BRAKK!
Suara nyaring itu membuatku terkejut. Aku yang sedang berada di ruang kerja pun penasaran dengan suara itu. Suaranya terdengar seperti dari halaman belakang rumah. Perlahan aku berjalan, tetapi sebelumnya aku mengambil tongkat bisbol sebagai alat jika saja tiba-tiba aku dalam bahaya.
Aku mengernyit melihat halaman belakangku yang bersinar sangat terang. Kulihat jam dinding yang ada di dapur. Jarum jam itu sudah menunjukkan angka satu dini hari. Seingatku, aku sudah mematikan semua lampu di rumah ini.
Kubuka pintu yang menghubungkan halaman belakang dengan perlahan. Bersamaan dengan itu, cahaya yang tadi kulihat meredup. Kulihat ada sesosok seperti manusia berdiri membelakangiku.
"Siapa di sana?" tanyaku berjalan mendekatinya.
Tidak ada jawaban darinya, tetapi perlahan tubuhnya berbalik. Aku menahan napas melihat sosok itu yang sedang menatapku. Matanya memancarkan sinar putih yang aneh.
Namun, cepat-cepat aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Kulihat di jemuran masih ada selimut yang lupa kuangkat. Segera kuraih kain itu dan melemparkannya pada sosok itu.
"Pakai itu!" ucapku. "Tutupi tubuhmu dengan itu," lanjutku saat melihat wajah kebingungan sosok itu.
Kuyakini bahwa sosok itu adalah manusia sepertiku, dilihat dari bentuk fisiknya. Namun, bagaimana bisa matanya bersinar terang juga di dahinya ada seperti gambar bintang. Entah itu tato atau apa. Tetapi, bintang didahinya itu juga bersinar tadi.
Refleks aku mundur saat sosok itu berjalan menghampiriku. Dia berjalan makin dekat, tapi tiba-tiba saja ia ambruk ke tanah.
"Eh? Hei, kamu nggak papa?" tanyaku.
Kusentuh tubuhnya dengan tongkat bisbol yang sejak tadi kupegang. Namun, tak ada pergerakan sama sekali.
"Jangan-jangan dia mati?"
Kuberanikan diri untuk mendekat. Kugoyangkan tubuhnya dan terus memanggilnya. Aku tidak mau ada masalah di rumahku, dituduh menjadi pembunuh padahal aku saja tidak tahu siapa sosok yang sedang terkapar ini.
GREP!
Hampir saja jantungku berhenti berdetak, tiba-tiba tanganku diraih olehnya. Kulit kami bersentuhan, sangat dingin tangannya.
"H ... hei, siapa kamu? Kenapa ada di rumahku?" tanyaku.
Tetap tidak ada jawaban, tapi dia terus memegang tanganku dengan erat. Tangannya benar-benar dingin, sedingin es. Tangannya putih pucat. Apakah dia benar-benar merasa kedinginan saat ini?
Aku yang masih memiliki rasa kemanusiaan pun membawanya masuk ke dalam rumah. Tubuhnya kubaringkan di atas sofa ruang tengah. Kubenarkan letak selimut yang tadi sempat tersingkap. Jika saja aku pria bajingan, sudah pasti sosok itu sudah habis kulahap.
Memang aku tidak bisa membohongi diriku sendiri jika sosok yang sedang terpejam itu memilki paras yang sangat cantik. Namun, kewarasanku masih menguasai.
Memang sepertinya semalaman ini aku tidak akan tidur. Padahal pekerjaanku masih belum selesai. Setelah mengambil air hangat, aku kembali lagi ke tempat sosok itu berada. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana.
"Ke mana dia? Jangan-jangan benar pencuri," gumamku.
BRUKK!
Lagi-lagi aku dibuat terkejut oleh tindakan tiba-tiba sosok itu. Kali ini jantungku berdetak lebih cepat.
"Hei, apa yang kamu lakukan?"
Aku berusaha menyingkirkan tubuhnya itu dari atas tubuhku. Entah datang darimana, dia tiba-tiba menindihku. Mataku membulat sempurna saat benda kenyal dan dingin itu berada dibibirku. Pikiranku kosong seketika. Tubuhku memanas dan energiku seperti terserap. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, karena kegelapan menyergapku.
Suara bisikan terdengar dari telingaku. Aku mulai terusik dengan suara yang tidak jelas itu. Perlahan kubuka mata dan menatap sekitar. Kepalaku terasa berdenyut, tetapi aku tidak ingat apa yang terjadi padaku. Aku terbangun di sofa dan aku benar-benar tidak ingat kapan aku tidur di sini.
Tetapi saat aku bangun, aku menemukan seseorang berdiri di sebelah sofa. Seorang wanita cantik berdiri membelakangiku. Aku mengernyit, tidak ingat siapa wanita itu.
"Siapa kamu?"
Wanita itu berbalik dan tersenyum menatapku. Melihat wajahnya, seketika ingatan yang tadinya hilang mendadak berputar di kepalaku.
"Salam makhluk bumi. Terima kasih sudah menyelamatkanku," ucapnya tersenyum, ah tidak terlihat seperti seringaian di mataku.
👽👽👽