Hana berjalan dan berjalan. Ia sudah tidak tahu hendak ke mana malam hari ini. Ia diusir dari kos-kosan karena belum bisa membayar uang kos.
Perutnya terasa lapar tapi uangnya sudah tidak ada lagi. Ia lalu menuju ke mesin penjual roti otomatis. Menekan tombol-tombol di sana berharap akan terjadi keajaiban. Tetapi tak ada hasil. Ia pun duduk di sebelah mesin itu dan tertidur.
Seorang pria memasukkan sekeping uang logam lalu memencet tombol. Tak lama kemudian keluar sebuah roti.
Hana melihat pria itu. Pria itu juga melihat Hana.
"Kruk ... kruk ..." Perut Hana berbunyi. Pria itu membagi rotinya separuh untuk Hana. Hana lalu memakannya dengan lahap.
Pria itu berjalan hendak pulang ke rumahnya. Hana mengikutinya. Pria itu menoleh ke belakang, "Percuma kau mengikutiku. Aku juga tidak punya apa-apa."
Tapi setidaknya kau pasti punya tempat tinggal.
Pria itu akhirnya menerima Hana di rumah sederhananya karena kasihan. Hana tinggal di sana. Ia mencari pekerjaan. Setelah beberapa waktu ia mulai bekerja. Saat ia sudah mengumpulkan cukup uang, ia hendak pindah.
Tapi pria itu berkata, "Aku ingin kau tetap tinggal di sini untuk seterusnya. Tidak ... jika aku bisa mendapatkan tempat yang lebih layak, aku akan mengajakmu tinggal bersamaku."