Sore itu aku yang bernama Laras hati berdiri termenung di pinggiran bukit.
Nampak aku ingin menghempas kan segala kekesalan ku yang selama ini ku pendam.
Yah..aku muak bila aku mengenang nya kembali, dan hingga membawa ku saat ini di sini.
Dimassssss...."Laras berteriak sekencang-kencang nya untuk memuas kan hati nya yang tersakiti ini.
Laras menangis sejadi-jadi nya mengenang masa-masa di mana iya masih bersama Dimas saat itu.
Yah..saat itu iya masih polos dan tidak mengerti apa-apa, serta itu yang pertama bagi Laras dan Dimas juga adalah cinta pertama nya.
Laras mengenang kebersamaan Dimas sewaktu masih duduk di bangku SMA dan dengan segala rayuan nya iya pun terlena dan mau melaku kan apa saja yang di kata kan oleh Dimas.
Hingga waktu itu, hujan petir menggemuruh dan kami pun berteduh di sebuah pondok di tengah sawah.
Di situ tiada apa pun, dan hanya berada kami berdua yang berteduh sehabis berjalan-jalan dan sewaktu pulang di karna kan hujan yang lebat mengakibat kan kami memilih untuk berteduh di situ.
Tampa di sadari, kami berdua pun terlena dan melaku kan hubungan terlarang hingga aku pulang ke rumah dengan rasa gugup.
Tapi aku pun mencoba menyakin kan diri ku karena bujukan Dimas yang mengata kan akan bertanggung jawab serta selepas sekolah iya akan melamar ku.
Tapi..apa yang ku dapat...setelah dari kejadian itu.. Dimas selalu menghindari ku, seakan iya enggan melihat ku dan mau menjauhi ku, hingga aku yang menyadari setelah sebulan dari kejadian itu.
Aku hamil...dan ingin meminta pertanggung jawaban nya.
Di saat yang tepat aku pun mencegat Dimas serta langsung mengata kan nya, tapi apa yang ku terima...bak di sambar petir..Dimas berkata..gugur kan kandungan itu, serta kita akhiri hubungan ini dan berpura-pura tidak saling mengenal.
Aku marah..aku benci..aku muak serta aku pun memukul nya berkali-kali hingga aku puas..tapi Dimas diam tidak membalas ku...hingga Dimas berkata..setelah aku lulus Dimas akan berkuliyah ke luar Negri.
Aku pun menangis sejadi-jadi nya dengan bersoak di lantai dan Dimas berlalu meninggal kan ku sendiri meratapi nasib ku sendiri.
Sampai aku nekat dan mengirim kan sebuah Chat.."baik..aku akan melupa kan mu dan untuk yang terakhir kali mari kita bertemu di sebuah rumah makan yang biasa kami tongkrongi sewaktu masih bersama.
Di situ..kami terdiam sejenak dengan kekakuan..dan di sini lah kita mulai mengingat..pertama kali dia menembak ku..dan setiap kali kita bertemu serta hanya ada satu menu paporit yaitu kopi..kopi ini lah penyatu kita...yang selalu menemani masa-masa sewaktu bersama dan di sini kita akan berpisah pun kopi ini lah yang menemani.
Ku tatap kopi ini dan berucap..selamat tinggal serta raih lah cita-cita mu, bahagiakan keluarga mu dan lupa kan aku, aku tau kamu terpaksa, dan aku mengerti kondisi mu yang saat ini.
Tapi aku juga berharap...sampai kapan pun...walau kita suatu saat di pertemu kan kembali..jangan kau..kata kan kau mengenal ku.
Dalam hati ku menangis, tapi aku muak dengan kehidupan ini yang tidak adil..kenapa.. kenapa..apa aku pun tidak bisa memilih dan bahagia..huhh..aku benar-benar merasa muak.
Dan aku pun menghirup kopi ku dengan kepahitan hati ku serta sesegara mungkin aku hendak pergi.
Tapi sebelum nya Dimas sempat menghalangi ku dan berucap..maaf...!!!
Dengan cepat pula aku menarik tangan ku dan berlari meninggal kan Dimas.
Hingga kami pun semenjak itu selalu saling menghindar dan tak perna bertemu hingga waktu kelulusan..
Dimas pun benar berangkat ke luar Negri serta aku pun memutus kan dengan kandungan ku ini..aku ingin memulai hidup baru di tempat baru serta memutus kan untuk bertransmigasi ke tempat Nenek ku dan membesar kan anak ku ini sendir tampa ada nya Dimas di sisi ku.
Di bukit ini...aku memulai nya..di tempat Nenek ku yang jauh dari orang-orang yang mengenal ku, aku akan berjuang sendiri.
Tamat..terima kasih telah membaca.🤗