Jungkook pernah merasa dunia tidak berpihak padanya. Bahwa hidup hanya menjadikannya sebagai lelucon dengan menjadikannya anak jalanan. Hidup terlunta–lunta, tanpa sosok Ibu dan Ayah.
Namun layaknya pepatah, ‘hidup ibarat roda yang berputar’, kini Jungkook menemukan bahagianya.
Tuhan mengirimkan malaikat tak bersayap untuk merengkuh tubuh ringkihnya. Berbagi kehangatan dalam dinginnya angin malam.
Mereka yang menjadi pusat dunia Jungkook.
“Kookie!”
Jungkook berbalik kala rungunya terpanggil indah penuh afeksi.
“Yoongi hyung!!”
Jungkook berlari cepat menyambut kedatangan kakak keduanya. Min Yoongi, pria berkulit pucat yang kata orang mirip mayat hidup. Namun bagi Jungkook, Yoongi adalah sosok yang menjelma sebagai Ayah untuknya. Mengisi kekosongan peran yang tak pernah menyentuh hati Jungkook.
“Aku membeli ayam goreng dalam perjalan pulang tadi. Bangunkan Taehyung dan Jimin untuk makan bersama,” ucap Yoongi mengelus rambut Jungkook sebelum berlalu menuju dapur. Menyajikan makanan untuk ketiga adik kecilnya.
“Siap kapten!” jawab Jungkook memberi hormat pada Yoongi lalu berlari menaiki anak tangga.
“Tae! Jimin!”
Yoongi hanya menggeleng dan tertawa pelan dengan sikap tidak sopan Jungkook. Jungkook yang sangat gemar berolahraga terkadang bersikap semaunya kepada kedua kakaknya itu.
Saat Jungkook pergi membangunkan Taehyung dan Jimin, pintu utama kembali berderit. Tak lama kemudian, tiga sosok pria lainnya memasuki rumah.
“Dimana Jungkook?” tanya Seokjin yang masuk menenteng tas dan jubah dokternya di lengan. Di belakangnya ada Namjoon dan Hoseok yang datang sambil bergerak rusuh.
“Membangunkan Jimin dan Taehyung.” Yoongi menjawab datar sambil dengan cekatan menyajikan makanan di atas meja.
“Heem...ayam goreng...” Hoseok langsung berlari hendak mengambil paha ayam favoritnya, namun lebih dahulu dipukul oleh Yoongi.
“Cuci tangan dulu,” peringat Yoongi yang membuat Hoseok cemberut.
“Satu saja, hyung...” Hoseok mencoba merayu Yoongi dengan puppy eyes, namun sama sekali tidak direspon.
“Paha ayamnya hanya ada dua. Hanya cukup untuk Jungkook dan Taehyung. Kau makan yang lain saja,” timpal Yoongi mendorong Hoseok menjauh dari meja makan.
Seokjin sendiri hanya mampu menggeleng dengan sikap protektif Yoongi. Jungkook bisa saja jadi yang termuda, namun posisinya layaknya pangeran mahkota si penerima pusat perhatian.
Mereka tidak terikat dengan darah, namun afeksi berhasil menyatukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih hangat dari keluarga yang sesungguhnya.
Tawa dan air mata, mereka bagi bersama.
Bahagia itu sederhana. Berkumpul di meja makan dengan drama berebut makanan bisa mengundang kesal namun berbumbu tawa.
Melupakan kepenatan dunia kerja, dan melimpahkan afeksi pada pangeran termuda, Jeon Jungkook yang mampu menularkan tawa pada pangeran lainnya.
Kim Seokjin, si pangeran tertua berhati lembut dengan bakatnya yang menghilangkan rasa sakit.
Min Yoongi, pangeran kedua yang sangat ahli menciptakan nada sensasional. Mendengar musiknya, membuat alam bawah sadarmu menjerit dalam kucuran air mata atau terbuai euforia tanpa batas.
Kim Namjoon, pangeran ketiga dengan kecerdasan di luar akal manusia. Berdebat adalah spesialisasinya. Dan menegakkan keadilan adalah tujuan hidupnya. Jaksa tanpa pandang bulu, yang siap menyerang dengan kefasihannya dalam bertutur kata.
Jung Hoseok, pangeran keempat yang mendedikasikan hidupnya untuk menari. Tariannya selalu membuatmu lupa akan segala gundah yang mendera, tariannya adalah improvisasi dari sebuah pengharapan hidup yang menyenangkan.
Park Jimin, pangeran kelima dengan bakat komedi mengguncang tawa. Katanya, dia ingin menyebar tawa dengan berbagai aksi konyol nan gila darinya. Katanya, membuat orang tertawa akan membuat dunia menyesal telah memperlakukan mereka dengan buruk sebelumnya.
Kim Taehyung, pangeran keenam dengan pola pikir tak terduga. Terkadang dia terdengar seperti alien dengan sikap dan perkataan yang tak bisa dijelaskan dengan bahasa manusia pada umumnya.
Lalu terakhir, Jeon Jungkook. Pangeran ketujuh, si anggota termuda yang ditakdirkan untuk mati dalam genangan afeksi yang berlimpah ruah, dari keenam hyung nya.
Mereka, 7 pria yang dideskriminasi oleh dunia, namun berhasil menemukan dunianya sendiri.
Mereka menentang takdir yang menjerumuskan mereka dalam kubangan hidup tak menguntungkan.
Mereka adalah 7 pangeran yang mendeklarasikan bahwa dunia berada dalam genggamannya sendiri.