Hari Jumat.
Hana dipanggil ke kantor manajernya.
"Hana, maaf. Kontrak kerjamu tidak kami perpanjang."
Hana hanya tertunduk lesu. Harapannya untuk menjadi karyawan kontrak harus ia kubur dalam-dalam. Ia harus mencari pekerjaan baru.
Tapi di mana aku harus melamar kerja?
Hana bukannya malas bekerja tetapi situasi perusahaan yang sedang menurun mengharuskan pimpinan untuk mengurangi karyawan.
Sore itu Hana menemui pacarnya. Ia ingin dihibur. Tapi ia justru terkejut. Pacarnya mengatakan putus padanya. Katanya ia sudah punya laki-laki lain.
Laki-laki lain?
Ternyata pacarnya itu gay.
Hana sebenarnya sedikit banyak menyadari perilaku pacarnya yang sedikit aneh. Tapi ia tidak menduganya.
Hana semakin down. Ia memutuskan untuk terjun dari jembatan. Saat kereta hendak melintas, ia sudah bersiap untuk loncat. Kakinya sudah mulai menaiki sisi jembatan.
Tapi untunglah ada yang melihatnya. Ia menolong Hana.
"Hidup itu memang berat. Tapi tidak seharusnya kau membunuh dirimu."
"Apa yang kau tahu tentang aku? Kau itu tak tahu apa-apa." Hana marah dengan penolong hidupnya itu.
"Aku juga pernah mengalami hal yang sama." Pria itu memperlihatkan bekas luka bergaris-garis di lengannya.