Sendiri
Menapaki sisa malam ini
Menghitung waktu sendiri dalam sepi
Menghibur diri dalam lamunan tanpa arti
Mengapa malam ini menipu
Saat kau tiada hadir menemaniku
Sebarapa tidak berartikah aku di hidupmu
Tak sudikah kau datangkan kehadiranmu
Bulan seakan khianat
Mencampakan dalam gelap sunyi langit
Yang setia hanya bintang
Juga nyanyian nyamuk yang serupa gendang
Wahai penghuni malam
Dengarlah, ada manusia yang kurindukan
Tanpanya aku kesepian
Rembulan cerah seakan suram
Wahai malam
Mintakan kepada Tuhan
Agar aku tertidur dalam keterlelapan
Ingin sepi ini kubawa dalam alam impian
Agar tiada sempat ku teteskan air mata harapan.
Puisi tersebut menceritakan tentang malam yang suram, dimana seseorang yang kita rindukan tiada tidak bersama lagi, malam Jum'at lalu dirinya masih ada di dekapan nya, Masih ada di sisinya, namun malam Jum'at ini.
Menjadi Malam Jum'at yang sangat suram bagi seseorang pecinta keramaian, namun ini untuk orang yang pecinta kesunyian pun, pasti merasakan suram jika seseorang yang sudah lama melekat dengan kita kini dia tiada.
Hembusan angin membius hidungnya yang kini sudah merasakan dingin, alunan musik angin membuat suasana semakin suram dan sepi, seorang lelaki yang kini sedang menatapi langit tanpa bintang, dan bulan tengah tertutup awan malam.
sungguh dunianya sangatlah sepi dan sunyi, seringkali nya wanita yang sering bersamaku menatap langit yang dihiasi banyak bintang dan bulan yang membulat sempurna, kini semuanya hilang bersama seisinya.
Gibran yang tengah menghayal akan kedatangan sesosok istrinya dari arah yang ia tatap, ingin sekali memeluknya, ingin sekali mengecup kening nya, istrinya yang baru saja meninggalkannya karena takdir, kini sudah tenang di alam sana.
kini hanya pelukan dingin yang Gibran rasakan, Lirihan hatinya membuat malam ini semakin sunyi.
"Ya Allah kenapa kau ambil bidadari ku, kenapa kau tidak ambil aku juga untuk menemaninya, pasti dirinya merasa sendiri di sana, sama seperti ku yang kini hanya memeluk angin dingin. ya Allah cabut juga nyawaku dan pertemukan kembali aku dengan nya, aku tidak kuat hidup dengan kesuraman ini, Seharusnya malam Jum'at ini adalah malam di mana kami melakukan sunah dari mu, kenapa kau membawa istriku, aku tidak punya teman tidur sekarang, kini hanya bantal dan guling yang menjadi pelukan ku".
Berhenti sejenak merenungi kembali dan menunduk menginginkan ucapannya terkabul dan segera menatap wajah ayu istrinya.
"Aku memohon padamu datangkan dia untuk menemaniku malam ini, agar aku tidak merasa sunyi dan sendiri, dan agar dunia ku tidak suram seperti malam ini, Aku sangat memohon padamu"
Sambung Gibran kembali menatap langit yang masih kosong belum terhiasi bintang, mungkin hanya beberapa bintang saja ada, tapi ini tidak cukup menerangi jiwa Gibran yang benar-benar sudah suram, karena cahaya yang sebenarnya adalah istrinya.
Satu persatu bintang mulai bermunculan menampakan dirinya, semakin banyak bintang itu keluar semakin terlihat nampak jelas bintang itu membentuk wajah sang istrinya.
Seketika yang matanya tadi sangat layu kini segar saat melihat kumpulan bintang itu membentuk wajah nan ayu istrinya.
"Sungguh!! apakah itu wajah istriku??" Seketika bintang itu kembali ke asalnya, bintang yang tadinya membentuk wajah istrinya kini pudar dan mulai padam cahayanya.
Gibran hanya sekilas melihat wajah sang istrinya, dirinya merasa sangat kesal, kenapa hanya sekilas saja wajah itu melukis kebahagiaan wajahnya, kini wajah Gibran kembali pada aslinya yang semakin tidak berarti, malam ini benar-benar malam tak ada arti baginya.
.
.
.
.
Dah sampai situ, Semoga kalian suka, jangan lupa tekan lovenya dan tinggalkan komentar jika kalian merasa suka dan ada koreksi untuk ceritaku ini, terima kasih kembali kalian mau mampir dan membaca cerita receh ku ini, terima kasih 🥰.