Siapa yang akan menyangka bahwa siswi teladan sekaligus terpintar itu sebenarnya adalah seorang psikopat yang paling dicari selama ini?
Seorang psikopat yang amat sangat kejam dalam membunuh setiap korbannya setiap malam jum'at.
Bahkan terkadang dimutilasi hingga tak berbentuk dan susah dikenali identitasnya.
Bagaimana mungkin orang tersebut adalah orang yang sama dengan siswi paling teladan sekaligus paling pintar di SMA Nusantara ini?
Sudahlah masih seorang siswi SMA yang bisa dikatakan cantik dan imut, ia juga dikenal dengan kepintaran dan sangat teladan.
Ia juga merupakan seorang yang humble dan ramah kepada setiap orang.
Semua guru dan aktivis sekolah mengenalnya. Tal ada satupun yang tak mengenalnya.
Ia teladan dan sangat memahami aturan yang ada. Ia sangat pintar, setiap kali mempelajari hal baru ia akan langsung mengerti dengan cepat.
Maka dari itu siapa yang mempercayainya bahwa dia sebenarnya adalah si pembunuh yang telah menjadi buronan polisi selama beberapa bulan ini?
Satu-satunya penghubung yang membuatku tetap yakin bahwa memang dia ada keterkaitannya dengan pembunuhan ini adalah pembunuhan tersebut dimulai sejak dia pindah kemari beberapa bulan lalu.
Aku mencurigainya dari hal itu, dan melakukan berbagai penyelidikan secara mandiri dan sampailah pada fakta bahwa memang murid yang cantik, pintar dan teladan bagi seluruh SMA Nusantara inilah pelakunya.
Saat ini aku telah berada di hadapannya yang baru saja membunuh seseorang lagi di malam jum'at ini. Ia baru selesai mengeluarkan berbagai organ dalam yang ada di tubuh korban dan melemparnya ke sembarang arah dengan sebuah tawa manis namun mengerikan.
Ia masih mengenakan topengnya dan melihat ke arahku yang masih terpaku menatapnya dalam kondisi menyeramkan seperti itu.
Dia perlahan membuka topengnya lalu membuka suaranya juga dengan nada yang manis meski sekujur tubuhnya masih dipenuhi dengan darah dan bau amis darah pun masih menguar dengan kental disini.
"Araa, Keiji-san (Tuan Polisi) apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya sambil tersenyum manis yang malah membuatku bergidik ngeri.
"Amano-chan, a-aku telah menyaksikan kejahatanmu. A-aku harus membawamu ke pengadilan sekarang untuk diadili atas semua kejahatanmu." Ucapku terbata dan berjalan mundur menjauhinya ketika dia terus mendekat ke arahku.
"Hahaha, ayolah Keiji-san (Tuan Polisi) aku tidak melakukan apapun kok."
Aku semakin bergidik ngeri melihatnya. Ah tidak, sialan ternyata dia memanglah seorang psikopat. Pasti dia membunuh seperti ini pun tak ada alasan khususnya. Matilah aku sekarang ini!
"Kau tahu kenapa aku melakukan ini Keiji-san?" Tanyanya ketika melihat aku sudah mentok ke dinding dan tak bisa mundur lagi. Ia juga mengangkat pisau yang tadi digunakannya untuk mencabik-cabik mengeluarkan isi perut orang itu ke arah daguku.
Melihat aku yang diam saja tanpa menjawab sedikitpun malah berkeringat dengan deras dan mata yang mulai menunjukkan ketakutan, dia tersenyum manis dan melanjutkan ucapannya.
"Tak ada alasan khusus, aku hanya menyukainya saja. Terlebih melihat ekspresi ketakutan di mata korban seperti di matamu ini. Aku sengaja memilih malam jum'at hanya untuk mengecoh kalian para Keiji (Polisi) saja. Aku menikmati hal ini. Hahaha."
Sudah kuduga, benar bukan? Tak ada alasan khusus katanya dan hanya karena menyukai eskpresi ketakutan seperti milikku saat ini? Ah sudahlah aku memang akan menemui kematianku saat ini.
"Tapi karena kamu sudah melihatku seperti ini, sepertinya aku tidak bisa meninggalkan saksi hidup." Seringainya semakin menjadi saat ini.
Ketika tangannya dengan cepat menuju ke leherku, aku merasakan perih luar biasa akibat gesekan antara pisau tajam itu dengan kulit leher ku.
Napasku mulai tercekat satu per satu. Segalanya mulai terlihat buram dan menggelap. Hal terakhir yang kuingat adalah senyuman diwajahnya selama sedetik kemudian berganti ekspresi menjadi datar melihat diriku yang mulai kehilangan kesadaran ini.
FIN~~~