Lampion berwarna jingga tergantung di antara rerantingan pohon. Jumlahnya ada banyak, kira-kira enam hingga tujuh buah di tiap pohon. Lampion-lampion itu biasa dipasang saat malam festival yang diadakan setiap setahun sekali.
Ya, malam ini.
Biasanya di malam festival, kota akan dipenuhi dengan cahaya dan warna jingga yang berasal dari lampion. Di sini, cahaya dan lampion melambangkan permohonan, kebahagiaan, dan ... kepergian.
Saat ini, aku sedang menunggu seseorang di suatu taman. Tapi hujan turun dengan deras. Untunglah aku membawa payung. Kubuka payung tak berwarna-transparan-yang kubawa.
Aku menengadah, menatap lampion-lampion yang menggantung di atas. Sangat indah. Lampion-lampion itulah yang menemaniku selama satu setengah jam di sini.
Aku terus menunggu sampai kakiku terasa pegal. Namun, orang itu tak kunjung datang. Dia-laki-laki yang kutemui dua tahun lalu di tempat, maksudku taman ini.
Payung yang sedang kupakai ini adalah pemberian darinya. Kupikir aku tidak akan memakainya, tetapi apa boleh buat.
Saat itu, aku sedang menangis di taman ini setelah kabur dari rumah. Di malam festival yang melambangkan banyak hal baik, aku justru merasa hidupku hancur.
Kehidupan keluargaku tidak bisa dibilang baik. Ayah dan Ibu sejak dulu sering bertengkar. Dan puncaknya, sehari sebelum festival, kakakku meninggal.
Aku tidak bisa bilang itu salahku, tetapi Ayah dan Ibu menyalahkanku atas kematiannya. Kakakku meninggal dalam kecelakaan saat ingin menjemputku. Andai aku tidak egois, apa dia tidak akan mati?
Tetapi, kematian adalah takdir.
Tidak tahan dengan kondisi rumahku yang sangat berisik, aku pun kabur ke sini. Di tengah-tengah hujan, di bawah pohon berlampion, aku menangis.
Lalu dia, tiba-tiba saja datang dan memayungiku bak pahlawan-walaupun kuakui, dia memang pahlawan. Pahlawan yang menyelamatkanku di saat terputuk.
Dengan senyum ramah, dia bertanya, "Kenapa kamu menangis?"
Pertemuan pertamaku dengannya, dua tahun yang lalu. Dia orang yang paling berkesan semasa hidupku. Dia sangat peduli, padahal aku hanya orang asing yang ditemuinya di taman. Tetapi dia bilang, dia tidak bisa melihat perempuan yang sedang menangis sendirian di bawah rinai hujan.
Aku tersanjung.
Dia mempersilakanku untuk bercerita dan entah ada dorongan dari mana, aku tak segan mencurahkan seluruh hatiku padanya. Sambil menangis meraung-raung seperti bayi.
Dia dengan sabar menjadi 'tempat⁹ sampah'-ku. Kemudian, mengizinkanku pulang dengan payungnya. Awalnya aku menolak, tetapi dia bilang membawa satu payung lagi. Pada akhirnya, aku pulang dengan membawa payungnya.
Sejak saat itu, aku belum bertemu dengannya lagi-setidaknya sebelum malam festival tahun lalu.
Aku bertemu dengannya lagi. Sayangnya aku lupa membawa payungnya. Dia bilang dia memberikan payung itu untukku.
Setelah itu, kami bertukar nomor ponsel dan saling mengenal. Ternyata dia adalah temannya temanku. Dia hanya ke sini saat malam festival untuk berkunjung ke rumah neneknya. Jadi, aku hanya bisa menemuinya saat malam festival.
Lalu tahun ini, kami berjanji akan bertemu lagi di malam festival.
Ya ... seharusnya begitu. Seharusnya itu yang terjadi.
Aku mengeluarkan ponselku dari saku kemeja yang kupakai, lantas membuka pesan darinya.
Tertera nama 'Anga Rey' di bagian atas kolom chat. Pesan terakhir darinya dikirim empat jam lalu, yang isinya: "Maaf, sepertinya aku tidak bisa memenuji janjiku. Kalau kamu ingin tahu, datanglah ke rumah nenekku."
Tanpa sadar gigiku bergemeletuk. Tanganku meremas ponselku. Dan kelopak mataku sudah tak mampu menahan cairan bening yang membendung.
Aku menangis, lagi.
Untuk apa aku menunggunya? Untuk apa? Kenapa aku menunggu orang yang sudah pergi?
Sebelum dia bercerita, temanku sudah berkata duluan kepadaku. Dia menderita kanker stadium akut. Sebenarnya hidupnya sudah tak lama lagi, tetapi entah kenapa masih bisa bertahan hingga dua tahun lamanya.
Dia sudah pergi. Empat jam yang lalu. Namun, aku masih bersikeras menunggunya.
Sudah kuduga malam festival selalu memberikanku rasa sakit, bukannya kebahagiaan dan hal baik lainnya.
Itu yang kupikirkan dua tahun lalu, sebelum bertemu dengannya. Malam festival memberikanku rasa sakit, bahkan malam ini. Tetapi juga memberikanku kebahagiaan.
Aku bahagia bisa bertemu dengannya walau barang sejenak.
Hujan sudah berhenti turun. Sepertinya aku harus berkunjung ke rumah neneknya.
"Hah ...." Aku menghela napas panjang, lantas tersenyum kecil.
Dia tidak ingin aku terpuruk. Dan aku tidak ingin membuatnya yang ada di atas sana bersedih.
Andai kebahagiaan ini bisa berlangsung lebih lama. Andai aku bisa menyampaikan sedikit hatiku padanya, bahwa—
—aku, Rissa Aliana, mencintaimu setulus hati, Anga Rey.