Merah. Warna merah dari bunga mawar memenuhi penglihatan ku saat menatap toko bunga di sebrang jalan.
“Sungguh memanjakan mata.” ucapku sambil menyesap kopi yang aku buat sendiri. Melihat bunga mawar saat beristirahat makan siang membuat lelah di tubuhku terasa terangkat.
Bunga-bunga yang begitu menyihir itu membuat toko bunga di sebrang jalan tidak pernah sepi oleh pengunjung. Bahkan setiap meja di cafe milikku dihiasi bunga-bunga mawar merah yang berasal dari toko sebrang jalan.
Kemudian perhatianku teralihkan pada bunga yang lebih cantik, Rosita dari namanya saja seolah dia ditakdirkan hidup dikelilingi oleh bunga mawar. Di adalah pemilik dari toko bunga di sebrang jalan yang telah menarik perhatianku sejak lama.
Saat tengah menikmati pemandangan indah fi depan mata, tiba-tiba pandangan kami bertemu. Rosita menunjukkan senyum yang begitu menawan padaku, yang justru aku balas dengan senyuman mengerikan dimana aku menunjukan gigi-gigi penuh ampas kopi.
Ah... Itu sangat memalukan hingga ingin rasanya aku memasukkan kepalaku kedalam lubang karena terlalu malu. Namun melihatku yang begitu konyol membut Rosita tertawa kecil membuatku terpesona saat melihatnya.
Rosita kemudian mendatang kedai dan memesan kopi latte, pesanan yang selalu dia minta setiap kali berkunjung. Kami mengobrol cukup lama, membuatku merasa jika mungkin aku memiliki kesempatan untuk mengatakan perasaanku padanya.
Tapi tiba-tiba saja suasana berubah saat aku bertanya tentang salah satu karya yang bekerja ditoko bunga. Mendengar pertanyaan itu aku dapat melihat raut wajah Rosita berubah menjadi gelap.
“Oh… dia sedang memberikan makanan pada mawar di halaman belakang.” jawab wanita 25 tshu itu dengan penuh senyuman.
“Makanan? Apa itu seperti pupuk atau semacamnya.”
“Ya, seperti itu lah.” Rosita membalas dengan tatapan yang berpaling dariku, “Dia sedang di keringkan.” lanjutnya yang membuatku mengangguk kecil.
Tatapan Rosita tertuju pada lemari kue yang sekarang sudah kosong, dia terlihat begitu kecewa menyadari tidak bisa menikmati kue daging.
“Sudah habis? Sangat cepat.”
“Itu berkat bantuan anda yang memberiku bahan segar, hasilnya toko ini lebih dikenal sebagai toko roti dari pada kedai kopi.”
“Itu bagus, tapi sangat disayangkan hari ini aku tidak dapat menikmati kue daging buatan anda.”
“Hahaha… jangan khawatir aku sudah menyisakan bagian anda.” aku segera memasukkan toko lalu kembali lagi ke teras depan membawa sekotak kue, melihat kue yang aku bawa membuat mata Rosita berbinar-binar penuh kegembiraan. Tanpa menunggu lama wanita itu segera mengambil beberapa potong dan memakannya dengan begitu lahap.
“Pelan-pelan nyonya, kau akan tersedak nanti.” aku segera mengambilkan minuman lain selain kopi untuk wanita itu.
“Emm aku tidak bisa menahannya kue daging ini benar-benar lezat.” kata Rosita dengan mulut penuh kue. Dia terlihat seperti anak kecil yang diberikan makanan enak, aku hanya tersenyum saat melihatnya seperti itu.
“Kau benar-benar koki handal Sam, roti daging buatan mu sangat enak.” aku merasa begitu senang mendapatkan pujian dari wanita yang aku sukai. “Dan ngomong-ngomong, aku pikir daging segar sudah siap diambil.” lanjutnya membuatku terdiam untuk sesaat.
“Bagaimana jika aku datang ke tempatmu malam ini untuk mengambil daging segar sekaligus membutakan makan malam?.” mendengar pertanyaan ku membut Rosita terkejut, dia menatapku dengan tajam seolah mencari tahu apa yang sedang aku pikirkan.
“Kau ingin makan malam bersama ku? Apa kua serius?.” dia kembali bertanya seolah salah mendengar apa yang aku katakan.
“Tentu, aku akan memasak daging lezat untukmu.” jawabku tegas sambil menggenggam tangan Rosita, seketika wajah wanita itu memerah seperti mawar cantik di tokonya.
“Baiklah jika kau sudah yakin.” jawaban dari Rosita membuatku begitu bahagia. Hingga akhirnya jam istirahat usai kami pun kembali pada kesibukan masing-masing. Aku melanjutkan pekerjaan dengan penuh kegembiraan, hingga tidak terasa malam pun tiba-tiba.
Dengan pakaian rapi aku mendatangi toko bunga Rosita, tempat itu benar-benar dipenuhi oleh bunga mawar. Rosita datang menyambutku, kecantikannya saat mengenakan gaun benar-benar membuatku terpesona.
“Menunggu lama?” tanya Rosita, “Ah… tidak aku baru saja datang.” balasku. Kemudian Rosita membawaku ke kebun belakang dimana hidungku langsung mencium amis yang begitu kental. Aku melihat tanah dimana mawar tumbuh di warnai merah pekat.
“Kau baik-baik saja?” Rosita yang berjalan di sampingku sambil memeluk lenganku bertanya dengan wajah khawatir.
“Ya… aku tidak apa-apa. Hanya saja aku tidak mengira jika akan setajam ini.”
“Hahaha… itu wajar karena baru siang tadi aku menyirami bunga-bunga ini.” Rosita memperlakukan tanamannya dengan penuh kasih sayang seperti seorang ibu pada anaknya.
Akhirnya kami sampai di gazebo yang terletak di tengah taman bunga. Di sana Rosita telah menyiapkan alat pemanggang berukuran besar serta bahan-bahan makanan. Aku menatap bahan-bahan itu dengan penuh antusias.
“Apa ini dikeringkan pagi tadi.” ucapku saat mencoba memeriksa tekstur dari daging yang telah dikeringkan darahnya. “Ya… itu masih sangat segar.” Rosita begitu bersemangat dengan makan malam ini, dia memelukku dari belakang sambil terus bertanya apakah dagingnya sydah matang. Aku hanya menjawab jika memanggang daging utuh sebesar manusia dewasa akan memakan waktu lama.
Sambil menunggu daging matang kami menghabiskan waktu dengan saling berbagi cerita tentang bagaimana cara kami menjalani hidup selama ini.
“Aku mengambil alih kendali atas tubuh orang lain dan hidup sebagai orang itu.” Rosita mengatakan kisahnya. Lalu giliran ku menceritakan kisah ku.“Aku pernah hidup seperti anjing yang memakan anjing lainnya untuk bertahan hidup.”
Malam itu begitu indah, di kelilingi mawar merah gazebo itu penuh canda tawa kami berdua, hingga saat daging panggang sudah matang seketika Rosita yang terlihat menawan berubah seperti anak kecil yang begitu kelaparan. Sebagian besar dagi berat 35 kilogram dilhap habis oleh Rosita sementara ku hanya mengambil secukupnya.
“Ah… pemuda itu pasti perokok hingga paru-parunya agak pahit seperti ini.” komentar Rosita saat melahap daging merah langsung dari tubuh gosong yang selesai di panggang. Hanya sekitar 30 menit hingga semua daging di meja habis am hanya menyisakan tulang.
Selanjutnya untuk membersihkannya mulut kami meminum anggur yang membuat tubuh kami menjadi panas karena gairah. Lalu entah bagaimana kami sudah berada di lantai gazebo dengan pakaian yang berantakan.
Rosita yang duduk diatasku tersenyum cerah, lalu kepalanya perlahan terbelah seperti kolopak bunga mawar yang baru merekah, kemudian dari daging kepala muncul belasan akar dengan duri tajam.
“Bagaima menurutmu penampilanku.” Rosita terlihat malu saat menunjukkan wujud alien nya yang sebenarnya.
“Sangan mengagumkan.” balasku sambil mencium bibirnya.
Di tengah kebun mawar merah, malam itu kami memadu kasih. Aku telah menjalin hubungan dengan banyak wanita sebelumnya, namun semuanya tidak bertahan lama setelah aku bermain-main dengan mereka, hingga ujungnya mereka hanya berakhir di dapur kedai menjadi bahan masakan. Tapi jika itu Rosita maka aku yakin dia akan bermain bersamaku hingga akhir karena kami adalah sama.
Sama-sama monster.