29 NOV / DAY 7
[REUNI SETELAH SEKIAN LAMA]
“Lo Cahyono terlambat.“
“Iya nih,“ ujarku dengan sedikit terburu-buru. Aku memarkir kendaraan di teppatnya berdampingan dengan deretan kendaraan mewah kota besar. Mereka-mereka yang telah sukses. Dalam kehidupannya. Maupun di keluarga. Sehingga menjadikan mereka serba berkecukupan. “Maklum banyak kesibukan“
“Wah nggak dapat snack loh.“
“Ah masa?“
“Haha… yang enggak lah, bercanda.“ Dia menyalamiku. Kami berpelukan seperti teletubies. Mesra sekali. Terutama yang dulu nggak ada mesra-mesranya.
“Bagaimana kabar anak istri?“
“Cerai.“
“Wah mengerikan.“
“Kamu?“
“Ada. Aku istri tiga, anak enam dengan bawaan istri juga.“
“Wih makmur nya.“
“Hehe… Begitulah.“
Saling ketemu. Saling berbagi kisah. Dan ada yang kiss, tentu antar sesama. Baik dengan rekan seangkatan, maupun dengan pendidik.
Setelah sekian lama tak ketemu, menjadi kenangan tersendiri tentunya.
Bikin kaos dengan gambar yang bagus dan logo yang unik juga. Sehingga membuat terkesan. Apalagi gratis. Namun untuk acara diminta sumbangan sukarela dengan nominal minimal tertentu, supaya memperingan beban panitia. Walau dana yang terkumpul dari mereka-mereka yang menjadi bos, sudah lebih dari cukup. Kan siapa tahu bisa disimpan guna menjadi penyumbang dari satu alumni khusus yang berikutnya akan sangat berkesan.
Ada yang evolusi. Seperti layaknya sejarah, dari kera, Pitecantropus, hingga homo.
Maka, kita juga demikian, mulai dari celana pendek, kemudian langsing dan cakep. Habis itu ada yang gemuk, ada yang melar, bahkan ada yang janda.
Semua serba kebetulan.
Acara pembukaan. Seperti biasa, hanya doa dan pengantar dari panitia yang lumayan panjang sampai mengantuk.
Dan kata-kata bijak. Baik dari mantan guru, hingga siswa-siswa yang mewakili.
Lalu sambutan.
“Kita sambut yang masih jomblo. Dan dapat bingkisan hadiah. “
Ada yang maju.
Ada yang ngedumel.
“Huh jomblo apa? Istri juga anak ada, malahan banyak yang dicium. Jomblo, apaan! “
“Gua nih jomblo. “
“Apalagi elu dimana-mana mampir“
“Sembarangan. “
Itu kisah orang-orang yang berdekatan. Biasanya yang tidak kemana-mana. Di rumah saja mulai dari orok, sekolah hingga kini. Tak kemana-mana. Usaha di rumah juga. Baik memelihara ayam, memelihara telur, memelihara sapi, hingga kambing. Dan memelihara banyak istri. Yang penting memelihara. Disitulah uniknya, dimana pada mempunyai kisah sendiri-sendiri, walau kala sekolah dulu sama-sama beranjak dari putih putih. Kehidupan selanjutnya yang menentukan. Bahkan sudah beberapa yang meninggalkan kita semua. Disini sejenak kita mendoakan agar tenang dia disana.
Akhirnya joged-joged.
Setelahnya makan-makan. Menunya banyak banget. Es. Terutama. Ada es campur, esteh, es klamud, es dogger, es pelangi, es krim rasa marshmellow, bahkan es goreng.
Yang makan sih cuma ayam panggang, ayam goreng, dan sate. Maklum masakan kampung. Adanya itu. Hanya jumlahnya banyak. Paling-paling ditambah bawaan orang kota, macam, bergedel, taco, martabak, tahu pocong, kambing guling kriuk, sup krim cair.
Disela-sela itu di lanjut dengan nyanyi-nyanyi dan joged joged
Lalu poto bersama.
Dan pulang. Mesti mengantri. Menunggu mereka yang bawa-bawa mobil keluar duluan. Padahal mereka tak pulang-pulang, dengan bangga dan gembira masih mengobrol mengenang kisah lama mereka. Mulai saat saling bercinta, saling suka, bahkan saling sebel.
Senang sekali rasanya. Bisa bergembira bersama. Dengan rekan semasa sekolah. Mengingat kembali kenangan lama. Dimana beli es the bungkus plastik sama sate. Bahkan ada yang cuma jajan pecel, mendoan, martabak, tahu bulat, gembus, getuk, sami mawon, podo bae, kacang merah goreng dan bergedel. Banyak pokoknya.