Di usir dari rumah karena fitnahan dari adik sendiri. Di khianati teman sendiri bahkan pacar pun menjauhi. Ini lah kisah ku...
Aku, Alice Stevani. Anak pertama Keluarga Stevani. Dulunya, aku sangat di sayangi oleh Ibu dan Ayah..., Tapi, saat Bella masuk ke dalam keluarga kami, Aku menjadi tersingkirkan dan perlahan lahan di lupakan. Semua orang membenci ku karena termakan omongan Bella.
•••
Part I [Tersingkirkannya Diri Ku]
"Alice, sini sayang. Lihat, kami punya seseorang untuk menjadi teman bermain bagi kamu sayang" Ucapnya Nyonya Stevani dengan senyum ramahnya
"Ada apa Ma? Siapa dia?"
Tanyanya Alice dengan menunjuk ke arah gadis yang berdiri di samping tuan Stevani
"Oh. Perkenalkan sayang, dia adalah Bella, nanti dia yang akan jadi teman bermain kamu"
Jelasnya Tuan Stevani dengan senyuman lembut nya lalu berjongkok di depan Alice
Tuan Stevani memegang tangan Alice. "Kamu menerimanya kan sayang?"
Tanyanya Tuan Stevani lembut. Alice hanya mengangguk patuh
"Hai Bella. Aku Alice, salam kenal ya"
Sapanya Alice ramah. Bella hanya tersenyum kecil dengan terpaksa.
Beberapa bulan berlalu, aku masih menjadi kesayangan Keluarga Stevani, tapi... Lama kelamaan aku terlupakan karena Bella selalu menghalangi usahaku. Sampai suatu hari, aku mendapatkan juara 2 saat olimpiade matematika antar negara
"Bagaimana sih kamu? Katanya sudah berusaha keras?! Lihat, adikmu menang, dia juara satu olimpiade Sejarah antar dunia!"
Bentak nya papa pada ku. Aku hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalaku. Aku tak menyangka jika Papa akan membentak diriku.
"Tapi Pah..."
Ucapku yang terpotong oleh Bella.
"Papa, Bella lapar. Bella mau beli ice cream boleh ya"
Pintanya Bella yang mengalihkan pembicaraan Papa kepadaku
Kami pergi ke toko ice cream. Mama tak ikut bersama kami, dia menunggu di tempat perlombaan untuk mengambil penghargaan.
"Papa, Bella mau ice cream yang itu"
Ucapnya Bella sambil menunjuk ke salah satu ice cream yang ada di sana. Saat ku hendak mengambil ice cream, langkah ku terhenti karena tangan ku di tepis Papa
"Mau apa kamu?"
Tanyanya Papa setelah menepis tanganku. Aku hanya bisa terdiam merasakan sakit yang begitu sakit di hatiku
Ku jawab bertanya dari Papa, "Aku ingin makan ice cream juga Pah"
Ucapku seraya melirik ice cream yang hendak ku ambil tadi
"Untuk apa?! Coba lihat, adikmu! Dia pantas mendapatkan hadiah untuk keberhasilan nya"
Balasnya Papa dengan nada dingin
Kini pandangan ku teralihkan. Aku melirik Bella yang sedang berdiri di samping ku. "Tapi Pah, aku juga sudah masuk juara 3 besar. Apa bedanya juara pertama dan kedua? score ku lebih rendah satu poin di bawah Bella"
Ucapku dengan nada ketakutan karena aku tahu setelah ku membandingkan Bella, Papa akan sangat marah
Papa terdiam dan menatapku tajam. Aku sedikit bergetar melihat reaksi papa yang sangat marah. Akhirnya, hanya Bella lah yang di belikan ice cream. Aku hanya bisa melihat papa menggendong Bella dengan senyuman yang manis
•••
Satu Minggu telah berlalu, semua orang semakin membenciku karena Bella terus memanas manasi keadaan. Saat itu adalah hari nenek dan kakek pulang dari Amsterdam. Kami menyiapkan segalanya. Kini tinggal menunggu kepulangan nenek dan kakek saja. Makanan sudah tersedia di atas meja, tapi di ruangan makan itu hanya ada Aku dan Bella saja. Ayah dan Ibu sedang pergi ke bandara untuk menjemput nenek dan kakek
Aku pergi ke depan untuk membukakan pintu utama Keluarga. Benar saja, saat ku buka pintunya, terlihat 4 orang yang berpakaian rapi sedang menunggu di luar. Aku membungkukkan badan ku untuk memberikan salam. Nenek dan kakek Tersenyum ramah kepadaku terkecuali Ibu dan Ayah.
Kami masuk ke dalam rumah dan menuju tempat makan. Kulihat jika Bella sudah menunggu di sana dan kami pun mulai memakan makanan yang ada di meja tersebut.
Saat semua sudah selesai makan. Tapi ntah mengapa semuanya muntah muntah dan langsung pingsan terkecuali diriku. Aku panik dan langsung menelpon ambulans
Beberapa saat kemudian ambulans datang dan membawa Ibu, Ayah, Bella, Kakek, dan Nenek ke rumah sakit. Aku menyusul ke sana dengan paman Feng (kepala pelayan/asisten Papa) mengunakan mobil pribadi
Saat di rumah sakit semua nya terkejut karena mendengar penjelasan dari dokter. "Muntah muntah ini mungkin adalah ulah seseorang. Kalian di racuni"
Jelasnya dokter lalu pergi meninggalkan ruangan bangsal
Ku terdiam tak percaya karena aku tak tahu siapa yang sudah melakukan hal sekeji itu pada keluarga ku. Tapi aku lebih tak percaya lagi saat papa menuduhku
"Alice! Cuma kamu yang tidak keracunan, apa jangan jangan kamu dalang nya?!"
Tanyanya Papa dengan nada tegas
"Bu-bukan Pah"
Jawabku terbata bata karena aku takut jika Papa akan semakin marah kepada ku
"Jangan bohong kamu! Dasar anak sialan!"
Bentaknya Papa dengan suara meninggi. Aku semakin ketakutan. Aku melirik Bella, nampak jelas senyuman kemenangan terlihat di bibirnya
"Bukan aku Pah! Mungkin aja Bella yang melakukan itu!"
Ucapku lagi sambil menahan tangis
"Hiks... Untuk apa aku meracuni diriku sendiri?!"
Isaknya Bella dengan nada lemah. Ibuku mendekati Bella dengan keadaan lemah. Dia mengelus rambut Bella dengan lembut, hal itu membuat hatiku semakin sakit
"Jangan sedih ya sayang"
Ucapnya Mama yang mencoba menenangkan Bella. Perasaanku bagaikan tertusuk es tajam yang menembus jantung dan hati, Mungkin itu lebih baik dari pada melihat Mama membela orang lain
"Pergi kamu! Dasar anak tak tahu balas Budi!"
Usirnya Papa dengan nada yang membuat ku ternganga tak percaya. Aku pergi meninggalkan rumah sakit dengan keadaan frustasi
•••
Part II [Kehidupan Baru]
Aku pergi tak tahu ntah kemana, Sampai Akhirnya aku berhenti di sebuah taman bunga yang indah. Ku duduk di kursi taman yang bercat putih itu.
Aku meluapkan semua yang adalah dalam hatiku. Ku menangis sekencang-kencangnya, sampai hujan pun dapat merasakan sakitnya apa yang ku rasakan
Hujan turun begitu deras yang mengguyur tubuh mungil ku ini. Tubuhku kedinginan sampai bergetar, tak terasa pandangan ku mulai memburam, aku terjatuh dengan di terpa oleh hujan, Dan aku tak mengingat apapun setelah itu
_______
Aku tersadar dan membuka mataku perlahan lahan. Terlihat sesosok Pria berpakaian hitam berjas berdiri di samping ku bersama seorang wanita cantik berpakaian Putih. Mereka terlihat tak asing di mata ku
"Nona, apakah ada tak apa apa?"
Tanyanya si Pria dengan nada lembut. Aku menjawab pertanyaan si Pria
"Paman Feng... Bibi Yan"
Pekik ku lalu menangis lagi. Aku tak dapat mendeskripsikan sakitnya perasaan ku sekarang
Paman Feng dan Bibi Yan bertukaran pandangan. Lalu mengangguk bersamaan, aku tak tahu mereka sedang memberi kode apa antara satu dengan lainnya
"Nona... Bagaimana jika anda menjadi putri kami?"
Usulnya Bibi Yan yang membuat ku berhenti menangis seketika. Aku terkejut sekaligus bahagia mendengar itu. Karena aku akan memiliki keluarga baru
Memang Paman Feng dan Bibi Yan adalah pasangan sederhana yang belum di karuniai anak. Sehingga mereka sangat sayang kepada diriku. Bibi Yan adalah Baby sitter ku saat aku masih kecil, sehingga tak heran jika Bibi Yan sangat menyayangi aku
"A-Aku... Aku mau!"
Balasku lalu memeluk Paman Feng dan Bibi Yan. Kini perasaan sesak di dadaku mulai menghilang perlahan lahan seiring berjalannya waktu.
Aku tumbuh bahagia di sana, meski kehidupan ku tak semewah dulu, tapi aku sangat bahagia. Kini sudah 5 tahun berlalu, usiaku sudah menginjak 17 tahun. Bibi Yan sudah sering sakit-sakitan. Aku pun masih sekolah SMA, dan kini Paman Feng sudah berhenti bekerja di rumah Stevani karena faktor usia sudah melebihi aturan dari keluarga Stevani
Aku sudah memiliki pacar bernama Angga. Dia baik dan perhatian pada ku. Sampai akhirnya ada murid baru yang datang, namanya adalah Tifa, dia anak kolongmerat kaya sekelas dengan ku. Sampai akhirnya kami berteman baik hingga aku memperkenalkan Angga dengan Tifa
____
Part III [Luka Yang Tergores Kembali]
"Angga, ini Tifa. Dia yang sering aku ceritakan padamu"
Ucapku sembari memperkenalkan Tifa
Tifa menjulurkan tangannya, "Aku Tifa"
Ucapnya Tifa ramah
Angga membalas juluran tangan dari Tifa, "Angga"
Balasnya Angga lalu melepaskan tangannya
Kita kekantin bersamaan. Hari hari berlalu sangat menyenangkan, aku bahkan tak melihat hal ganjil dari hari hari sebelumnya. Hingga akhirnya aku terkejut dengan terpajangnya Poto Poto kebersamaan Angga dan Tifa di sebuah hotel yang membuat ku ternganga tak percaya
"I-Ini... Ini apa maksudnya?"
Tanyaku dengan nada lemas. Kini aku tak dapat berkata apa-apa lagi. Aku hampir pingsan tapi tetap ku coba untuk bertahan dan berdiri tegar. Angga dan Tifa berjalan melewati ku
"Tunggu!"
Ucapku menghentikan langkah mereka berdua. Ku berjalan terus mendekati Angga dan Tifa
Ku lemparkan foto foto kebersamaan mereka sebelum aku menghentikan langkah mereka
"Apa itu maksudnya?!"
Tanyanya Alice dengan nada tinggi. Tifa hanya menggerakkan bola matanya dengan malas
"Ck! Apa kau masih belum mengerti juga? Aku sama sekali tak cinta pada mu. Dengar ya, kamu tak selevel dengan ku"
Dengan nada merendahkan Angga menjawab pertanyaan Alice. Itu membuat luka yang belum kering di hati Alice kembali tergores
"Ayo lah sayang. Jangan ladeni orang seperti dia, mari kita kekelas"
Ucapnya Tifa mengalihkan pembicaraan lalu mengandeng tangan Angga dan pergi meninggalkan aku
Lagi lagi Aku merasa seperti sampah di mata semua orang. Ku pergi dan berlari menuju jalanan ramai. Aku tak menghiraukan apa bahayanya jika ku berlari sambil menangis
Aku berhenti di tengah jalan dan menangis keras membuat semua perhatian tertuju pada ku. Membuat ku seperti orang konyol yang sudah gila. Tanpa ku sadari sebuah mobil melesat dengan kecepatan tinggi dan membuat tak dapat menghindarinya
Ku tertabrak dan terpental jauh dari tempat ku berdiri. Aku langsung tak sadarkan diri, berharap semoga saja aku mati setelah tertabrak mobil itu
_______
Sayangnya tuhan masih ingin melihat ku tertawa bahagia meski sekejap, aku membuka mata pelan pelan dan terkejut dengan seseorang yang sudah berdiri di samping ku. Dia adalah Alex Ou, anak dari kolongmerat kaya, Darius Ou
"Aku di mana?"
Ucapku seraya bengun dari posisiku yang tadinya berbaring tak sadarkan diri
"Kau ada di rumahku. Maaf aku telah menabrak dirimu"
Balasnya Alex. Itu sedikit membuatku malu karena selama ini tak ada yang menyayangi diri ku terkecuali Paman Feng dan Bibi Yan
"Te-terima kasih"
Ucapku menundukkan kepala. Aku teringat akan kondisi bibi Yan yang ku tinggalkan sendiri di rumah
"Maaf, aku harus pergi"
Ucapku lalu beranjak pergi. Tapi hp ku berbunyi dan itu adalah panggilan dari Paman Feng. Aku mengangkat panggilan itu,
"Ya halo... Paman ada apa?"
Tanyaku yang masih belum terbiasa memanggil ayah
"Alice, Bibi sedang kritis dan sekarang harus di operasi. Kamu cepat pulang ya, Aku mau mencari pinjaman uang"
Ucapnya Paman lalu mematikan telepon tanpa mendengar jawaban dari ku
•••
Sampai di rumah sakit aku langsung menuju kamar bangsal Penginapan Bibi Yan. Ku lihat Paman sedang terduduk frustasi di pojok ruangan.
"Paman, bagaimana? Apa sudah menemukan pinjaman uang itu?"
Tanyaku sambil berjalan mendekati Paman
Paman menggeleng kepalanya menanggapi pertanyaan dari ku. Aku pun ikut tertunduk
"Apa Paman sudah mencoba meminjam uang kepada keluarga Stevani?!"
Tanya ku sembari menahan rasa sakit yang mulai bermunculan saat mengingat tentang kenangan yang sudah terjadi di waktu lampau
"Tidak. Paman tak mendapat uang dari mereka karena Paman ketahuan membesarkan mu Alice"
Balasnya Paman
Aku semakin tak percaya dan semakin merasa bersalah, tiba tiba dokter datang dan menyuruh kami keluar dengan alasan akan melakukan operasi. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi dokter itu berkata bahwa tuan Alex Ou yang telah menanggung semua biaya operasi bibi
Aku sangat bersyukur dan pergi untuk mencari Alex untuk berterima kasih. Sejak saat itu aku dan Alex berhubungan semakin dekat dan dekat. Hingga akhirnya kami sudah berada di hubungan yang paling tinggi yaitu pernikahan
••••
Part IV [Akhir Cerita]
Aku dan dan Alex menikah. Dan melakukan malam pertama. Sebulan telah berlalu, aku hidup bahagia hingga akhirnya baru saja aku kembali dari luar dan masuk ke dalam rumah, aku di kejutkan oleh kehadiran seseorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Lina Ou, Mama dari Alex Ou
"Ini dia istri ku Ma"
Ucapnya Alex memperkenalkan ku pada Lina. Aku membungkukkan badan sebagai pemberian hormat
"Cih... Gadis murahan, Mama bawakan kamu calon istri yang lebih baik dari wanita yang ada di samping mu itu!"
Hinanya Nyonya Ou lalu memetik jarinya
Masuklah seseorang perempuan yang tak asing di mataku. Dia seperti pisau yang kini menancap kembali di hati ku
"Dia adalah Bella. Cepat kau cerai kan istri tak berguna mu ini"
Ucapnya Nyonya Ou
"Tapi Mam..."
Elaknya Alex
"Cukup jangan mengelak, kamu menikah tanpa sepengetahuan dari Mama, dan Mama tak suka dengan hal itu! Jadi... Kamu lebih memilih Gadis pilihan mu atau pilihan Mama?!"
Ancamnya Nyonya Ou yang membuat Alex berpikir keras
"Aku memilih Alice"
Jawabnya Alex dengan lantang
"Tapi... Jika kamu memilih Bella, maka semua harta kekayaan Ou menjadi milikmu. Jika kamu berkeputusan sebaliknya, maka hasilnya pun akan sebaliknya"
Ancamnya lagi Nyonya Ou yang lagi lagi membuat Alex berpikir keras
Aku sangat berharap agar Alex tatap memilih ku. Tapi...
"Aku memilih Bella"
Balasnya Alex yang membuatku ternganga tak percaya. Aku di usir tanpa sepatah katapun yang bisa ku keluar kan dari mulutku
Aku berjalan dan terus berjalan hingga akhirnya menemukan sebuah jurang yang curam lalu mengambil secarik kertas yang berada di dalam tas ku
Dan kertas itu adalah hasil dari tes kehamilan yang sudah ku persiapkan untuk menjadi kejutan bagi Alex. Aku tak menyangka bahwa kebahagiaan yang sudah ku lalui bersama Alex lenyap seketika. Aku tak percaya bahwa aku akan tersingkir kan lagi oleh seseorang yang sama yaitu 'Bella'...., Ya... nama itu akan ku ingat sampai kapanpun karena dia yang selalu menghancurkan hidupku
Aku berjalan semakin dekat dan dekat ke tepi jurang dengan mengucapkan beberapa patah kata untuk anakku tersayang, "Maafkan Mama Nak. Mama nggak bisa jaga kamu sampai kamu besar, maafkan Mama juga karena Mama nggak bisa ngurus kamu. Mama minta maaf karena nggak bisa melahirkan kamu ke dunia ini Nak... Mama minta maaf"
Itulah kata kata terakhir ku sebelum aku melompat ke dalam jurang untuk mengakhiri hidup. Ku kira, dengan cara seperti ini, aku dapat terbebas dari kekejaman duniawi yang selalu menghantui
~End~
Karya ini adalah hasil imajinasi saya. Tidak copas dari siapapun. Maaf jika ada kata kata kasar, atau tak enak di dengar.
Pesan : Jangan tiru adegan adegan yang tak pantas untuk di lakukan.
•••
Nama Author : Ailsa Putri
Ig Author : @ailsa_queen240308