SURAT KEPADA LAYANG
Hai kawan,
Mungkin kau sudah tak ada lagi saat membaca surat ini.
Ini tentang suatu masa dimana kita bisa mengikuti suatu perjalanan akan waktu. Untuk secepatnya.
Dimana bumi berputar cepat. Sehingga menunjuk pada jam. Dan matahari diputarnya. Untuk menghitung hari.
Serta tahun yang berjalan. Sementara matahari terus mengelililingi lubang hitam galaksi. Dan galaksi akan berkelana untuk membaur dan saling bergabung dalam tempo yang sulit diukur.
Segalanya hanya perkiraan. Dan tak akan bisa dijangkau. Sejauh perkiraan kita tak bisa lagi mengira-ngira sesuatu itu.
Meskipun waktu terus berjalan. Tapi perjalanan menyusuri alam semesta tak akan terjangkau. Dan selama itu, waktu yang merambat kian cepat. Senantiasa menjadikannya tanpa tujuan. Yang akan terus mengejar. Serta saling mengurai. Dalam sebuah perjalanan akan waktu yang panjang.
Ingatkah kau akan lagu kita. Lagu tentang sesuatu. Aku mengambil gitar. Gitar untuk gita kita. Meskipun bagian bawahnya sudah menganga, dan lem korea sudah tak mampu merekatnya, setidaknya masih ada suara dari tiap-tiap senarnya.
G Em Am D
Seputih embun
Kita lantunkan
Dan menyemai batin
Yang sudah rapuh
G
Pulang cepat
Lekaslah
Pulang
Aku menunggu
G
Kita ingin menciptakan waktu sendiri
Bersama desau angin
Dan indah nya bunga semboja
Yang mulai mekar
Tapi tak pernah semi
Gugur bersama tiupan angin.
Lagu tanpa reffren
Dan Aku tak ingin mengulang
Sebab aku tahu
Kisah ini tak akan terulang.
Cawoenganteun, tj1l4tj4p.
t.t.d.
Aku yang merindukanmu.