Kirana menghentakkan kakinya dengan wajah memerah menahan emosi. Hari ini adalah hari ulang tahunnya, tetapi kedua orang tuanya tidak mau membelikannya kue ulang tahun untuknya. Hal itu yang membuat Kirana marah sejak tadi. Kirana adalah seorang pelajar kelas satu SMP.
"Kiran, jangan seperti ini. Kamu tau bagaimana keadaan Ayah dan Ibu 'kan?" hibur sang Ibu dan berusaha membujuk putrinya.
"Kiran nggak mau tau, pokoknya ulang tahun kali ini harus ada kue ulang tahun. Titik!"
Kirana masih terus memaksa kedua orang tuanya untuk membelikannya kue. Dia berpikir jika hanya kali ini saja, karena tiap dia ulang tahun tidak pernah ada hal spesial bahkan kue ulang tahun. Wajah Kirana masih kesal hingga dia sampai di sekolah dengan diantar sang Ayah.
"Nanti Ayah belikan kuenya. Kirana mau kue yang bagaimana?" tanya Ayah dari atas sepeda motor bututnya.
"Benar, Yah? Nggak perlu yang besar, kecil saja cukup," jawab Kirana dengan mata berbinar.
Ayah tersenyum dan mengangguk. Sementara Kirana segera masuk ke area sekolah dengan perasaan gembira.
Gadis itu sudah sangat tidak sabar melihat bagaimana rupa kuenya. Seharian ini terasa begitu cepat bagi Kirana. Bahkan kini sudah waktunya pulang. Gadis itu menunggu sang Ayah yang biasanya menjemput di depan gerbang.
Cukup lama Kirana menunggu kehadiran sang Ayah yang tidak kunjung tiba. Namun, Kirana berpikir jika pasti Ayahnya sedang mampir untuk membeli kue ulang tahunnya. Memikirkan hal itu membuat Kirana kembali merasa senang.
Kernyitan di dahi gadis itu muncul tatkala ternyata yang menjemputnya adalah sang paman. Ada tanda tanya dalam kepala Kirana. Bahkan pamannya itu tidak mengucapkan sepatah kata pun selama perjalanan pulang.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah. Lagi-lagi Kirana dibuat bingung, rumahnya sangat ramai oleh orang-orang. Apakah dia juga akan mengadakan pesta ulang tahun? Begitu pikir Kirana saat ini. Namun, semua pikiran itu buyar saat Ibu berlari menghampirinya dengan suara tangis memecah keramaian di rumah ini.
Kirana masih bingung dengan apa yang terjadi. Ibu menuntun Kirana masuk ke dalam rumah dan membawanya ke ruang tengah rumah ini. Kirana terdiam membeku saat melihat sosok tertutup kain batik terbaring di tengah, di antara para ibu-ibu. Kirana menoleh pada Ibunya, ingin bertanya tapi lidahnya kelu. Firasat buruk langsung menghinggapi gadis itu.
Akhirnya Ibu menceritakan apa yang terjadi dengan diiringi tangis yang belum dapat direda. Air mata menetes keluar dari mata Kirana. Namun, mulutnya masih terkunci. Tubuhnya gemetar melihat sosok sang Ayah terbaring kaku.
Menurut cerita sang Ibu, tadi Ayah pamit untuk membelikan kue ulang tahun Kirana. Ibu sudah bilang jika tidak usah beli kue yang harganya mahal itu. Namun Ayah bersikeras tetap pergi, katanya hari ini adalah hari spesial putrinya. Alhasil Ayah tetap pergi dengan motornya menuju toko kue.
Tragedi itu terjadi setelah Ayah membeli kue. Menurut orang-orang yang menolong Ayah tadi, beliau ditabrak oleh sebuah mobil yang melaju kencang hingga membuat Ayah terlempar beberapa meter jauhnya. Ayah meninggal di tempat, sementara mobil yang menabrak langsung kabur dari sana. Ayah sempat dilarikan ke rumah sakit oleh warga sekitar.
Kirana menatap sebuah kotak di atas meja. Itu adalah kue ulang tahunnya. Air mata kembali keluar membasahi pipi. Kini ada suara isak keluar dari mulutnya. Tangannya gemetar membuka kotak itu.
Dilihatnya sebuah kue yang sudah tak berbentuk di dalam sana. Ada sebuah kertas terselip di sana, kotor oleh krim kue yang berserakan. Kirana membaca tulisan di kertas itu.
"Kirana, anak Ayah yang paling cantik dan baik hati. Maaf, Ayah tidak bisa membelikan kue yang bagus untuk Kiran. Semoga Kiran suka dengan kuenya. Selamat ulang tahun putri cantik Ayah, semoga panjang umur dan sehat selalu. Ayah dan Ibu selalu berdoa yang terbaik untuk Kiran, jadilah kebanggaan Ayah dan Ibu, ya? Semoga kelak Kiran menjadi anak yang tumbuh dengan kebahagiaan."
Kirana memeluk kertas itu dengan erat, lalu raungan muncul dari mulut gadis itu. Dia memanggil sang Ayah dengan suara pilu.
Meminta maaf atas tindakannya tadi pagi. Siapa pun yang mendengar raungan Kirana merasa sangat sedih. Sementara ada rasa sesal dalam diri Kirana.
🎂🎂🎂