalah jiho. Rasanya tak bisa aku tahan, jiho sudah berubah menjadi lelaki dewasa yang menakutkan.
“HEI APAKAH KAU PIKIR AKU TIDAK MENDERITA JUGA HAH?” Aku benar-benar hilang kendali, jiho yang disampingku terpaku dan memarkirkan mobilnya dipinggir jalan.
“kau harusnya bahagia, kau sudah lulus kuliah dengan tenang diluar negeri, kau sudah mendapat pekerjaan, kau sudah mampu membeli barang mewah, kamu punya segalanya jiho”
“hahhh apa kau bercanda?” ujar jiho dengan raut muka kesal.
“selama tiga tahun kau hilang, apakah kau telah bertemu laki-laki impianmu di kampus?. Bahkan sampai saat ini sekalipun aku tak bisa pacaran gara-gara kamu” imbuh jiho masih dengan kekesalannya.
“AKU TIDAK KULIAH JIHO, AKU MENJADI TUKANG KULI, TUKANG KULI, APA KAU PUAS?” aku berteriak sekencang-kencangnya, aku menangis tanpa menghiraukan sekitar. Seketika aku merasakan tubuh yang hangat itu memelukku kembali, memeluk kedua kali setelah kami berpisah.
“maafkan aku, ayok kita pulang dulu saja”
Dalam dekapannya aku mendengar suara jiho melemah dan terdengar lembut, dia menenangkanku.
“turunkan saja aku disini, sepertinya stasiun tidak jauh dari sini”
Kali ini aku memang egois, tapi aku tidak tahan jika harus satu mobil dengannya lebih lama lagi.
“kamu gila ya, betapa susahnya aku mencarimu di mall tadi. Aku sampai menghubungi teman-temanmu untuk mencari tempat kerjamu” elak jiho dengan segera menghidupkan kembali mobilnya, dia benar-benar tidak berniat melepaskanku kali ini.
“jiho sudahlah, semuanya sudah berlalu lebih baik lupakan saja tentang kita”
“apa maksudmu?”
“kita pu..”
“hei apa yang akan kau ucapkan, aku menunggumu selama empat tahun kenapa tiba-tiba kamu ingkar janji? KITA TIDAK AKAN PERNAH PUTUS” ujar jiho dengan tegas setelah memotong ucapanku yang belum semuanya ku keluarkan.
“jiho aku tidak kuliah, selama satu tahun aku berbohong padamu, jadi lepaskan saja aku”
Urat panasku akhirnya mereda, dengan perlahan ku utarakan dengan jujur apa yang sebenarnya terjadi.
“kenapa kamu berbohong? Kenapa kamu ngga bilang kalau kamu kerja disini?” tanya jiho, dia kembali menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Entah apa yang jiho pikirkan, tapi ekspresinya saat ini membuatku merasa bersalah.
“saat itu aku takut kita putus”
“lalu sekarang kamu tidak takut putus? Apakah sebegitu perlunya aku dengan status mahasiswamu? Harusnya kamu jujur nori”.
“kalau begitu kita akhiri saja karena aku sudah tidak jujur”
“tidak, kita akan menikah. Aku sudah berjanji jadi tidak ada alasan untuk berpisah”
“ta.. tapi” lidahku kembali kelu, semuanya diluar akal sehatku. Akhirnya jiho hanya meneruskan perjalanan tanpa kata. Aku mengerti perasaannya, tapi aku tidak mengerti keputusannya. Hingga saat didepan rumah aku buru-buru keluar tanpa mengucapkan terimaksih atau maaf. Aku seperti hilang akal, seperti anak SMA yang bertengkar dengan kekasihnya.
“hei matamu sembab begitu, apa ada masalah?” tanya ibu curiga dengan kedatanganku yang kusut. Berbeda dengan ayah yang sedang menikmati kopinya hanya sekilas memandangku. ‘ah suasana yang membosankan’
Tanpa menjawab aku buru-buru mengunci diri dikamar, membenamkan tangisan pada bantal guling, memutar musik dengan volume full. Aku berharap ini akan menyembunyikan tangisku, terserah apa tanggapan ibu dan ayah diluar, tapi saat ini aku tak ingin bercerita.
“Assalamualaikum..” samar terdengar kembali suara jiho didepan rumah, terhalang oleh frekuensi musik yang sedang ku putar hingga mengantarkanku ke alam mimpi, tanpa tahu setelah beberapa menit selanjutnaya ada seseorang yang masuk kerumah dan meminangku.
***
Jiho cinta pertama saat SMA, hilang namun kembali datang.
Tanpa berpikir dua kalipun aku pasti menerima lamarannya, walaupun benar-benar tidak masuk akal. Aku pernah tergila-gila padanya, mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan ini. Hanya dia yang perkasa berani melamarku tanpa ku tahu maksudnya. Tapi aku yakin semua akan kembali seperti semula. Kami sama-sama masih saling cinta!
Aku tidak bisa mendeskripsikan kembali apa yang selanjutnya terjadi. Hatiku antara senang dan hilang.
Apakah ini keberuntungan yang dikirim tuhan? Atau hanya kebetulan karena aku terlihat kasihan. Kicau burung saja tidak dapat kumengerti apalagi luas kehidupan ini. Aku duduk disebelahnya setelah hari lamaran itu. Hari ini adalah hari pelaksanaan pernikahan, hubungan kami masih kaku bahkan aku banyak terdiam.
Bantu aku tersenyum, akan ku lukis lengkungan senyum dibibirku yang paling manis untuk seorang saja. JIHO!
“aku mencintaimu, mari kita mulai hal yang baru dari hari ini” jiho kembali memelukku hangat dan lagi-lagi membuatku menangis. Aku percaya, mulai hari ini jiho adalah jiho untukku.
Untuk yang maha kuasa, terimakasih.