"Hati-hati Anneth ... !" teriak seorang wanita cantik nan semampai mengikuti langkah bocah kecil yang berlarian di terminal kedatangan dari Bandara kota tempat tujuan keduanya.
"Ah, Momo saja yang lelet! Ayolah kita sudah tiba di kota asal Momo!" celoteh Anneth, gadis kecil berumur 4 tahun yang sangat antusias karena sang Momo sapaan akrab pada sang ibu yang telah mengajak gadis kecil itu ke tanah kelahiran sang ibu.
Sudah lima tahun ini, Adelia meninggalkan negara kelahirannya. Ia teringat ketika dengan wajah penuh kebencian meninggalkan tempat yang telah lama memberikan banyak kebahagiaan untuknya. Semua itu karena sebuah kesalahan bodoh yang ia lakukan dan membuatnya terpaksa harus menyingkir dari hiruk-pikuk dunia keartisan yang telah lama digelutinya.
Iya, Adel telah menghancurkan masa depannya sendiri dengan jatuh ke kubangan lumpur penuh penyesalan. Saat itu usianya baru menginjak 22 tahun. Mantan pekerja seni hiburan tersebut harus mengubur semua impiannya karena sebuah kesalahan fatal yang ia lakukan.
Karena kecerobohan Adel lah ia kini harus kehilangan semua yang telah lama ia capai. Adel harus merelakan semuanya dan meninggalkan apa yang ia punya ketika sang manager memberi tahu bahwa ia harus pergi berlibur ke luar negeri untuk menutupi kehamilannya.
Saat itu Adel telah mengandung janin berusia 5 Minggu karena sebuah kebodohan yang dia lakukan. Pada malam gala dinner di atas sebuah kapal pesiar, Adel yang kala itu menjadi salah satu tamu yang diundang oleh salah satu pemilik perusahaan hiburan.
Karena kecerobohan Adel yang meminum minuman keras membuatnya salah memasuki kamar yang telah dipesan untuknya. Karena pengaruh alkohol yang tak bisa ditolerir oleh tubuhnya, membuat Adelia kehilangan kesadaran dan ia tak mengingat momen apapun malam itu.
Hingga paginya, ia terbangun dalam keadaan cukup payah tanpa selembar busana yang ia kenakan, dan mendapati dirinya telah berada di ranjang king size bersama pria yang tidak ia kenal sama sekali. Kala itu Adel melihat pria yang tengah tertidur dengan pulas Adelia lalu buru-buru membereskan sisa pergulatan antara dirinya dengan pria tak dikenal tersebut tanpa mengingat sama sekali apa yang telah Adel lakukan.
Dengan langkah seribu, Adel meninggalkan kamar pria tak dikenal tersebut. Apalagi dia tidak tahu seperti apa pria yang telah menghabiskan malam bersamanya, yang ia tahu ia telah melakukan hal hina bersama dengan orang asing yang tidak ia kenal sama sekali. Kini, hidupnya telah hancur akibat kelalaiannya sendiri.
"Sialan, Maria akan memarahiku! betapa bodohnya aku telah memberikan malam pertamaku dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal." kutuk Adel pada dirinya sendiri.
Bahkan saking ia tergesa-gesa, Adel melupakan sebuah benda yang selalu ia bawa ke manapun ia pergi. Ponsel, ia Adelia melupakan benda pintar tersebut tergelak begitu saja di atas nakas kamar pria tak dikenal tersebut.
Tak ingin kembali lagi, Adel lebih memilih mengikhlaskan saja benda pribadinya tersebut tertinggal. Lebih baik ia segera menuju kamarnya untuk menemui Maria sang manager.
Dengan tertatih Adel berjalan sambil menahan rasa perih akibat perbuatan yang ia lakukan bersama pria itu. Sambil meringis menahan nyeri Adel berusaha menggapai handle kamar dan segera mencari Maria.
Begitu ia melihat sang manager masih terlalu dalam tidurnya, Adel segera menumpahkan semua air mata yang ia punya pada wanita yang telah lama bekerja bersama dengannya.
"Maria .... hiks ... hiks ... kini nasibku telah hancur!" isak Adel dalam tangisnya.
Maria yang mendapati sang artis tiba-tiba datang dan membangunkan dirinya dengan keadaan memperihatinkan tak kuasa larut dalam kesedihannya. Maria lalu memeluk Adel. Wanita yang berumur dua tahun lebih tua dari Adelia kini menenangkan sang artis yang sedang berduka.
"Tenanglah Del, bicarakan dengan pelan-pelan agar aku bisa tahu masalahnya!" pinta Maria mengelus-elus kepala Adel dengan lembut.
Adel menjelaskan keseluruhan cerita yang ia ingat mulai dari ia minum terlalu banyak hingga ingatan itu mulai meredup dan ia terbangun bersama pria yang tidak ia kenal.
"Kau ingat seperti apa wajahnya? Siapa pria yang telah mengambil malam pertamamu?" tegur Maria dengan tegas seperti ibunya sendiri.
"Aku tak tahu identitasnya Maria, kurasa dia juga bukan pria baik! buktinya dia memanfaatkan kebodohanku! yang jelas dia pria yang berperawakan tinggi dan besar," Adel menjelaskan apa yang ia ingat pada Maria.
*
Sedangkan di dalam kamar presiden suit sebuah kapal pesiar, seorang pria baru saja terjaga dalam tidurnya. Pria tampan, tinggi dan besar seperti yang Adel jelaskan membuka matanya dan mendapati tempat tidurnya begitu acak-acakan.
Pria yang bernama lengkap Bhra Wijaya tersebut mengingat apa yang ia lakukan semalam. Ingatan yang ia kumpulkan, mengerucut pada sebuah benda yang tergeletak di atas nakas di samping ia berdiri. Bhra melihat sebuah ponsel dengan wallpaper sebuah wanita yang tengah tersenyum manis di sebuah tempat shooting.
Bhra sapaan akrabnya kurang tahu identitas wanita tersebut. Namun ia tahu bila wanita tersebut merupakan seorang pekerja seni dari background tempat ia berfoto.
Bila wanita ini menginginkan uang darinya, ia tidak mungkin pergi begitu saja sebelum ia meminta bayaran atas servisnya malam ini. Tak seperti wanita-wanita yang pernah Bhra kencani sebelumnya, wanita ini begitu lain. Hingga Bhra menelisik keseluruhan kamarnya untuk menemukan sedikit identitas dari wanita tersebut. Bukan jejak yang Bhra dapatkan, tapi ia menemukan sebuah noda merah yang menandakan bahwa wanita tersebut baru pertamakali melakukan hal seperti itu dengannya.
Dengan geram Bhra melempar ponsel tersebut ke sembarang arah. Ia merasa telah dipecundangi oleh wanita tersebut. Karena yang selama ini terjadi Bhra lah yang selalu meninggalkan para wanita penghangat malamnya bukan wanita seperti ini yang telah meninggalkan dirinya.
"Sialan! siapa wanita yang berani meninggalkan aku dalam kondisi seperti ini?" gumamnya mengepalkan tangan.
Cukup mudah bila Bhra ingin mendapatkan identitas wanita tersebut. Hanya dengan sekali hentakan saja, Bhra yang merupakan pemilik kekuasan mampu mendapatkan apapun.
Apalagi dunia hiburan ada dalam genggamannya. Bhra adalah putra tertua dari pendiri sebuah perusahaan yang bergerak di dunia hiburan. Perusahaan tersebut telah memproduksi puluhan bahkan ratusan film serta menelurkan banyak bibit-bibit unggul dari ajang pencarian bakat.
Rumah produksi adalah istilah umum dalam industri kreatif yang merujuk kepada perusahaan yang menyokong produksi karya-karya audio, visual, audiovisual, dan acara televisi atau radio sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku di suatu negara.
Rumah produksi merupakan sebuah badan usaha yang mempunyai organisasi dan keahlian dalam memproduksi program-program audio dan audiovisual untuk disajikan kepada khalayak, baik secara langsung maupun melalui broadcasting house. PH juga mengelola informasi gerak atau statis di mana informasi yang didapat bersumber dari manusia ataupun peristiwa yg ada. Rumah produksi memiliki beberapa karakteristik yang berbeda dengan perusahaan lain, diantaranya masa kerja relatif 24 jam sehari, tidak bekerja berdasarkan birokrasi, aturan luwes, demokratis, kreatif, saling menghargai, saling percaya, dan saling pengertian di antara pimpinan dan pelaksana.
Dengan kekuasaan Bhra, sangat mudah bila ia menginginkan identitas dari wanita yang telah menggantikan malam bersama dengannya. Apalagi malam itu ia juga tidak sepenuhnya menyadari apa yang telah ia perbuat.