Ntah bagaimana awal mulanya, seiring berjalannya waktu semua terasa terbiasa seolah sudah kenal sejak lama. Rasa yang dulu asing perlahan menjadi keakraban. Yang dulu sering salah paham kini saling mengerti dan saling memahami.
Sejak memutuskan untuk berteman, keduanya benar-benar tidak melibatkan hati. Namun, perlahan demi perlahan setiap perhatian tercurah kan begitu saja tanpa ada yang bisa mencegah. Diam-diam menjaga hati, akan tetapi tidak saling mengetahui. Diam-diam menyayangi namun tak saling menyadari.
Itulah Danu dan Nada.
Setiap hari bekerja disatu tempat yang sama, pulang dan pergi berdua, bahkan setiap weekend keduanya menghabiskan waktu bersama.
Tak ada rasa bosan yang hinggap melainkan semakin eratnya hubungan keduanya. Canda tawa mereka lalui berdua seolah didunia ini hanya tersisa mereka saja.
Namun, semuanya berubah setelah percakapan sore itu yang menjauhkan keduanya.
"Nad, misalnya besok aku lamar kamu gimana ?"
"Lah tu Si Marcelia Cendramata Ulala mau kamu begimanakan ?".
"Lah jadi bini kedua boleh lah, paduka raja mengangkat permasuri setelah itu selir."
"Kagak mau dimadu aku dah, ngeharem kamu."
"Dah lah skip, tapi aku serius nih besok aku lamar mau kagak ? Seminggu setelah itu nikah."
"Jangan ngaco deh, kita sukses dulu sama-sama. Lagian besok cepet amat kek kagak ada waktu laen aja. Persiapan dulu napa, aku mau cincin yang bagus. Kita nikahan nya mewah gitu."
"Canda mulu, aku serius nih biar besok pas aku nutup mata udah bisa nyaman dipangkuan kamu gitu."
"Ah elah mau merem doang, yeh sini biasa nya juga sembarang numpangin pala dipaha aku. "
"Intinya kamu mau gak Nad aku lamar ? Kalo kagak ya bagusan aku pulang besok aja dah."
"Kamu kayak mau pergi jauh aja, aku merinding nih."
Danu hanya menggedikkan bahunya tampak tak peduli, namun setiap kalimat yang ia ucapkan adalah ketulusan dan niat baiknya.
Tanpa Nada sangka bahwa dirinya memang sedang dilamar sahabat nya sendiri, dan dirinya hanya menanggapi dengan candaan seperti biasanya.
Tiga hari berlalu, Nada sama sekali tidak mendapat kabar dari Danu. Sore itu adalah sore terakhir dirinya bersama dengan sosok tegap yang selalu ada untuknya.
Matahari menyinari bumi dengan terik, namun mendung bergelayut hendak jatuh kapan saja. Angin dingin menghembuskan helaian rambut Nada , membawa rasa yang tak pernah terpikirkan olehnya. Jantungnya berdetak, kepalanya berdenyut, bola matanya memanas dan hatinya serasa diremas.
Hanya Danu yang terlintas olehnya saat ini, tidak ada yang lain. Hanya Danu.
"Kenapa Ya Rabb, ada apa ? Danu..."
Sraaakkkk !! Ciiiitttt !!!!! Gubraaakkkk !!!!! Baaammmmnnn!!!
"Allahu Akbaaaarrrr !!!!"
Suara benda terbentur dan teriakan semua orang menyadarkan Nada yang melamun didepan gerbang rumahnya. Pandangannya langsung mengarah pada jalan raya yang tepat tam jauh dari rumahnya, matanya menatap kosong, tangannya gemetar, matanya berlinang. Dia linglung.
Kecelakan yang melibatkan satu mobil dan satu sepeda motor dihadapannya sangat nyata, pemotor itu adalah orang yang istimewa dalam hidupnya.
Langkahnya tergesa, pandangannya kosong, wajahnya basah. Lututnya melemas setelah sampai pada tujuannya.
Tangannya meraih kepala pemuda yang berlumuran darah meletakkan dalam pangkuannya dan mendekapnya, tangan nya mendingin, bibir nya pucat, matanya terpejam.
Seketika ia menyesali penolakannya pada Danu sore itu.
"Inikah yang kamu maksud jika aku menolak, kamu akan pergi ?"
"Aku terima lamaran itu Dan, walaupun kamu nggak pernah nyatain cinta ke aku."
"Dan aku mohon bangun yaa, buka mata kamu. Kita ketemu ayah hari ini dan bicarain nikahan kita Jumat besok."
Nada meracau, mengatakan segala hal yang berkaitan dengan lamaran Danu sore itu. Dirinya menyesal tidak menanggapi keseriusan Danu, dan hari ini dirinya ingin Tuhan memberinya kesempatan kedua untuk Danu.
"Nad...... A...ku..... cin...ta... Sa....maaa... ka....muu ..."
"Danu... Danu...!!!!! Bangun Dan aku juga cinta sama kamu.... Dan aku mohon bangun !!! Hiks hiks."
Setelah kalimat cinta yang terucap dari bibir pucat Danu, Langit seolah berduka. Hujan turun dengan derasnya, mengalirkan darah Danu kesepanjang jalan. Hujan juga seolah menghapus airmata Nada yang terua mengalir tanpa henti.
Hari itu, kalimat cinta yang pertama dan terakhir dari Danu untuk Nada. Hari pertama dan terakhir keduanya saling mengakui rasa dalam hati mereka.
Danu pulang dalam dekapan Nada diiringi dengan cinta tulus dari Nada. Dan Nada yang tertinggal bersama kenangan manis dan kalimat cinta yang Danu ucapkan untuknya.