Tiga tahun berlalu
Kini aku kembali ke kota kelahiranku. Setelah tiga tahun lalu aku memutuskan untuk melanjutkan SMA di kota lain sendirian. Kini aku sedang bersiap-siap untuk acara reuni dengan teman SMP ku, setelah sekian lama tak berjumpa. Selama tiga tahun ini, bukan aku tak pulang. Aku pulang, tapi hanya untuk bertemu keluargaku. Bukan aku tak mau bertemu dengan teman-temanku, hanya saja aku belum siap jika bertemu dengan “dia”. Ya, “dia” adalah salah satu alasan aku memutuskan pindah ke luar kota dan tidak bertemu teman-temanku. Kupikir sekarang sudah waktunya untuk bertemu mereka lagi. Aku yakin mereka akan berpikir aku sombong atau apalah, karena sudah tiga tahun kita tidak bertemu. Lagipula aku tidak yakin apakah setelah ini aku akan bisa bertemu dengan mereka lagi atau tidak jika tidak sekarang kita bertemu.
Aku memakai gamis warna biru pastel, kerudung berwarna senada dan wedges berwarna krem pastel, dipadu tas selempang warna putih. Aku berangkat diantar kakakku. Acara reuni kami diadakan di sekolah kami dulu karena sekarang hari libur dan kebetulan sedang tidak ada acara di gedung SMP kami, jadilah kami diizinkan untuk menggunakannya.
Sesampainya di SMP aku langsung menuju gedung pertemuan. Ketika perjalanan menuju ke sana, aku melihat beberapa orang yang memiliki wajah cukup familiar. Kulihat mereka berjalan ke arahku sambil tersenyum bahagia. Setelah kuingat kembali, ternyata mereka sahabat-sahabatku. Mereka adalah Lina, Nuri, Dwi, Shani, Bella, Fina dan Aya. Kupanggil nama mereka satu persatu sambil melambaikan tangan. Mereka membalas lambaianku.
“Kukira kamu benar-benar lupa sama kita..” canda Nuri.
“Iya aku juga mikir gitu Ri, habisnya Lian gak manggil-manggil nama kita..” sambung Shani.
“Hehe.. Maaf, jujur sebenernya tadi aku hampir lupa nama kalian. Tapi muka kalian familiar gitu. Dan akhirnya aku inget…” balasku sambil tersenyum.
“Pantes aja. Lagi pula gak heran kalo kamu hampir lupa sama kita. Secara tiga tahun kita gak ketemu kayak gini. Ngapain aja kamu? Sampe baru bisa ketemu kita sekarang?” cerocos Dwi.
“Ya maaf.. Yang penting kan sekarang kita udah ketemu nih.. Ya kan?” Ucapku sambil merasa bersalah.
“Udah-udah yuk masuk. Bentar lagi acaranya mulai.” ucap Bella.
Kulihat jam menunjukan pukuk 10 52, benar kata Bella karena acara dimulai pukul 11.00
Selama perjalanan kamu bercanda dan tertawa riang, mengenang masa lalu dan menceritakan kehidupan masing-masing selama tiga tahun terakhir.
Sampai di gedung pertemuan, teman-temanku yang lain pun menyambutku tidak jauh berbeda dari yang sahabatku lakukan tadi. Para teman perempuanku memelukku untuk melepas rindu, sedangkan para teman lelakiku hanya menjabat tanganku saja.
Rangkaian acara telah dimulai, sehingga ruangan ini berubah menjadi ramai seketika. Canda tawa mereka memancarkan aura kebahagiaan. Dan suasana seperti inilah yang aku rindukan. Meskipun di Bandung aku memiliki banyak teman yang asyik seperti di sini. Namun, tetap saja terasa berbeda. Kenanganlah yang membuatnya berbeda. Lagipula setiap orang memiliki sifat berbeda sehingga menciptakan suasana yang berbeda pula.
Aku sedang mengambil minum karena tenggorokanku terasa kering. Ketika minum aku mengamati teman-temanku satu persatu. Kini aku menyadari bahwa tidak ada “dia” di sini juga dari sekian banyak yang menyambut kehadiranku tadi, aku juga tak mendapatkan sambutan darinya. Karena penasaran, aku bertanya dengan Fina yang kebetulan tengah mengambil roti untuk mengganjal perutnya.
“Fin, kamu liat Febri gak? Kok aku dari tadi gak liat batang hidungnya sama sekali..” tanyaku
Uhuk… uhuk…
“Hey, hati-hati kalo makan. Nih minum dulu..” ucapku
“Makasih.. Gara-gara kamu tau aku Ian” balas Fina
“Lhah kok aku? Aku kan cuma tanya kamu liat Febri apa gak…” ucapku merasa kesal
“Ya itu, karena kamu tanya gitu ke aku.. Ya udah yuk ikut aku kalo kamu mau tau tentang Febri, kita ke lantai atas..” ucap Fina
Aku hanya menuruti ucapan Fina.
Kini kita ada di lantai dua. Di sini Fina menceritakan semua yang terjadi pada Febri. Aku hanya bisa menunduk ketika Fina juga cerita kalo Febri udah pacaran dan bla… bla… bla… Aku tak terlalu menyimaknya karena hatiku terasa pedih ketika tau “dia” telah memiliki kekasih. Ya, ternyata perjuanganku selama tiga tahun untuk membuang rasa terhadapnya sia-sia. Ternyata, tetap saja terasa perih ketika “dia” memilih orang lain.
Tes… tes…
Ya, kini aku hanya bisa menangis. Hingga…
“Lian, kamu kenapa? Are you okay? Kamu sakit?” beberapa pertanyaan meluncur dari mulut Fina dengan nada khawatir.
“Aku gak papa.. I’m fine Fina. Tapi, yang aku rasa aku sakit. Perih Fina. Bukan fisik, tapi hati aku Fin…” jawabku dengan suara serak, sambil menatap langit
Ya, aku jujur karena Fina tau semua perasaanku. Termasuk perasaanku terhadap Febri.
“Astaghfirullah… Maaf Lian, aku gak bermaksud. Aku pikir kamu udah gak ada rasa buat dia, setelah tiga tahun gak ketemu… I’m sorry…” ucap Fina sambil merasa bersalah
Aku menatap Fina sejenak sambil tersenyum, kemudian kembali menatap langit.
“Kamu gak salah kok.. Aku juga awalnya berpikir kayak kamu.. Tapi, saat kamu bilang dia udah punya kekasih, entah kenapa rasanya tetap aja perih..”
Hening sejenak di antara kami.. Hingga Fina menoleh ke belakang, kemudian menatapku sambil berkata
“Lebih baik kamu di sini dulu, sambil menenangkan pikiran kamu. Aku ke bawah dulu… Kalo ada apa-apa kamu bisa langsung panggil aku..” ucapnya
“Oke makasih pengertiannya Fin.. Aku juga lagi butuh sendiri..” balasku sambil tersenyum kepada Fina
Tap… tap.. tap..
Fina sudah pergi, tapi kenapa aku tetap merasa bahwa aku tidak sendiri.. Aku menoleh ke belakang.. Dan yang kudapati adalah seorang lelaki dengan balutan kemeja warna biru dipadu dengan celana jeans sedang berdiri menatapku.. Seketika aku kaku, ingin rasanya aku kembali membalikan tubuhku atau berlari agar tidak bertemu dengannya.. Aneh memang tadi aku ingin bertemu dengannya dan sekarang aku rasanya tidak ingin bertemu..
Di melangkah maju mendekatiku sambil tersenyum…
“Hei, apa kabar? Lama tidak bertemu.. Setelah kamu pergi tanpa kasih kabar, akhirnya kita sekarang bisa ketemu…” ucapnya
Aku tak menjawab, aku hanya bisa menatap matanya yang menatapku sendu.. Terlihat rasa rindu, bahagia, dan kecewa terpancar dari matanya..
Sekarang dia ada di sampingku sambil menatap langit..
“Apa kamu tidak merindukanku setelah tiga tahun kita tidak bertemu?” Ucapnya sambil tetap memandang langit
“Bodoh..” balasku ketus
“Ya aku memang bodoh… Untuk apa aku mengeluarkan pertanyaan konyol itu, padahal aku tau jawabannya.. Tentu saja kau tak merindukanku, jika kamu rindu pasti tidak perlu menunggu waktu tiga tahun untuk bertemu kan…” ucapnya panjang lebar
“Hahaha…” dia tertawa miris, menertawakan dirinya yang bodoh
“Kenapa kamu bertanya apa aku merindukanmu atau tidak? Apa pedulimu?” ucapku setelah terdiam beberapa saat.
Tawanya berhenti.. Dia yang tadi memandang langit, kini menatap ke arahku dengan tatapan bertanya..
“Tentu saja aku peduli, aku mencintaimu Lian.. Bahkan setelah tiga tahun kita tidak bertemu, rasa ini masih tumbuh dalam hatiku.. Meskipun rindu itu menyesakan hatiku, tapi rasa cinta ini tak berkurang sedikitpun…” ucapnya sambil memegang pundakku
Aku menatap matanya sambil mencari kebohongan di sana.. Namun, nihil aku tak mendapatkan kebohongan sedikitpun.. Meskipun begitu aku tetap berusaha mengelak.
“Bohong, aku tidak percaya… Bukankah kamu sudah bahagia bersama kekasihmu?” balasku sambil menahan air mataku agar tidak jatuh kembali ketika aku mengingat bagaimana Fina menceritakan betapa bahagianya Febri bersama kekasihnya.
“Apa? Kekasih? Bahagia bersama kekasihku? Siapa maksudmu?” tanyanya sambil kebingungan.
“Gak usah bohong dan berlagak bingung.. Kamu udah punya kekasih kan? Jadi buat apa bilang cinta ke aku kalo cuma buat aku melayang terus kamu jatuhin sampai hancur berkeping-keping? Sakit Feb…” ucapku marah dan menglepaskan cengkraman tangannya di kedua pundakku.
Gimana bisa dia mengatakan bahwa dia mencintaiku saat dia sudah memiliki kekasih, bahkan dia tidak mengakui kekasihnya dan malah bertanya kepadaku siapa perempuan yang beruntung mendapatkannya..
“Sungguh Lian, aku tidak memiliki kekasih.. Sakit? Mana yang sakit?” balasnya
“Hatiku yang sakit Feb, rasanya perih..” ucapku dengan suara serak karena menahan tangis
“Hati kamu sakit kenapa? Sakit karena tau aku punya kekasih?” ucapnya dengan nada bahagia
Aku hanya bisa terdiam. Aku tak bisa menjawabnya. Mana mungkin aku mengatakan bahwa aku mencintainya. Febri juga hanya diam sambil menatapku dalam
“Oke, sekarang kamu bilang sama aku, siapa yang bicara sama kamu kalo aku udah punya kekasih dan aku bahagia..” tanya Febri dengan sedikit mengintimidasi
“Fina..” jawabku lirih
“Hahaha… Fina? Dan kamu percaya sama ucapan dia?” ucapnya sambil menatapku tak percaya
Aku hanya mendengus kesal dan berkata,
“Tentu saja aku percaya. Ya walaupun dia kadang nyebelin, taoi gimanapun juga dia sahabatku.. Dia tau semua perasaanku..” jawabku ketus
“Itu dia..” jawabnya tenang
“Maksudmu?” tanyaku heran
“Ya, itu karena Fina tau semua tebtang kamu termasuk perasaan kamu, jadinya dia bilang ke kamu kalo aku udah punya pacarlah, aku bahagia sama pacarkulah, dan lainnya. Jadi, dengan kata lain dia cuma manasin kami alias bikin kamu cemburu.. Dan yah seharusnya aku berterima kasih karena berkat dia aku jadi tau kalo kamu cemburu.. Dengan kata lain kamu juga cinta sama aku..” jelasnya dengan perasaan senang
Ketika aku masih mencoba mencerna semua yang Febri ucapkan, tiba-tiba muncullah Fina dengan senyumannya.
“Halo, maaf ya Lian tadi saat aku cerita ke kamu tentang Febri, ada beberapa eh banyak sih hal yang sebenernya bohong.. Aku cuma mau kamu jujur tentang perasaanmu buat Febri. Dan yah, kebohonganku gak sia-sia, perasaanmu gak pernah berubah.. Masih tetap cinta sama Febri. Maaf yah, aku cuma mau kamu bahagia dan gak nyiksa diri kamu lagi dengan cara menyimpan dan berusaha buang rasa cinta kamu itu. Lagi pula Febri juga cinta sama kamu. Jadi, kenapa kalian gak saling jujur aja? Oke, jadi sekali lagi aku minta maaf dan bye.. Selamat berduaan, kelamaan di sini bisa lumutan aku” ucapnya panjang lebar kepadaku.
Aku yang sudah menyadari semuanya kini hanya bisa menunduk malu di depan Febri. Hingga tanpa kusadari seseorang memelukku dengan hangat sambil berbisik
“Jadi gimana? Masih cemburu?” ucap Febri
“Gimana apanya? Aku gak cemburu kok..” balasku sambil masih berusaha mengelak
Dia melepaskan pelukannya, kemudian berkata,
“Oh ya udah.. Aku pergi buat cari pacar ya?” ucapnya dingin, kemudian berbalik dan melangkah pergi
Sebelum ia melangkah lagi, aku menahan tangannya dengan maksud bahwa aku tidak ingin dia pergi mencari pacar. Febri pun berbalik sambil menggenggam tanganku, kemudian berkata
“Kenapa?” ucapnya dengan lembut
“Jangan pergi. Tadi katanya cinta sama aku, kok sekarang mau pergi buat cari pacar? Kamu tega lihat aku sakit hati lagi? Aku cinta sama kamu, Febri” ucapku sambil menundukan wajahku karena malu
Kurasakan sebuah tangan menyentuh daguku dan mendorongnya ke atas, sehingga membuatku menatapnya.
“Kenapa nunduk?” tanyanya sambil tersenyum jahil
“Dasar lelaki gak peka” ucapku sebal sambil cemberut
“Hahaha… Oke, oke.. Maaf ya” balasnya
“Aku juga cinta sama kamu, Lian” sambungnya
Membuat aku salah tingkah dan aku yakin pipiku sudah memerah. Dia kemudian memelukku, aku pun membalas pelukannya..
Kata “I Love You” dan “I Miss You” keluar dari mulut Febri, kemudian kubalas dengan kata “Je T’aime” dan “Je te Manques”.
Febri juga berkata, “Tunggu aku dan keluargaku besok siang di rumahmu. Aku akan melamarnu besok siang. Sampaikan salamku juga untuk keluargamu”
Aku merenggangkan pelukanku sambil membelalakan mataku.
Dia kemudian berkata, “Aku tidak mau kamu ada yang mendahuluiku untuk melamarmu. Tenang saja, kita menikah saat kamu sudah siap dan ketika aku sudah bekerja” ucapnya mantap
Aku hanya menganggukan kepalaku sambil tersenyum bahagia
Tiba-tiba
“Kita mah di acara reuni ketenu temen, melepas rindu.. Lha ini mereka, di acara reuni malah ketemu temen, tapi melepas rindu dan mengungkapkan rasa cinta masing-masing” ucap salah satu temanku
Seketika aku menyadari bahwa aku dan Febri sudah menjadi tontonan teman-temanku. Febri yang mengetahui betapa malunya aku langsung menggenggam tanganku erat dan berkata kepada teman kami itu,
“Jangan gitu guys, kalian lihat sendiri kan gimana malunya calon istriku ini? Ya, mungkin Allah ingin kalian jadi saksi cinta aku dan Lian siang ini” canda Febri, kemudian mencium keningku sejenak
Dan mereka mengucapkan selamat kepada kamu satu persatu.
“Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah, Engkau telah berikan aku seorang lelaki yang baik seperti dia. Lelaki baik dan tulus mencintaiku” ucapku dalam hati
~ Cinta sejati akan kembali kepada kita walaupun kita telah meninggalkannya ~