Apa bagusnya kopi dengan gula dan kopi tanpa gula? Menurutnya, semuanya biasa saja. Atau mungkin luar biasa. Benaknya berpikir demikian.
Dan dia tidak suka kopi.
"Satu kopi." Katanya.
"Dan...?" Pelayan itu menunggu untuk dijawab.
"Entahlah. Kalau ada, rasa yang membuatmu masih memiliki alasan untuk hidup." Pelayan itu hanya tersenyum dan pergi meninggalkan pelanggan.
Lesu, lemas dan putus asa. Seakan dia ingin sesegera mungkin mengakhiri hidupnya. Kalau bisa, dia berharap ada angin saat kematian menjemput. Mungkin jawabannya adalah terjun dari atas gedung.
Seorang pria mendatanginya lalu bertanya apakah dia boleh duduk bersamanya atau tidak.
"Ada banyak tempat kosong. Tak apa juga jika ingin menetap." Jawabnya.
Pria itu tersenyum dan duduk berseberangan dengannya. Dia menanyakan siapa dan mengapa dia disini.
"Aku Mila. Dan entah kenapa aku ingin kopi." Jawabnya. "Bagaimana denganmu?"
Pria itu menjawab hanya berteduh dari hujan. Hampir sama dengan maksud Mila meski tujuan akhirnya takkan sama. Tak lama, si pelayan datang membawa satu cangkir. Tapi, saat dilihat lagi ternyata dia membawa dua cangkir penuh berisian kopi.
Mila tak menyangka pelayan itu membawa dua cangkir. Bisa saja itu pesanan pria itu. Dia tidak terlalu memperhatikan sekitaran.
"Apa kau suka kopi dengan gula?" Tanya pria itu.
"Tidak." Jawabnya lalu menyeruput pelan kopi yang kini ada ditanganya.
"Oh..." dia pun menyeruput kopi manis itu.
"Nama." Singkat Mila.
"Ya?"
"Siapa namamu?" Tanya Mila.
"Dan untuk apa? Kita hanya akan duduk-duduk lalu tidak pernah bertemu lagi. Kalau memang jodoh, pasti bertemu." Katanya.
"Mungkin. Mungkin juga tidak." Kata Mila.
Untuk sesaat Mila melirik pria itu.
"Apa yang membuatmu ingin mengakhiri hidupmu?" Tanya pria itu tiba-tiba.
Tak ada jawaban selama bermenit-menit kemudian.
"Tidak ada yang perlu ditanggung jawab kan lagi di dunia ini. Tidak bahagia. Membebani diri dengan segala macam aturan yang sia-sia." Jawab Mila.
"Semua seakan sudah rusak. Hancur. Terlebih lagi aku tidak tertarik mencari kebahagiaan." Sambungnya.
Dia meminum kopinya lagi. Rasanya malah menjadi lebih pahit.
"Kapan terakhir kali kau tersenyum?" Tanya pria itu.
"Aku tidak tahu."
"Sungguh?" Pria itu bertanya.
"Ya." Jawabnya dengan lemas. "Aku tidak ingat."
"Apa yang kau ingat?" Tanya lagi pria itu.
"Bagaimana cara mengakhiri hidupmu." Jawab Mila dengan enteng.
"Bagaimana dengan hal-hal baik?"
"Lau mendengarkanku dan tidak mencegahku untuk bunuh diri."
Keduanya diam mendengarkan hujan setelahnya. Cukup lama. Hampir setengah jam mereka disana. Dingin menyeruak menyentuh kulit.
"Kau ingin tahu sesuatu yang aneh?" Tanya pria itu membuyarkan lamunan.
"Kurasa." Kata Mila.
"Hidup lebih dari itu. Lebih dari apa yang kau pikirkan." Katanya.
"Lalu?" Mila menatap lekat matanya.
"Kau harus menemukan nya. Setelah itu terserah apapun yang kau lakukan. Memikirkan cara bunuh diri atau apapun itu." Katanya.
Mila hanya terdiam dan membisu. Tatapannya yang awalnya kosong tanpa adanya tanda-tanda kehidupan itu berubah. Mila mungkin tahu jawabannya.
"Kurasa... akan aku coba." Katanya dan tersenyum.
Kini hujan reda dan dingin digantikan oleh sinar cahaya matahari.
"Kurasa aku harus pergi sekarang. Terimakasih untuk mengingatkan ku akan hal sepele seperti itu. Walau tak ada jaminan aku akan melakukannya atau tidak." Katanya.
Dia berdiri dan meninggalkan sejumlah uang di meja.
"Tunggu." Cegah pria itu.
"Ya?"
"Tidakkah kau berpikir kau tak perlu bayar?" Tanya pria itu.
"Tolong jangan mentraktirku. Kamu bahkan telah menolongku hari ini. Bagaimana caraku membalas hanya itu satu-satunya cara." Jelas Mila.
Pria itu hanya tertawa kecil mendengar perkataan Mila. Lantas Mila bingung dengan apa yang ia lihat.
"Aku manajer disini. Tak perlu bayar. Asal datang kesini lebih sering untuk menjadi teman bincangku saja." Kata pria itu.
Mila tentunya terkejut, tapi setelahnya ia pun mengangguk pelan.
Hari itu adalah hari dimana ia mulai menyukai kopi. Dan hari pertama ia merasa hidup kembali.