"Tidak ayahh... jangan pergi!", Ucap Grettha. Grettha terus menangis saat melihat ayahnya itu dimasukkan ke peti jenazah. Grettha bingung, harus menyalahkan siapa, apakah ia harus menyalahkan pilot yang mengemudikan pesawat yang ditumpangi ayahnya itu, atau ia hanya bisa pasrah, karena kehidupan dan kematian ada di tangan Sang Pencipta.
-------
Kringggg.... Alarm Grettha berbunyi nyaring hingga Gretthe terbangun. "Apa!? Ternyata hanya mimpi! Syukurlah!", Ucap Grettha penuh syukur, karena kejadian itu hanyalah mimpi. Tanpa Grettha sadari, ternyata pipinya sudah basah dan matanya sembab, menandakan ia benar benar menangis tadi malam.
Grettha pun bergegas sarapan, berhubung ia harus sekolah hari ini. Sesampainya di meja makan, Grettha masih melamun membayangkan mimpinya tadi yang terlihat sangat nyata. Ia benar benar tidak tahu apa yang harus dilakukan jika ia benar benar kehilangan ayahnya. Hingga, Ayah Grettha yang menyuruhnya segera mandi pun membuyarkan lamunannya.
Grettha pun pergi ke sekolah diantar ibunya dan ayahnya. Namun, saat Grettha sampai di sekolah, ia memiliki firasat buruk. Ia menjadi tidak konsentrasi saat guru menjelaskan materi, dan hingga akhirnya ia ditegur gurunya.
Kriiing... Ponsel wali kelas Grettha pun berbunyi, dan ternyata orang yang menghubungi wali kelas Grettha adalah ibunya Grettha. Wali kelas Grettha, yang bernama Ellie pun mengangkat telepon itu di luar.
Selesai menelpon Ibu Grettha, Bu Ellie pun memasuki kelas dengan matanya yang sedikit berlinang air mata. "Grettha, ibumu menyuruhmu pulang sekarang, tetangga sebelah ruma pahmu akan menjemputmu sekarang!", Ucap Bu Ellie dengan nada yang seolah olah mengucapkan kabar buruk. "Baik Bu, tapi ini masih jam pelajaran, ada apa ya Bu?", Tanya Grettha sopan.
Bu Ellie pun merasa tak tega akan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada Grettha. "Grettha, pulanglah terlebih dahulu, ibumu ada urusan penting!", ucap Bu Ellie. Grettha pun tampaknya tidak bisa membantah lagi, ia pun segera mengikuti perintah Wali kelasnya itu.
Saat ia di mobil tetangganya itu, firasat buruk Grettha semakin menjadi jadi. Ia merasa ada yang tidak beres, karena ia disuruh pulang ke rumah.
Sampai di rumah...
Keluarga dan tetangga Grettha sedang berkumpul di rumahnya. Tampak banyak suara tangisan dari rumah Grettha itu. Ia pun melihat ke arah sekitarnya dan ada bendera merah. Grettha pun langsung turun dari mobil yang ditumpanginya dan berlari ke rumahnya itu.
"Ibu, ibu ada apa Bu?", Tanya Grettha yang ikut sedih saat ibunya menangis. Ibu Grettha yang ingin memberi tahu Grettha pun tidak bisa, karena mulutnya sudah terkunci, karena nangis sesenggukan. Bibi Grettha pun yang matanya sudah merah karena menangis memberi tahu Grettha apa yang telah terjadi.
"Nak, ini tentang ayahmu!", Ucap bibi Grettha. Grettha yang mendengar itu pun langsung kaget, karena ia juga tidak melihat ayahnya saat ia sampai di rumah. "Grettha, setelah kamu berangkat sekolah tadi, ayahmu pergi ke kantor pusat, di luar pulau Jawa.", Lanjut bibi Grettha.
"Lalu, ada apa bibi?", Tanya Grettha sembari berharap hal yang ada di mimpinya itu tidak nyata. Grettha pun salah fokus dengan berita di televisi. Berita itu mengenai topik kecelakaan pesawat jurusan Jawa-Sumatra pada pukul 08.00 WIB.
Grettha pun langsung menangis karena ia tidak menyangka, kalau mimpinya itu adalah sebuah peringatan tentang kepergian ayahnya itu.
~End~
Amanat: Sayangilah dan hormatilah orang tua kalian sebelum mereka tidak bisa "melihatmu" lagi untuk selama lamanya.
#Mimpi dan kenyataan saling terkait
#Tantangan Hari 13
*Author yang lagi buat cerpen ini ikutan nangis 🤧