Seseorang datang padaku dan bertanya.
"Kau bahagia meski ini ilusi?"
"Tentu. Kenapa tidak?"
~~
Satu malam, satu hari, satu minggu dan satu bulan. Tak kusangka aku akan menunggu harapan itu datang padaku. Kenapa harus ditunggu jika aku bisa membuangnya?
Maaf, tidak bisa.
Alasan untuk tetap hidup hanya satu harapan itu. Apakah terwujud atau tidaknya, aku tetap akan melakukannya.
Jika di ingat kembali...
Waktu itu aku merasa seperti diombang-ambing oleh lautan. Terasa nyaman. Tidak tenggelam, namun tidak pula mengambang.
Kertas-kertas tidak rusak dan sampulnya terbuka memperlihatkan isi tiap-tiap buku. Bebatuan seperti berhenti oleh waktu. Bahkan ada yang lebih besar. Tidak tenggelam seperti keberadaan ikan.
Mimpikah? Tapi dengan jelas, aku dapat merasakan air juga gelombang air.
Dingin. Sepi. Kepala pusing serasa baru saja aku terbentur.
Bukannya aku baru saja terjun dari atas tebing?
Di permukaan, sebuah tangan menawarkan dirinya agar aku bisa naik ke atas.
Tapi, aku khawatir kalau dia akan ditarik masuk ke dalam lautan entah apa namanya.
Terima atau tidak.
Terima atau tidak.
Terima atau--
Aku merasakan ada hawa panas dari dasar laut ini. Kutengok ke bawah dan ada banyak tangan yang ingin merangkul ku untuk masuk ke dalam. Ke dasar lautan.
Kenapa hanya ada satu di permukaan sementara lebih banyak di bawah?
Aku tidak tahu mana yang buruk dan baik. Kuputuskan untuk ikut pada tangan yang menawarkan dirinya padaku.
Kugenggam dan apa selanjutnya?
Tiba-tiba, tangan itu menarik ku keatas.
"Haaeuup... paahh!! uhuk, uhuk... uhuk uhuk..." aku tahu sensasi ini.
Atur nafas dengan perlahan dan perlahan. Udara kini masuk tanpa perlawanan. Seakan aku terlahir kembali.
Mataku silau setelahnya. Tubuhku menghadap ke langit dan melihat awan-awan cantik. Pemandangan yang langka walau aku harus mengerutkan dahi dan mataku.
"Berapa banyak kau minum? Berapa banyak kau makan?" Suara itu memang tak jauh dari sana. Tapi, masih terdengar samar.
"Apa yang aku minum? Apa yang aku makan?" Tanyaku balik. "Aku tidak ingat apapun." Aku menunduk dan tidak melihat langsung pemilik dari tangan tersebut.
Aneh sekali. Aku tidak ingat... apapun...
"Sungguh menyedihkan." Katanya.
Aku harus berbuat apa? Mungkin marah? Senang? Sedih? Atau apapun? Bahkan aku tidak tahu apa dia ingin aku bahagia atau malah terpuruk.
Sebenarnya apa itu kebahagiaan? Apa arti putus asa?
Aku merasa seakan keduanya tidaklah berbeda.
"Bagaimana rasanya di terjunkan dari atas tebing?" Tanya nya lagi.
"Apa... aku... tidak tahu apa yang terjadi tadi." Jawabku.
"Apa yang kau rasakan saat ini?"
Kini aku mengangkat wajahku. Alu menatapnya agak lama. Setelah itu aku melihat sekeliling dan pertanyaan memenuhi kepalaku.
Yang paling aku tanyakan saat ini adalah,
Sebenarnya siapa aku?
"Aku merasakan segalanya. Bahkan terasa seperti melayang." Jawabku. "Baik sakit, atau bingung. Keduanya paling menonjol." Sambung ku.
Dia tersenyum.
Dia... tersenyum?
Lalu pergi menjauh dan hilang tanpa jejak.
Apa etika setelah kau diberi bantuan? Aku tak yakin kalau aku diberi bantuan olehnya atau tidak. Bisa jadi ajakan dari dasar laut lebih baik atau buruk.
Ya.
Itulah yang aku rasakan waktu itu.
Dia memberi kehidupan damai padaku.
Sekarang aku tidak minum-minuman alkohol yang bahkan sudah seperti darah daging ku sendiri.
Meski aku alkoholik, dia membantu ku. Tetap membantu ku. Dan memberi harapan padaku agar dia kembali.
Setelahnya apa?
Seperti yang ku bilang, apakah terwujud atau tidaknya, aku tetap akan melakukannya.
Obat tidur kini ada di tanganku. Tanpa resep dokter atau bahkan saran-saran dari rekan kerja. Ku makan obatnya sebanyak mungkin. Dan saat aku mengedipkan mata.
Aku kembali lagi. Pada masa itu.
Tapi, kali ini aku ditarik secara tiba-tiba oleh tangan-tangan itu. Yang penuh dengan cakar dan membungkam mulut ku. Aku tak melihat cahaya lagi setelahnya.
Aku tersenyum. Aku tidak tahu mengapa aku tersenyum. Aku tidak ingat apapun. Tapi, yang pasti aku senang meski ini ilusi.
Seseorang datang padaku dan bertanya.
"Kau bahagia meski ini ilusi?"
"Tentu. Kenapa tidak?"
"Dan kenapa?"
"Karena aku bisa membuang harapan itu dan mewujudkan nya disini. Jalan yang mengerikan belum tentu bisa ku lalui. Namun, satu-satunya harapan aku bisa hidup adalah disini." Jawabku.
"Kau tak ingin kembali."
"Tapi, aku kembali."
Dia hanya menatapku. Aku tidak tahu tatapan itu dingin atau tidak. Mungkin marah? Aku tidak ingat apapun.
"Selamat. Satu gelar terburuk yang kau lakukan saat ini adalah meninggalkan semuanya hanya untuk kesenangan sementara."
Apa?
Ya. Itulah yang ia katakan sebelum ia pergi. Dan sekarang aku tidak tahu sudah berapa lama aku berada di dunia tanpa apapun. Dan tanpa nama.