" Apa salah ku hingga kamu tega meracuniku ? "
" Racun apa yang kau berikan sehingga aku tidak bisa hidup tanpa penawarnya ? "
#Racun #Cintapertama #Pantai
Di sore yang tenang itu , seorang pria berjalan-jalan di pantai yang sepi guna menghilangkan rasa stres akibat pekerjaannya . Matahari yang hampir terbenam memancarkan cahaya jingga ke wajahnya . Angin lembut meniup rambutnya membuat rambutnya berantakan .
" Sungguh karyawan-karyawan tidak berguna , mempromosikan produk saja tidak bisa " gerutu pria itu.
Pria itu melanjutkan langkahnya hingga ia tiba di ujung dari pantai itu . Tempat dimana rumah-rumah kecil penjual sourvenir berdiri . Semua toko sourvenir sudah tampak sepi dan tidak ada orang kecuali , toko lukisan .
Seorang wanita sedang melukis langit sore yang cerah diantara laut dalam yang gelap . Sesaat wanita itu berbalik dan mata mereka bertatapan .
"Sangat indah " batin pria itu mengatakan untuk berjalan menuju ke toko itu . Satu , dua langkah pria itu tiba didepan toko itu . Wanita yang tadinya hanya diam , perlahan juga maju dan menyapa
" Hai , ada yang bisa ku bantu ? " ujarnya
" Hai juga , aku Zevan " ya , itulah nama dari pria itu .
" Adinda " Adinda menjabat tangan Zevan .
" Adinda ? Nama yang cocok untukmu "
Begitulah awal pertemuan Zevan dan Adinda yang tidak disengaja . Perlahan mereka semakin dekat , Zevan sering berkunjung ke tempat Adinda setiap hari untuk belajar melukis maupun curhat tentang pekerjaannya . Setelah sebulan Zevan berhasil menghasilkan lukisan dari potret Adinda .
Tapi suatu saat Adinda harus kembali ke kampung halamannya karena bisnisnya tidak berjalan lancar dan harus ditutup . Adinda akan mengatakan salam perpisahan di pertemuannya dengan Zevan hari ini .
" Van , aku harus pergi " ucapnya tanpa menatap Zevan
" Kemana ? " tanya Zevan yang masih tidak tau apa apa
" Aku akan kembali ke kampung halaman ku "
" Kapan kamu akan kembali ? " tanyanya lagi
" Zevan , aku tidak akan kembali lagi " setelah mengucapkan kalimat itu , suasana menjadi tegang . Zevan terlihat terkejut dan panik .
" Kenapa ? " Zevan segera berbalik menghadap Adinda
" Toko ku sudah tidak bisa dijalankan lagi , aku harus kembali "
"Bagaimana denganku ? " Zevan mengenggam kedua tangan Adinda yang dingin karena tiupan angin pantai .
" Kamu tidak pernah memberiku kejelasan tentang hubungan kita . Aku bahkan tidak tau apakah aku hanya teman curhat atau lebih " Adinda melepaskan tangannya dan hendak berjalan berbalik meninggalkan Zevan
" Kamu tidak boleh pergi ! " Zevan meraih pergelangan tangan Adinda dan membuat terhenti
" Kamu harus bertanggungjawab . Sejak pertemuan pertama denganmu , aku merasa aku telah teracuni olehmu . Adinda , kamu meracuni ku hingga aku tidak bisa hidup tanpa dirimu . Jika kamu pergi , siapa yang akan menjadi penawar dari racun didalam tubuhku ? "
" Adinda , maaf jika aku tidak memberi kejelasan padamu . Tapi aku ingin kamu tau kalau dirimu adalah cinta pertamaku . Dirimu adalah cinta pandangan pertama ku "
"Tapi , aku tidak memiliki biaya untuk bertahan disini lagi . Aku harus pulang ke rumah orangtuaku "
"Menikahlah dengan ku . Jadilah istriku . Dengan begitu kamu tidak perlu mencemaskan biaya hidup dan kita bisa tetap bersama "
"ini...ini lamaran mendadak "
" Tidak , aku sudah merencanakan ini sejak pertemuan kedua kita. Jadi ini tidak termasuk lamaran dadakan. Dan jawabanmu hanya ada dua pilihan yaitu iya atau gak mau nolak "
" Ih dasar calon suami pemaksa "
" Calon suami ? Itu artinya kamu terima ! " Setelah mendengar jawaban Adinda , Zevan mengendong Adinda setinggi mungkin dan berputar-putar karena sangking bahagianya .
"Aaahh turun kan aku ! "
Kamu yang telah meracuniku dengan mata berkilau mu itu , maka kamu juga yang harus bertanggungjawab dan memberikan penawarnya padaku
~ Adinda , siapkah kamu menjadi istri ku ? ~