Tapi ini bukan soal penantian, kasih. bukan pula soal harapan. salah satu alasan mengapa saya memilih untuk tetap terjaga adalah karena saya teramat mencintai malam. menyesap kegelapan dalam diam kesendirian. khidmat. transparan. imajinatif. persuasif. memabukkan.
malam itu saya keluar dari rumah. berjalan kaki menuju toserba di deretan ruko depan. membeli rokok dua bungkus untuk perbekalan. siapa sangka justru di fase anomali seperti itu saya dicumbu malam tanpa peringatan? terbuai. saya lunglai. kaki saya melangkah lebih jauh, meninggalkan tubuh yang terlalu gontai di balik tirai. seutas fragmen perpisahan tanpa pamitan.
batang pertama membara
saya menyapa lalu lintas. senyap. hanya ada deru nafas. hanya desau angin selewat pintas. sapuannya mempercepat laju bara, memperkosa batang pertama, hingga kandas terbakar tuntas. bangsat. sekalipun belaiannya nikmat.
batang kedua
trotoar yang belum rampung. beberapa bata merahnya terapung di genangan mendung. saya ingat, sore tadi hujan turun cukup deras. sayang sekali saya tidak sempat menemaninya menari. atau bernyanyi. padahal langit begitu pundung dan semesta seolah mendukung. ke mana saya sore ini? sibuk sendiri merangkai noktah kefanaan ilusi. maaf, kasih, saya memang manusia tidak tahu diri.
batang ketiga
ada lampu jalan redup. saya sapa, dia hanya mengangguk. saya berhenti sebentar, pura-pura berhenti karena batuk, lalu duduk. saya tanya apakah dirinya suntuk, atau malah mengantuk? tidak jawabnya. hanya gelisah. gelisah yang meluap karena rasa bersalah. beberapa malam sebelumnya, ada seorang wanita diperkosa di deretan ruko seberang dan dia tidak sanggup berbuat apa-apa. dia gemetar. sejak itulah cahayanya tidak lebih dari sekedar pendar samar. cahaya yang berbalut butir nanar. baiklah, satu batang lagi untuk menemaninya yang tengah dirundung gusar. lalu rokok saya dia bakar.
batang kelima
saya menatap kerlip megah sebuah korporasi bajingan yang berani menamai dirinya institusi pendidikan. sungguhpun di hamparan sabana gading serpong dengan iklim durjana pekat petaka, gayanya senantiasa jumawa. sekalipun bangunannya tidak dirancang sesuai kebutuhan, hanya semata selera pemimpin yayasan. saya ludahi pagarnya. tidak sabar untuk angkat kaki dari pabrik ini dengan segera. karena selama dirinya hanya melihat mahasiswa sebagai karung materi, selama itulah dia menyusun strategi licik yang niscaya berakhir cukup di laporan neraca laba rugi. dan korporasi ini adalah mereka yang menduakan materi pun prestasi seraya menafikan nurani. ah… tahi!
batang keenam
akhirnya saya memutar. melewati pasar modern paramount tempat kawan-kawan biasa makan malam bergerombol. ada beberapa wajah familiar. sibuk tertawa bersama aroma hidangan yang menguar lebar. mereka tidak sadar ada saya. baguslah. lakon insignifikan toh lebih dahulu ditakdirkan musnah. saya lewati mereka tanpa menyapa sesuai instruksi si pencetus naskah. alasannya, saya harus tetap melangkah. waktu mulai terlihat gundah.
batang ketujuh
sampai kembali di rumah. dengan total 9733 langkah (bila saya tidak salah) dan dua puluh enam ribu empat ratus rupiah. saya lelah. bergumul bersama abstraksi ternyata mendera tenaga. terutama rintih tatih dan larik lagu yang tak lekang dideru hamparan haru, sekalipun eksotika malam tidak pernah keliru. dan tulisan ini teramat ambigu…
kasih, malam tidak pernah mengecewakan. ada ribuan berhala rahasia kehidupan yang pelik berusaha berbisik. ada jutaan memori yang terusik. ada labirin berisi babak demi babak tragik. dan sejatinya, ke-sementara-an akan mengoyak yang-abadi, karena ketidakpastian ternyata begitu berarti. tidak perlu dipahami. cukup kita amini. ya, kita amini...
good night