Nek rayan sedang menderita sakit,seluruh tubuhnya sudah tak bisa digerakkan lagi.
hanya mata yg bisa bergerak sebagai isyarat bila ada yg diinginkanya.
Separuh tubuhnya dari pundak ke leher sudah mengeluarkan aroma dengan bau yg menyengat,hampir membusuk.
Sedangkan dari kepala dan lehernya terlihat masih bernyawa.
"Aku sudah tidak kuat lagi menahan penderitaan ini,adakah diantara keturunanku yg mau mengambil ilmu kekuatanku ini?"bisiknya dengan suara nyaris tak terdengar.
Rani satu-satunya cucu yg mau mengurusnya menatap dalam kearah nenek tersayangnya.
Ia merasa memiliki hutang budi,karena nenek rayan lah yg membesarkan dirinya.
Sementara kedua orang tua dan saudaranya memilih tinggal dikota.
"Aku ingin semua anak keturunanku untuk datang kemari,panggilkan mereka sekarang!"perintahnya lagi bersuara samar
Andaikata rani tidak mendekatkan telinganya kebibir nenek itu tidak mungkin dapat mendengar suaranya.
"Baik nek,aku akan menghubungi bapak untuk datang ke sini".
Lalu gadis itu bergegas melangkah keluar,ia mengambil sebuah telpon gengam miliknya yg diberikan ara,adiknya agar dapat menghubungi mereka jika ada sesuatu yg mendesak.
Rani gadis berambut panjang,berparas biasa itu bergegas menghubungi keluarganya.
"Hallo dek!kak rani ingin menyampaikan pesan nenek,beliau meminta bapak dan semua keluàrga segera berkumpul disini secepatnya!"
"Kenapa lagi kak..,bagaimana keadaan nenek sudah baikkan?"
Rani mengeleng"Tidak,bahkan semakin payah, beliau sudah tidak bisa memakan bubur lagi!"
"Ihh..jadi gimana kak?"
"Lebih baik kau sampaikan saja ke ayah agar kalian cepat kemari,biar lihat sendiri keadaannya!"
ucap rani,setelah mendengar balasan ara,gadis muda itu lantas menyimpan kembali handponenya.
Ia kembali masuk kedalam kamar nek rayan,wanita tua itu melirik kearahnya,bibirnya bergerak pelan.
"Sudahkah kau menghubungi mereka...?"
Rani menganguk
"Sudah nek,kita tunggu saja,mungkin jika mereka memakai tranportasi darat besok baru bisa sampai kemari!"jawabnya
Nenek rayan kembali menatap langit-langit rumahnya,tatapannya kosong,sesekali mulutnya mengerang menahan sakit.
Ia menoleh lagi kearah cucu tersayangnya,matanya memindai wajah rani.
"Kenapa kau tak mau mewarisi ilmuku rani?dengan ilmu ini kau akan menjadi cantik,awet muda dan jadi rebutan semua pemuda,mereka yg menikah denganmu pastinya tidak perlu bersusah payah lagi berkerja,kekayaan akan datang sendiri kepada suami yg beristri kuyang!"ucapnya mendesis.
Rani melongo,lalu ia mengeleng pelan.
"Tidak nek,aku tidak akan kuat hidup seperti itu,biarlah akan kujalani hidup secara wajar,apa adanya!"jawabnya lembut.
Nek rayan mendesah kecewa,hampir semua kaum perempuan keturunanya ditawarinya untuk mewarisi ilmu,dari ia sehat sampai payah seperti sekarang, namun satupun belum ada yg mau.
Malam menjelang seluruh desa terlihat sepi,semenjak mereka mengetahui sakit yg diderita nek rayan membuat kampung itu begitu mencekam,sunyi sepi seolah tak ada kehidupan.
Hingga kadang sangking sunyinya,suara erangan nek rayan mengema kepenjuru kampung mampu meremangkan bulu kuduk bagi yg mendengarnya.
Sama halnya rani,kadang ia merasa ngeri,hanya saja saat ia menatap sosok ringkih yg tinggal tulang dibalut kulit kering merintih tiada hentinya membuatnya iba.
Dari selentingan orang-orang yg datang menengok neneknya mereka bila,neneknya tidak akan bisa mati walau seluruh tubuhnya membusuk dia akan tetap hidup sampai ada yg mewarisi ilmunya.
Rani bergidik ngeri,namun juga merasa sedih karena tak bisa menghentikan penderitaan sang nenek.
Waktu malam yg terasa panjang dirasakan rani,akhirnya pagi pun menjelang.
Tepat selepas subuh tadi seluruh keluarganya telah tiba,mau tidak mau mereka terpaksa harus berkumpul mengelilingi pembaringan sang nenek.
Ada rasa jijik saat melihat tubuh nenek yg mengelupas dan hampir berbelatung,walau rani selalu membersihkannya belatung itu akan ada kembali.
Om armand adik bapak,sengaja membawa seorang perawat.
"rani bilang nenek sudah tak bisa menelan makanan,jadi terpaksa harus kita beri makanan càir melalui infus",jelasnya lalu meminta perawat itu menginfus sang nenek
Perawat itu mengeluarkan semua peralatan medisnya,lalu tanpa banyak bicara memulai pekerjaannya.
Saat ia mulai memasukkan jarum kepangkal lengan wanita itu,terlihat dahinya berkerut,keringat bercucuran membasahi seluruh wajahnya,kemudian mengganti dengan jarum yg lain.
Ia melirik ke om armand.
"Kenapa mba,sudah selesaikah?"tanyanya mengawasi wajah perawat itu.
"Anuu..om,ini si nenek jarumnya nggak mau masuk,tangan neneknya keras seperti besi!"sahutnya sambil menunjukkan beberapa butir jarum yg membengkok.
"Jarumnya tumpul kali!"tungkas om armand
"Nggak om,bukan tumpul..!tapi bengkok!"bantahnya tegas.
Om armand dan semua yg hadir ditempat itu,terpengarah,mereka saling pandang.
Nek rayan mendesis sambil mengerang,matanya mendelik.
Om Armand berbisik pada keluarganya.
"Ya sudah mba,kalau memang nggak bisa mungkin ibu saya sudah nggak mau lagi ditusuk,jadi biarlah kami usahakan alternatif lain.
Mba perawat mengangguk lalu memohon diri untuk pamitan.
"Jadi gimana cara kita mengurus ibu selanjutnya?"tanya om armand bingung
Mereka kembali beradu pandang,lalu beralih kepada rani.
"Nak kau yg paling tahu soal nenek,tolong ceritakan semuanya!"
Rani menganguk lantas menceritakan soal permasalah penyakit yg di derita sang nenek dari awal hingga akhir.
Bapak sebagai anak tertua membuka suara yg dari awal hening.
"Aku juga bingung,siapa yg mau mewarisi ilmu hitam seperti itu,rasanya aku juga tidak rela bila ada anak-anakku memilikinya!"tuturnya resah
sepi sesaat,hingga...
"Aakkhh...sakittt..saakiitt!!!erang nenek semakin menjadi,semakin lama rintihannya semakin keras dan tak terkendali.
Seluruh yg hadir diruangan itu menjadi panik kalang kabut,sampai akhirnya wanita itu terengah-engah hingga napasnya tercekat ditenggorokkannya.
Ara,mendengar semua cerita tentang ilmu sang nenek,ia sedikit tertarik,jujur ia bosan selama hidupnya remaja itu selalu terbully dan teraniaya.
Ia mendekat kearah bapak.
"Ara siap mengantikan nenek jadi pewaris ilmu kuyangnya.......????
.......Tamat..
#horrormisterihalloween...
#pewarisilmukuyang....