Namaku Hanna, seorang cucu dari salah seorang miliarder dunia.
Meski punya kerabat yang berduit banyak, hal itu tidak menjadikanku makmur dan sejahtera seperti anak muda kaya raya pada umumnya. Sebab kakekku sangat disiplin dan tegas dalam mengatur kehidupanku.
Oleh sebab itu, ia menelantarkan aku ke pinggir kota, dan memaksaku untuk hidup mandiri disana.
Hari demi hari berganti, aku pun mendapat pekerjaan di salah satu toko buku. Dengan penghasilan yang kudapat dari pekerjaan itu, aku pun bisa menyanggupi kebutuhan sehari-hari. Meski begitu, pahitnya bekerja dibawah perintah orang lain, sangatlah menyakitkan.
Pada satu hari yang cerah tanpa kicauan burung di udara, aku yang masih terlelap dalam tidur, tiba-tiba terperanjat oleh deringan telepon genggamku. Aku mengeceknya dan seketika membelalakkan mata, karena ini kali pertama aku mendapat telepon dari kakekku setelah sekian lama.
Anehnya, ketika aku mengangkat telepon tersebut, bukan suara kakek yang kudengar. Melainkan suara asisten pribadi kakek bernama Berto.
"Lah? Kenapa malah kau yang mengangkat teleponku? Kakek dimana? Apa dia baik-baik saja? Aku sudah lama tidak bertemu dengannya." Ucapku dengan penuh rasa penasaran.
Berto hanya diam sejenak, dan ia pun menarik nafas dalam-dalam lalu berkata, "Nona, tuan besar sudah meninggal dan dalam surat wasiatnya tertera bahwa mulai hari ini, anda adalah pewaris sah semua kekayaannya."
Dalam sekejap, aku langsung berlinang air mata. Disisi lain, aku juga tidak menyangka bahwa setelah membuka kedua mata untuk bangun dari tidur, aku tiba-tiba langsung menjadi orang kaya yang tiada tandingannya.
Cerita berakhir sampai disini.~