Cerpen ini berkisah tentang seorang gadis yang tersiksa di rumahnya sendiri, dia depresi karena keluarganya yang hancur. lanjut aja ke ceritanya.
Hai namaku Eli, aku anak SMP kelas 1. Aku dulu hidup dengan sangat bahagia, keluarga yang menyayangiku, kakak yang perhatian, ibu yang penyayang, ayah yang bijaksana dan baik, aku yang saat SD hidup dengan nyaman dan tentram. Sampai aku umur 14 semuanya hancur bagaikan mimpi, ayahku didiagnosis terkena penyakit yang mengganggu saraf otaknya membuat dia sering berubah ubah sikap. Aku awalnya tidak mengerti soal itu dan aku membiarkannya tapi lama kelamaan sikap keluargaku berubah, ibu yang jadi pendiam, kakak yang cuek, ayah yang pemarah, aku cukup kaget dengan mereka. Saat pagi pertama kali aku sekolah aku pergi dengan senyuman lebar di bibirku, tapi saat sampai di sekolah aku malah dilupakan. Aku kira mereka suka berteman denganku, rupanya hanya saat mereka butuh saja mereka datang dan saat aku tidak dibutuhkan lagi aku dibuang. Hari menjelang siang akupun pulang sekolah, sesampainya dirumah aku kaget. Mainan ku dibuang semua, oh iya aku entah mengapa suka bermain botol botolan dan karena itu aku sering diejek saat SD tapi aku im fine saja. Aku bertanya kenapa ayah membuang mainan ku? Ayahku menjawab karena aku harus jadi anak yang pintar dan berprestasi agar bisa membanggakan orang tua. Aku marah, sejak aku kecil ayahku tidak meminta apapun hanya meminta aku jadi anak yang baik. Tapi kenyataan ini menamparku, ayah ingin aku jadi sempurna seperti kakakku. Mulai pertengkaran itu aku dan ayahku semakin berjauhan seakan ada jurang hubungan di antara kami. Aku pernah sekali mencari bantuan ibuku, tetapi ibuku tidak ada dia sedang ingin menginap dirumah neneknya padahal saat itu aku sangat membutuhkan pelukan ibu. Tapi yang aneh ibu tidak pernah pulang mulai saat itu, aku hanya diam saja karena aku bingung. Aku bertanya kepada kak kenapa ibu belum pulang? Dia hanya melirikku saja setelah itu mengusirku dari kamar. Aku tambah kaget melihat sikap keluargaku yang semakin berubah. Hidupku saat kacau mulai saat itu. Ayah yang suka marah, ibu yang pergi, kakak yang tidak peduli, aku merasa jika aku harus terus bersabar mungkin ini hanya untuk sementara saja. Tidak berselang lama aku sudah naik kelas 2 SMP, aku mendapatkan juara ke 2 di kelas dan itu membuatku bahagia sekali. Aku segera pulang dan memberi tahu soal juara ku kepada ayah dan kakak, tapi saat pulang ayah malah marah karena aku tidak mendapat juara 1. Bahkan ayahku hampir melempar asbak ke arahku, sedangkan kakak malah pergi ke kamar tanpa peduli kepadaku. Setelah puas di marahi aku masuk ke kamar, aku menangis lelah akan hidup yang kacau ini. Untuk mengalihkan kesedihanku aku mencari game di HP untuk didownload, tapi aku tidak sengaja melihat aplikasi mangatoon. Aku saat itu kurang suka terhadap komik dan karena aku iseng aku download saja. Awalnya aku biasa saja tapi lama kelamaan aku bahagia didalam dunia milik mangatoon ini. Tapi kesenanganku malah membuat nilaiku turun, dan ayahku sampai memukulku karena itu. Akan tetapi aku diam saja menerimanya, sampai ke kamar aku tersenyum lagi saat membuka mangatoon. Tanpa aku duga aku bertemu dengan kak Rika, orang baik yang nasibnya hampir sama denganku. Aku dan dia sampai berbagi nomer karena suka sekali mengobrol. Bukan hanya kak Rika tapi aku di sana mulai mengenal banyak orang, aku bahagia sekali. Terbanding terbalik dengan kehidupanku yang asli, yang penuh dengan tangisan. Aku pernah sempat curhat dengan mereka soal keluargaku, dan mereka menganggap dengan sedih seakan mereka bisa merasakan rasa sakit yang aku alami. Aku menjalani kehidupanku tanpa senyum karena aku lelah terseyum, tidak ada yang peduli denganku, aku lelah, aku ingin mengakhirinya, tetapi aku sayang dengan kak Rika. Sampai malam itu puncaknya, aku pergi dari rumah. Aku sempat bertanya sebelum aku pergi ke ayah dan kakakku, apa aku berharga kak yah? Ayah menjawab tentu saja iya kakak juga menjawab iya, setelah itu aku tersenyum bahagia itu membuat mereka bingung. Lalu aku mengambil koper dan membawanya ke luar rumah, ayah dann kakak sempat kaget karena itu mereka bertanya mau kemana kamu membawa koper? Aku hanya tersenyum diam saja, dari kejauhan sebenarnya ada yang memerhatikan aku. Benar itu ibuku, dari terlihat sedih melihatku. Tapi hatiku sudah terlalu lelah dan sakit untuk memaafkan mereka. Setelah aku siap berangkat aku berbalik dan tersenyum ke arah keluargaku, "selamat tinggal ayah ibu kakak" sambil tersenyum 😊, "semoga kita tidak bertemu lagi" setelah aku mengucapkan itu aku pergi meninggalkan mereka. "Aku harus memulai hidupku yang baru, SEMANGAT ELI" hanya aku yang bisa menyemangati diriku sendiri, mulai saat itu aku bebas dari kekangan ayahku dan aku sangat bahagia.
Tamat~