P. CAHYONO
Day /15 November
Dari rumah jam 4. Biasa malam minggu, malam yang panjang, malam yang asik buat jalan-jalan.
Sampai kota sudah mulai gerimis. Musim hujan. Juga musim yang tak biasa. Walau musim kawin cerai lagi berkurang.
Di hutan ramai. Kendaraan masih hilir mudik. Meskipun sepi. Dan warung-warung tengah hutan itu sudah mulai menutup diri. Dari kengerian hutan.
Lalu sampai di pertigaan di kota yang sangat ramai, masih banyak yang melintas.
Ada yang mau belok. Ngawur. Mereka biasanya asal sepi langsung saja main selonong. Sudah tak tertib, tapi ingin cepat saja. Berhenti sejenak juga tak mau. Bencana ini. Hingga hampir saja saling senggol. Dan barulah mau berhenti kalau sudah demikian.
Menonton film. Yang mau main sudah tak ada. Akhirnya lihat yang malam.
Sembari menunggu film jalan, kita beli makan. Hanya ayam bakar saja. Dengan minum es teh. Tapi sudah paketan.
Menunggu sembari duduk-duduk dan hanya main HP.
Hujan turun sangat deras. Ada geledek tapi dalam ruang nggak terdengar. Karena suara mesin mainan anak, begitu keras.
Film main. Sudah boleh masuk. Sudah boleh duduk berdempetan.
Hingga film usai.
Banyak WA masuk. Tapi tak sempat membaca. Gambar juga buram. Masih loading.
Lalu pulang. Hujan sangat deras. Mesti pakai jas hujan.
Nampak di kejauhan bercahaya. Kilang biasa membakar minyak bumi. Meskipun hujan. Api di cerobong tingginya itu biasanya masih menyala. Tak kunjung padam.
Tapi malam ini aneh. Nampaknya cahaya pembakaran itu sedikit beda dengan biasanya. Nampak lebih terang. Walaupun tertutup oleh bangunan rumah di perkotaan yang padat. Nampak terang, terutama saat jalan mengarah pada titik panas itu.
Pada sebuah kejauhan dimana masih ada sawah, nampak banyak kendaraan berhenti. Mereka parkir rapi dan melihat ke satu titik.
Memandang ke arah kilang. Ada yang terbakar. Barangkali kena petir. Itu aku belum tahu kabarnya. Biasa, kalau musim begini memang seringkali ada yang terbakar. Petir demikian ganas. Kalaupun tak menyambar, maka lonjakan arus kuatnya akan menyeret arus listrik di sebuah bangunan ikut melonjak. Hingga terjadi yang tak diinginkan. Apalagi kilang sudah beberapa kali terjadi. Tak hanya disini tapi disana dan di luar sana juga demikian. Petir arus kuat itu yang menjadi penyebab bencana. Bahkan suatu saat biasa lebih dari satu kilang yang terbakar. Karea api masih sempat menyebar ke kilang lainnya yang belum sempat di tutup aliran minyak bumi nya. Hingga terkadang sampai tiga atau lebih yang kena.
Ikut berhenti melihat. Penasaran. Biasa kan kalau ada kerumunan pasti bakalan ikut penasaran. Karena sebagai manusia, jika tidak menyaksikan sendiri kayaknya kurang puas. Apalagi jika hanya mendengar berita. Seperti kali ini, makanya ingin ikut melihat apa yang tengah dipertontnkan bersama itu. Satu peristwa yang langka. Meskipun seringkali terjadi. Tapi tak tahu waktu dan satu hal nya. Karena siapapun tak ingin rugi. Ini karena bencana. Hanya terlalu sering nya itu yang mesti di lihat. Barangkali system keamanannya yang mesti diperketat. Dan pengamanannya juga mesti di tambah. Sehingga bencana yang terus terulang demikian bisa diminimalisir. Kalaupun itu masalah petir, barangkali penangkalnya mesti di perbanyak serta mesti di buat alat yang lebih canggih. Memang bencana taka da yang tahu dan tak diinginkan. Namun kalau sudah mengerti kemungkinannya, barangkali akan sanggup menanganinya.
Api nampak demikian besar. Tapi karena hujan tak sempat merekam. Takut HP basah. Setelah puas melihat api yang tak kunjung padam, aku terus berlalu.
Dan tiap-tiap ada persawahan atau tanah luas disitu banyak yang melihat. Walau hari hujan. Sampai di kampung yang berjarak 35 kilo cahaya terang masih nampak. Namun asap tak begitu terlihat karena jauh dan gelap malam. Apalagi masih hujan.
Sampai di rumah sudah sangat larut.