Hari ini adalah hari yang sangat berkesan untukku. Hari di mana semua perjuanganku selama kurang lebih empat tahun berakhir. Sebenarnya ini bukanlah akhirnya, tetapi awal di mana perjuangan yang sesungguhnya akan dimulai.
Aku menatap sekitarku, orang-orang terlihat sangat cantik dan tampan pada hari ini. Para perempuan mengenakan kebaya dengan riasan yang membuat mereka tampak lebih bersinar. Sementara para laki-laki memakai setelan jas dengan sepatu pantofel hitam.
Hari ini adalah hari pengukuhan untuk para mahasiswa yang telah berjuang selama bertahun-tahun lamanya. Atribut wisuda sudah mereka kenakan termasuk aku. Mulai dari baju toga wisuda, sleber atau kerah wisuda, samir atau kalung wisuda, gordon atau medali wisuda, dan topi wisuda.
Hanya raut wajah bahagia yang terlihat sepanjang mataku memandang. Mereka berkumpul dengan teman-teman atau keluarga yang hadir ke acara wisuda ini. Sementara ini aku masih mencari keberadaan keluargaku yang datang sebagai tamu undangan.
"Ana!" panggilan dari seseorang itu membuatku menoleh.
Senyumku mengembang sempurna melihat kehadiran keluargaku di sini. Ada perasaan bahagia yang membuncah.
"Hei, jangan lari-lari! Bahaya!" peringatnya.
Aku memeluk salah satu di antara mereka. Ada orang tuaku serta adikku yang hadir. Sementara yang berada dalam dekapanku saat ini adalah suami tercintaku. Aku benar-benar terharu dan merasa tidak menyangka dapat menyelesaikan studiku tanpa hambatan. Namun, aku tidak dapat berbohong jika selama menjalani studi juga muncul masalah-masalah tak terduga.
Saat ini, studiku resmi telah selesai. Suara tawa menggema di depan gedung auditorium. Orang-orang sibuk mengabadikan momen bersama teman-teman atau keluarga.
"Na, ayo foto bareng dulu," panggil salah seorang temanku. "Mas, tolong fotoin. Yang bagus, ya?" lanjutnya memberikan sebuah kamera digital pada suamiku.
Sementara aku sudah ditarik untuk berkumpul bersama teman-teman seperjuanganku.
Kami mulai berpose dengan macam-macam gaya. Kami mengambil gambar cukup banyak dengan berbagai macam gaya. Namun, pose terakhir adalah pose wajib yang harus dilakukan ketika momen seperti ini. Ya, melempar topi wisuda setinggi mungkin dengan tawa bahagia.
CKREK!
Beberapa teman-temanku berkerumun pada kameraman, ingin melihat hasil jepretannya. Sepertinya mereka merasa puas dengan hasil bidikan suamiku.
Setelah berfoto dengan teman-teman, aku kini berfoto bersama keluarga. Aku meminta bantuan salah seorang temanku. Kami mulai berpose. Namun, tiba-tiba saja aku merasakan sedikit geli dan kaget pada perutku.
"Bayinya nendang," bisikku.
Ya, kebahagianku tidak hanya berhasil menamatkan studiku. Namun, sebentar lagi buah hati yang selama ini dinanti akan segera hadir di antara kami.
👩🎓👩🎓👩🎓