Kopi Kenangan, 28/11/21:(22.40 WIB).
Hai..Angga! Apa kau ingat aku? Aku Aleandra Kusuma Dewi, temen kecil kamu. Orang tuaku dan teman-teman memanggilku "Alea", tapi kau satu-satunya orang yang memanggilku "El". Kamu masih ingat nggak? Dulu kita pernah berpura-pura sakit hanya karena gak mau ke sekolah. Sejak SD sampai SMA, kita selalu bersama. Namun, sejak saat itu kita terpisah. Kau yang saat itu pernah berjanji untuk selalu bersamaku, terpaksa pergi karena keadaan.
Ga, ini adalah surat pertamaku yang ku tulis untukmu. Surat ini ku tulis di tempat yang sama, tempat yang dulu kita datangi, dan juga tempat dimana kita berpisah. Tempat ini ga ada yang berubah, Ga. Aku duduk di kursi dan meja yang sama, nomor yang sama, view yang sama, dan tentu saja kopi yang sama. Semua masih sama di tempat ini.. kecuali satu hal, ketidakhadiranmu.
Angga Arya Wijaya. Begitulah aku memanggilmu ketika mulai kesal dengan tingkahmu yang kadang-kadang selalu usil dan jail. Kau tahu, setelah bertahun-tahun kau pergi. Tempat ini adalah satu-satu tempat yang selalu ku datangi. Sampai-sampai, Bang Umang sang pemilik kafe..sudah sangat hafal tempat duduk dan kopi yang selalu ku pesan.
Angga...Sejak kau pergi, aku masih percaya dengan pesanmu ketika itu. Kau pernah bilang bahwa kau akan kembali, kau menyuruhku untuk menunggumu. Saat itu kau memintaku untuk berjanji, hingga saat ini aku masih menepati janjimu, Ga. Aku harap, kau juga menepati janjimu. Dulu..kau pernah bilang bahwa menunggu adalah hal yang paling menyebalkan, tapi..kenapa kau selalu membuatku menunggu.
El.
~~~
Sudah hampir tiga bulan aku mengirimkan surat untuk Angga, namun hingga saat ini suratku tak kunjung ada balasannya.
Oh Ya, perkenalkan namaku Aleandra Kusuma Dewi. Mama, papa, dan teman-teman selalu memanggilku "Alea". Namun, ada satu orang yang memanggil namaku berbeda dari yang lain. Angga, dia selalu memanggilku "El".
Sempat aku bertanya mengapa ia memanggilku demikian, dan jawabannya cukup membuatku kesal.
"Nggak apa-apa. Biar mudah aja, dan nggak ribet.." begitu katanya.
Angga adalah pria yang tidak mau ribet, dari dulu. Dia tampak terlihat santai, bahkan ketika SMA dulu. Seringkali, dia mengomel jika guru memberikan kami tugas yang bisa dibilang cukup ribet. Dan Angga sangat-sangat membenci hal itu.
Aku dan Angga saling mengenal sejak kami masih kecil, aku lupa usia kami saat itu. Rumah kami berdekatan, bisa dibilang kami adalah sahabat sejak kecil. Usia kami pun hanya terpaut setahun, Angga lebih tua setahun dariku.
Oh ya, sekarang usiaku sudah menginjak 23 tahun. Dan saat ini, aku sedang menyelesaikan studi S2 ku di salah satu universitas negeri di kota ini. Sejak lulus SMA, aku sudah mulai belajar mandiri. Sebenarnya, belajar mandiri juga bukan satu-satunya alasanku saat itu. Alasan utama, karena aku ingin menyibukkan diri dengan bekerja. Sehingga aku bisa mengalihkan perhatianku, melupakan kesedihanku yang pada saat itu ditinggal Angga.
Semuanya berawal ketika aku dan Angga sedang merayakan kelulusan kami. Siang itu, setelah pengumuman kelulusan sekolah. Angga mengajakku ke sebuah kafe yang pernah sekali kami datangi sebelumnya. Ketika teman-teman lainnya memilih untuk konvoi, sebagai perayaan. Aku dan Angga, memilih merayakannya di Kopi Kenangan.
Motor matic milikku melaju sempurna melewati jalanan kota, menuju tempat yang kami tuju. Angga yang mengendarai sepeda motorku, sementara aku dibonceng olehnya. Gerimis hujan, mulai meninggalkan tetesan-tetesan air di kaca helmku.
"Ga, girimis nih. Gimana dong? Di bagasi nggak ada mantel" Ucapku sedikit mengeraskan suaraku agar didengar Angga.
"Apa..?" Sahutnya yang juga sedikit teriak, sambil menurunkan kecepatan laju motornya agar bisa mendengarku.
"Gerimis..Gerimis, Ga.." Ulangku.
"Nggak ada mantel ya?" tanyanya.
"Enggak" Jawabku.
Setelah itu, aku tidak mendengar lagi Angga menjawab. Ia hanya diam dan kembali melajukan kecepatannya. Tiba-tiba, Angga berhenti tepat di sebuah Supermarket. Ia masuk dan meninggalkanku yang masih kebingungan di parkiran, dengan helm yang masih terpakai sempurna di kepalaku.
Beberapa menit kemudian, Angga keluar membawa dua benda yang aku yakin habis dibelinya dari supermarket itu.
"Apa itu?" Tanyaku bingung
"Mantel" Jawab Angga singkat
"Kamu beli?"
"Enggak, aku ngutang El" jawabnya dengan wajah serius.
Melihat ekspresinya membuatku tercengang. Antara percaya dan tidak. Aku percaya karena Angga selalu nekat, terlebih ekspresinya yang cukup meyakinkan itu. Namun, di sisi lain aku tidak percaya ada orang yang bisa hutang di tempat ini. Bahkan itu sangat mustahil bagiku.
"Ahahaha...Apaan sih El, serius banget mukanya. Yakali aku ngutang...Ahahaha, Ya ampun El'ku ternyata selucu ini ya mukanya kalo dikerjain.." Ucapnya tiba-tiba ketawa, sambil mencubit pipiku. Sementara aku, hanya menatapnya dengan wajah cemberut dan bibir yang sudah membentuk sebuah kerucut.
"Udah yuk..Nih, pake yaa. Aku sengaja beliin kamu warna pink.." Ujarnya sambil memberiku mantel yang warnanya pink.
"Kamu kok beliin aku warna pink sih..? kan kamu tau aku nggak suka pink.." Ucapku protes
"Sengaja. Biar apa..? Biar orang tau, kamu itu punya jiwa cewek.. Lagian ya, cewek tuh identik dengan warna yang kecewek-cewean ..bukan hitam melulu. Hidupmu nggak ada warna El, suram banget. Sumpah.." Ucapnya panjang lebar.
"Angga Arya Wijaya.." Teriakku karena kesal
"Iyaaaa...Eleandra Kusuma Dewiiii"
"Alea..Namaku Aleandra Kusuma Dewi.." Teriakku mempertegas
"Oh iya Elea, udah yuk berangkat. Ntar hujannya makin deras loh.." Jawabnya yang lagi-lagi membuatku kesal
"Iss...Angga, apaan sih. Alea.. A.L.E.A. Alea.." Tegasku sambil melayangkan satu pukulan di lengannya.
"Aw..sakit. Iya-iya Aleaaaaa..Yuk, kita berangkat ya Nona.." Ucap Agga sengaja menggodaku, agar tertawa. Dan benar saja, godaan recehnya itu berhasil membuatku tertawa.
Kami melanjutkan perjalanan. Lokasi yang kami tuju, cukup jauh dari kota. membutuhkan waktu hampir satu jam untuk sampai di sana. Di jalan, aku merasa lapar karena belum makan sama sekali sejak pagi. Akhirnya Angga pun menuruti permintaanku untuk berhenti tepat depan gerobak bakso di pinggiran jalan. Kami makan sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan.
Motor matic ku berhenti tepat di parkiran kafe, hujan pun semakin deras. Angga membantuku melepaskan helm dan mantel yang kupakai. Setelah itu, kami masuk dan memilih tempat duduk yang berada tepat di pojok. Kafe ini sepi, hanya aku dan Angga pelanggan yang ada. Dihari biasanya juga memang sepi, hanya ada beberapa orang saja yang datang.
"Tunggu sebentar, aku pesan minumannya dulu.." Ucap Angga, aku pun hanya mengangguk mengiyakan.
Sejak pertama kali datang ke kafe ini, aku sangat menyukai tempatnya. Sangat nyaman, tenang, dan bisa membuat penatku hilang. Selain itu, aku juga menyukai kopi dan makanan di sini. soal harga..bisa dibilang cukup bersahabat, dan tentu saja kopi dan makanannya enak.
"Indah..." Gumamku ketika pandanganku tertuju pada pemandangan yang ada di sampingku.
"Indah? Siapa dia?" tanya Angga yang tiba-tiba saja datang.
"Viewnya." Jawabku masih dengan posisi yang sama.
Angga pun mengikuti arah pandangku, kemudian ikut bergumam.
"Tempat ini memang indah, menarik, dan cukup unik menurutku.."
Sontak aku menoleh melihatnya, sambil mengangkat sebelah alisku dan memposisikan tangan kananku menahan dagu.
"Apa?" Tanya Angga yang juga menatapku
"Kamu sering kesini sebelumya?" Tanyaku
"Emm..Hmm yah. Sering" begitulah jawabannya.
"Sering? Sama siapa?" Tanyaku
"Sendiri..Aku sering kesini sendirian. Sejak kelas satu SMP.." jawabnya cepat
"Kok bisa..?"
"Yaa, bisalah.." Ucapnya
Angga mulai menceritakan semuanya. Ada alasan mengapa ia menemukan tempat ini, baginya Kopi Kenangan adalah rumah kedua untuknya. Di sini, ia bisa menenangkan pikiran, melupakan masalahnya sejenak, dan menikmati waktunya tanpa suara-suara yang selalu membuatnya stress.
Angga mulai menceritakan masalahnya yang selama ini tidak aku ketahui. Ia bahkan memendamnya sendirian, dan menjadikan tempat ini adalah pelarian dari masalah yang dihadapinya. Ia mulai bercerita tentang kedua orang tuanya yang seringkali bertengkar, ia bercerita tentang sang ayah yang selalu pulang dalam keadaan mabuk dan berantakan, ia menceritakan sang ibu yang selalu fokus dengan karirnya sebagai seorang pengusaha yang selalu sibuk hingga tidak pernah punya waktu untuknya.
Setiap kali sang ayah pulang, selalu saja berakhir dengan pertengkaran hebat. Hingga membuat beberapa perabotan rumah hancur tak berbentuk. Kemudian Ibunya yang juga tak mau kalah dan memulai percekcokan, hingga berakhir dengan meninggalkan rumah. Angga yang usianya baru menginjak remaja, sangat-sangat terganggu. Tidak hanya itu, ia mengaku hampir gila jika tidak memiliki aku dan menemukan tempat pelariannya ini.
Selama bercerita, terlihat jelas raut wajahnya yang begitu terluka dan kecewa. Kemudian ia pun melanjutkan ceritanya. Beberapa saat kemudian, minuman dan camilan pesanan kami datang.
"Mas Angga, pesanannya..Kopi Kenangan dan roti rindu." Ucap seorang pria yang terlihat masih cukup muda. Ia tersenyum sumringah sambil meletakkan pesanan kami di meja.
"Selamat menikmati. Mas Angga, dan mbaknya...?"
Seolah paham maksudnya, aku pun segera menjawab pertanyaannya.
"Alea"
"Mbak Alea..." Ulangnya, sambil tersenyum ramah. Kemudian pergi meninggalkan kami. Aku dan Angga pun menikmati kopi dengan camilan yang namanya cukup unik, roti rindu.
"Mengapa Kopi Kenangan? dan mengapa Roti Rindu?" Tanyaku sebelum menyeruput segelas kopi yang kupegang.
"Ada cerita dibalik nama ini..." Jawab Angga yang masih membuatku bingung
"Apa itu?"
"Kamu akan tahu, jika kamu sering berkunjung.." Ucapnya. Lagi-lagi membuat alisku mengerut
"Apa sih, kok nggak jelas.."
"Maka semua akan jelas pada waktunya.."
"Ngomong apa sih, Ga. Aku butuh jawaban dari pertanyaanku, bukan kejelasan yang kau katakan.."
"Apa kejelasan dan jawaban berbeda?"
"Jelas bedalah, Ga." jawabku yang sudah mulai terlihat kesal
"Oh gitu. Yaudah, berati kamu akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu setelah kamu mengenalnya" Ujarnya.
"Astaga. Angga Arya Wijayaaaaa.."
"Iyaa.. Aleandra Kusuma Dewi"
"Aku capek berdebat sama kamu" Ucapku kesal
"Maka sudahi perdebatan ini. Minum kopimu dan habiskan rotinya. Hmm.."
Saat itu aku benar-benar dibuat kesal olehnya. Angga benar-benar, dia selalu saja membuatku kesal. Tapi anehnya, aku menyukai itu. Aku menyukai ketika berdebat dengannya tentang hal-hal kecil.
Dua jam berlalu kami berada di tempat ini. Menikmati secangkir kopi Kenangan dan seporsi roti rindu, di tempat yang unik dan cukup jauh dari peradaban kota. Cukup lama kami terdiam setelah perdebatan tadi, bukan karena kami bertengkar. Tapi karena kami sibuk dan menikmati detak jam unik yang berada di ruangan itu. Meski sibuk dengan pikiran masing-masing, namun pandangan kami tertuju pada objek yang sama. Yaitu hamparan dataran rendah yang dipadati rumah penduduk dan gedung-gedung tinggi.
Tiba-tiba dering ponsel membuyarkan pikiran kami, aku dan Angga melihat ke dua benda yang kami letakkan di meja tepat di depan kami. Ternyata ponselku yang berbunyi. Tertera nama penelpon di layar itu, Mama.
"Halo, Ma.."
"..."
"Iya, Ma.."
"..."
"Enggak, kami nggak konvoi kok. Alea dan Angga lagi di kafe"
"...."
"Enggak, Kopi Kenangan" Ujarku. Namun, tiba-tiba panggilan itu mati.
Kuletakkan kembali ponsel itu di tempat semula.
"Ada apa?" tanya Angga
"Mama nanya kita di mana. Mungkin mama mikir kita ikutan konvoi" Jawabku menebak
"Oooh..Mau pulang?" Tanya Angga
"Enggak, aku masih betah di sini. Kita pulang maleman ya, aku pengen liat pemandangan kota di malam hari. Sepertinya bagus.." Ujarku
"Oke..kita pulang malem"
Hari sudah semakin sore, lampu-lampu sudah terlihat di tengah kota. Langit pun sudah siap menyambut malam. Aku dan Angga masih setia menunggu lautan bintang yang memenuhi kota kala malam hari. Hingga tiba-tiba kami dikejutkan dengan seorang wanita yang sudah berdiri di hadapan kami. Tak hanya aku, Angga pun ikut terkejut.
"Mama.." Ucapnya terkejut
"Angga, ayo pulang. Ikut mama, kita harus pergi sekarang" Ujar wanita yang dipanggil Angga Mama. Wanita itu terlihat terburu-buru
"Pergi? kemana Ma?" Tanya Angga bingung
"Kita akan keluar negeri"
"Nggak. Aku nggak mau.."
"Angga. Kamu harus ikut mama, apa kamu mau hidup dengan pria kasar itu? Hah?"
"Enggak, Ma. Aku nggak mau ikut siapa-siapa, baik mama ataupun papa.." Ujar Angga mulai terlihat marah
"Bodoh! Apa kamu pikir ayahmu tidak akan memaksamu? Kamu tahu ayahmu seperti apa bukan?"
Angga pun terdiam, dengan wajah yang memerah, rahang mengeras, dan tangan yang terkepal. Perdebatan antara ibu dan anak itu masih berlanjut, aku bingung harus berbuat apa. Ingin sekali aku ikut berbicara, namun aku takut akan memperkeruh suasana. Aku pun memilih untuk diam.
"Mama kasih kamu waktu 10 menit berpikir. Pikirkan baik-baik Angga" Ucap wanita itu sebelum pergi meninggalkan kami.
Raut wajah Angga terlihat sangat tidak baik-baik saja, terlihat ia memendam semuanya. Dalam waktu bersamaan, ia juga terlihat gusar. Aku tidak tega melihat Angga dalam keadaan seperti itu, kugenggam tangannya kemudian memanggilnya.
"Angga.."
Angga menatapku dengan tatapan sedih, matanya sudah berkaca-kaca. Terlihat jelas jelas ia ingin menangis, namun ditahannya.
"El..Maaf, kali ini aku tidak menepati janji untuk selalu bersamamu. El, aku harap kau mengerti keadaanku saat ini. Aku juga tidak ingin pergi, El. Tapi kau lihat kan? Aku dihadapkan dengan pilihan yang cukup sulit. El, berjanjilah untuk selalu menungguku. Aku akan kembali.. Pasti.."
Air mataku mengalir deras saat itu juga, aku benar-benar sedih. Jauh dalam hatiku, aku tidak ingin Angga pergi dan meninggalkanku. Namun aku juga tidak bisa egois dan memintanya untuk tidak pergi. Aku tahu Angga dalam posisi dan pilihan sulit..tapi mengapa hatiku sangat ingin menahannya?
"El, jangan menangis. Aku janji akan kembali. Kau juga mau berjanji kan untuk menungguku?" Ucap Angga yang sekarang tengah berdiri di hadapanku, dan memegang kedua pundak ku.
"El, kau mau kan berjanji? Aku tidak punya banyak waktu lagi, El. Aku mohon jawablah"
Aku pun mengangguk, mengiyakan. Meski berat bagiku.
"Terima kasih El, Maaf.. Aku benar-benar minta maaf." Ucapnya dan tiba-tiba memelukku. Kubalas pelukan Angga, sambil menangis aku mengucapkan beberapa kata.
"Aku berjanji akan menunggumu. Ga, selalu hubungi aku.."
"Pasti, El. Pasti..Yuk, kita pulang. Aku akan mengantarmu.."
Kami pun keluar, tak lupa Angga membayar pesanan kami tadi. Berpamitan dengan pria yang tadi mengantarkan minuman dan makanan itu. Sementara aku menunggu Angga di luar pintu. Di parkiran, terlihat mobil ibunya. Aku dan Angga menghampiri mobil itu.
"Aku akan ikut mama. Tapi, aku akan mengantar El pulang..Mama bisa mengikuti kami dari belakang sampai ke rumahnya." Ucap Angga
"Nggak bisa, Ga. Kita harus cepat pergi sekarang. Nggak ada waktu lagi. Jika kamu mengantar Alea pulang, Papa kamu pasti melihatmu dan mama yakin dia akan memikirkan berbagai cara untuk menahanmu.." Jelas wanita itu.
Angga terlihat diam, ia juga bingung harus bagaimana. Benar kata mamanya, papanya pasti akan melakukan berbagai cara. Aku pun sangat tahu, seberapa kuat dan berkuasa papanya.
"Ga, benar kata mama kamu. Kamu pergilah, aku akan pulang sendiri.."
"El, tapi ini udah malem. Jalanan juga licin, El. Gimana bisa aku biarin kamu pulang sendirian?
"Ga, saat ini kamulah yang harus kamu pikirkan. Kalian tidak punya waktu lagi..Aku juga tidak ingin hanya gara-gara aku, semua rencana mama kamu gagal"
"Baik..tapi, kamu harus hati-hati El..dan kamu harus ingat janji kamu"
Aku pun mengangguk. Kemudian kami berpelukan untuk terakhir kalinya, cukup lama Angga memelukku. Kemudian ia masuk ke mobil, dan melambaikan tangannya. Terlihat wajahnya begitu sedih. Perlahan mobil meninggalkanku yang masih berdiri, Angga meninggalkanku dengan Kopi Kenangan.
Lagi-lagi air mata jatuh, aku kembali menangis. Dari dalam ternyata pria tadi melihatku. Ia kemudian keluar dan menemuiku.
"Masuklah.." Ucapnya
Segera aku menghapus air mataku.
"Udah..Nggak usah disembunyikan. Kalo mau nangis, nangis aja. Nggak apa-apa kok.."
Cukup lama aku terdiam, mencoba untuk tidak menangis di hadapan pria itu. Pria itu, juga masih berdiri di depan pintu masuk. Beberapa menit kemudian, aku memutuskan untuk pulang karena sudah malam.
"Bang, saya pamit. Terima kasih ya.." Ucapku tanpa menoleh.
"Kamu berani pulang sendirian?" Tanya pria itu
"Iya" jawabku singkat, kemudian menyalakan mesin motor ku.
"Hati-hati.." Ucapnya sedikit teriak.
Aku melajukan sepeda motorku, meninggalkan kopi Kenangan bersama cerita hari ini yang juga akan menjadi kenangan di tempat ini. Dalam perjalanan pulang hujan begitu deras, tak henti-hentinya air mataku mengalir bersama dengan derasnya air hujan.
Kupikir, hari ini adalah kelulusanku yang seru dan membahagiakan untukku dan Angga. Kelulusan ini justru mengukir cerita baru yang tidak pernah aku inginkan. Kesedihan ini...Aku benar-benar membencinya.
~~~
Lima tahun berlalu begitu cepat, aku menjalani hari-hariku dengan sangat berbeda. Aku tidak lagi menjadi aku, aku hidup mengikuti jalan hidupku. Mengikuti arus takdir yang akan membawaku ke setiap musim kehidupan. Sekarang, aku adalah seorang gadis yang berusia 23 tahun. Aku sibuk dengan pekerjaan dan pendidikan ku.
Seringkali aku datang ke Kopi Kenangan, menikmati kopi yang sama, menu yang sama, tempat yang sama, dengan pemandangan yang sama namun suasana yang berbeda. Berkunjung ke tempat bang Umang adalah ritual yang selalu kulakukan hampir setiap hari, bercerita dengannya tentang filosofi Kopi Kenangan dan Roti Rindu. Ya, Bang Umang. Dialah pemilik kafe ini, dan juga pria yang dulu melayani kami lima tahun lalu.
Ternyata kamu benar, Ga. Hari ini aku telah, menemukan jawaban dari pertanyaanku dulu. Kamu bilang aku akan menemukan jawabanku ketika aku telah mengenalnya. Ga, hingga saat ini aku masih menunggumu. Aku menunggu kabar darimu, telepon darimu, dan balasan surat yang kukirimkan tiga bulan yang lalu. Ga, kau tahu..masih ada satu pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya. Hingga detik ini, aku masih bertanya-tanya..mengapa hari itu, takdir membawa kita ke tempat ini hanya untuk mengukir kenangan yang tidak kuinginkan?
~End~
NB:
Hi, Readers..👋😃
Cerpen kedua udah up ya..semoga suka. Dan jangan lupa, bantu fllow autor biar makin semangat..✊❤️😁