Hana dan Joshua baru saja selesai mengadakan resepsi pernikahan. Saat ini mereka berada di kamar pengantin mereka.
Selesai mengganti baju pengantin dengan piyama, mereka bercakap-cakap.
"Josh ... ada yang mau aku omongin."
"Aku juga." Joshua juga hendak membicarakan sesuatu.
"Dulu ... waktu aku masih kecil. Ada yang datang kepadaku. Wajahnya sangat mirip denganmu saat ini. Ia bilang 'Hana ... ingat! Hana cuma boleh menikah dengan pria yang bernama Joshua.' Karena itu aku terkejut saat melihatmu untuk pertama kalinya. Kamu sangat mirip dia."
"Eh? Aku juga. Seseorang yang mirip denganmu juga datang kepadaku saat aku kecil. Ia juga bilang hal yang sama. Aku cuma boleh menikah dengan wanita yang bernama Hana."
"Apa orang itu kamu?" Hana bertanya.
"Bukan. Bukan aku. Aku juga tidak tahu siapa wanita itu. Namanya siapa. Dari mana asalnya."
"Apa mungkin mereka itu cicit-cicit kita?"
"Mungkin. Masa depan itu pasti lebih canggih dari sekarang. Mungkin mereka sudah bisa membuat mesin waktu dan memberi tahu kita apa yang seharusnya kita lakukan. Sudah malam. Ayo kita tidur."
Mereka tidak tahu kalau di luar jendela kamar mereka ada dua sosok yang mereka bicarakan tadi.
"Misi kita berhasil. Sudah saatnya kita pulang ke tempat asal kita." Mereka lalu pulang.