戦場で死んだ愛(Senjō de shinda ai)
Seorang samurai tidak takut pada kematian, tapi bukan berarti mereka tak punya hati.
...
Perang besar akhirnya pecah pada akhir zaman Heian, setelah sebelumnya perselisihan dari Klan Taira dan Klan Minamoto terus memanas.
Meski pada akhirnya Klan Minamoto mampu menjatuhkan Klan Taira, dan mendirikan Keshogunan Kamakura dibawah pimpinan Minamoto Yoritomo. Namun ada satu kisah yang terselip disana, tentang kesetiaan seorang samurai wanita cantik bernama Tomoe Gozen, yang kisahnya begitu melegenda dan juga mengharukan.
"Pada akhirnya waktu yang membinasakan kita.." Gumam Tomoe saat itu, ketika di depannya seseorang yang ia cintai ditebas begitu saja oleh musuh. Namanya Minamoto no Yoshinaka, pria yang tiga tahun lalu menikahinya.
Mereka telah kalah jumlah, 300 pasukan Yoshinaka dipaksa menembus pertahanan 6.000 prajurit musuh. Hingga tiba di titik ini, Yoshinaka lengah dan musuh menebasnya.
Tomoe berjalan gontai, menghampiri Yoshinaka yang terbujur mengenaskan.
"Yoshi.." Bisik Tomoe, lututnya terasa lemas. Bahkan ia sendiri tak menyadari, jika air matanya bergulir deras dari sudut lancip matanya.
Yoshinaka melirik ke arah Tomoe, dia tersenyum tipis. Dari jarak ini, Tomoe melihatnya dengan jelas bagaimana bibir itu bergerak perlahan, mengisyaratkan tanpa suara.
"Lari.." Bisik Yoshinaka. Ia tak rela jika Tomoe harus berakhir disini, mati bersamanya dengan mengenaskan.
Tubuh Tomoe bergetar hebat, amarahnya memuncak seiring dengan deru nafas terakhir Yoshinaka yang menghembus perlahan.
"Aku akan menjadi bunga Higanbana untuk mereka.." Gumam Tomoe, tangannya mengelus perlahan pipi Yoshinaka.
Matanya menatap wajah damai suaminya dengan lamat, menyimpannya baik-baik dalam ingatan. Jika harus mati disini, semoga dikehidupan yang lain ia masih bisa kembali dan bersama.
"Seorang samurai memang tak takut pada kematian, tapi bukan berarti aku sudah tak punya hati.." Ucap Tomoe.
Dengan penuh tekad, di raihnya katana yang tadi tergeletak ditanah yang sudah berlumuran darah itu. Melangkah dengan pasti, menyongsong musuh yang berlari didepan sana.
"Akan ku bawa kepala kalian untuk Yoshi.." Gumamnya sedetik sebelum mengayunkan katana ditangannya dengan penuh amarah.
Crashh..
Crashh..
Crash..
Tomoe terus berlari dan mengayunkan katananya dengan brutal dan membabi buta, ia melampiaskan sedih dan sakit hatinya pada darah dan nyawa.
"Akan ku bunuh orang yang telah menghalangi Yoshinaka .." Ucap Tomoe, saat lagi dan lagi katana ditangannya menebas kepala musuh.
Tik..
tikk
brusshh..
Hujan turun ditengah pertempuran berdarah itu, seperti berusaha mencuci noda merah yang kini menodai sang bumi.
"KU BUNUH KALIANNN..." Teriak Tomoe di bawah guyuran hujan.
Jderrr..
Kilat dan petir seakan menyahuti seruan penuh dendam Tomoe, membawa efek dramatis dalam tubuh musuh.
'Samurai wanita ini..' Mungkin itu yang dipikirkan para musuh.
Hingga akhirnya tak ada lagi yang tersisa dimedan pertempuran, mayat-mayat samurai terpotong dan bertumpuk dimana-mana.
'Sudah selesai..' Inner Tomoe.
Pertempuran sudah berlangsung seharian, di sore itu Tomoe berdiri diantara para mayat samurai yang gugur.
"Cinta kita akan menjadi legenda yang perlahan terkikis masa." Monolog Tomoe, tubuhnya berlumuran darah musuh. Dan ditangannya, ia genggam kepala samurai yang telah menebas suaminya.
Tomoe membakar mayat samurai itu, sedang kepalanya ia gantung ujung tombak.
"Seorang samurai selalu menepati janjinya dan tak takut mati, aku sudah berjanji untuk setia pada mu Yoshi, kamu mati pun aku akan ikut." Ucap Tomoe.
Katana yang ia pakai untuk membunuh musuhnya kini ia pakai untuk menusuk jantungnya sendiri.
...
End