Sebuah ruang kelas tiba-tiba menjadi gempar oleh suara heboh para siswanya. Anak-anak yang penasaran berbondong-bondong menuju ke kelas itu, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ketika mereka sampai di sana, hal pertama yang terlihat adalah ada dua orang siswi yang berdiri berhadapan. Salah satu di antara mereka seragamnya basah kuyup.
"Lo gila, hah? Berani lo sama gue sekarang?" bentak anak dengan seragam basah kuyup.
Wajahnya merah padam menahan semua emosi yang siap meledak saat ini. Sementara anak-anak lain di kelas ini merasa tidak menyangka jika seorang Dini bisa seberani itu menghadapi Chika yang terkenal dikalangan anak-anak nakal. Hobi membully dan meremehkan anak-anak miskin di sekolah ini.
Sementara itu, anak bernama Dini berdiri menatap Chika tanpa ada rasa takut sedikit pun. Penyebab seragam Chika basah kuyup adalah karena Dini dengan sengaja mengguyur badan gadis itu dengan air bekas pel.
Bukan tanpa alasan Dini melakukan hal itu, awalnya Chika yang lebih dahulu mengganggunya. Chika menuduhnya mencuri buku catatannya dan tiba-tiba mengamuk dengan merobek catatan milik Dini.
Namun, yang membuat anak-anak lain merasa terkejut adalah Dini berani membalas perbuatan Chika. Memang sebelumnya Dini selalu menerima semua caci maki dan perundungan atas dirinya, tetapi berbeda dengan hari ini.
Tidak ada yang berubah dengan penampilan Dini, gadis itu masih dengan penampilan cupu. Kacamata bulat khas Dini sebagai identitasnya.
Dini menatap malas pada Chika yang masih membentak serta mengeluarkan kata-kata kasar berupa umpatan untuknya. Merasa lelah dengan ucapan tidak penting Chika, Dini memutuskan untuk pergi dari sana.
"Heh, dungu! Gue belum selesai ngomong! Makin lama lo makin ngelunjak, ya? Cuma anak orang miskin aja belagu!"
Dini benar-benar menulikan pendengarannya saat ini. Dia memilih membolos di jam pelajaran selanjutnya dari pada harus melihat wajah jelek Chika.
Tujuan Dini adalah atap sekolah, dia berencana untuk tidur di sana. Menghabiskan sisa jam pelajaran hingga bel pulang berbunyi. Memang seharusnya saat ini sudah memasuki jam pelajaran terakhir, tetapi sepertinya guru yang mengajar terlambat datang. Ketika hendak menaiki anak tangga menuju atap, seseorang menghentikannya.
"Dini! Mau ke mana? Sekarang masih jam pelajaran 'kan?" tanya anak itu.
Namun, Dini mengabaikannya dan melanjutkan langkahnya. Lengan Dini di tahan oleh anak itu, membuatnya mau tak mau kembali menghentikan langkah kakinya.
"Lo bukan Dini yang gue kenal," ucap anak itu serius menatap wajah Dini.
Sementara Dini hanya tersenyum miring dan menepis tangan anak itu yang masih menahan lengannya.
Dini berjalan menuju atap, sementara anak tadi masih menatap pinggung Dini yang kian menjauh. Dini yang ditemuinya tadi seperti bukan sosok yang dikenalnya selama ini. Rasa penasaran muncul dalam benak anak itu. Dia berencana mengikuti ke mana Dini pergi. Namun, tiba-tiba teringat jika ada ulangan hari ini. Alhasil, anak itu mengurungkan niatnya untuk mengikuti Dini.
Di lain tempat, Dini sedang menikmati tidur siangnya. Angin sepoi-sepoi meniup anak rambutnya yang terlepas dari ikatan. Matanya terpejam, wajahnya terlihat sangat damai. Beberapa saat kemudian, terdengar suara bel. Spontan mata jernih itu terbuka dan dia bergegas turun dari atap.
Setelah mengambil tasnya, Dini segera pulang. Mengabaikan teriakan melengking milik Chika yang masih saja terus mengejarnya. Entah apa mau perempuan itu sebenarnya. Apakah Chika adalah salah satu fansnya? Entahlah, lagipula untuk apa dia memikirkannya.
Dini berjalan menyusuri gang-gang sempit untuk sampai di rumahnya. Memang rumahnya agak terpencil, tetapi jarak dari sekolah tidak begitu jauh. Benar yang dikatakan Chika tadi, Dini merupakan anak dari orang tua yang miskin.
Kedua orang tu mereka harus bekerja membanting tulang untuk membiayai kebutuhan mereka. Orang tua Dini juga jarang pulang ke rumah karena pekerjaan mereka.
Dini menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah. Di teras rumah duduk seorang gadis seumurannya. Dahi Dini mengernyit melihat gadis itu. Sementara gadis yang sedang diperhatikan Dini tersadar. Ada raut khawatir terlihat jelas dari wajah gadis itu saat menatap Dini. Lalu dia berjalan dengan susah payah menghampiri Dini.
"Ckck, kenapa lo di luar sih? Udah gue bilang diem aja di rumah."
"Dini!" panggilan dari seseorang, membuat kedua gadis itu serempak menoleh. Ekspresi keduanya terlihat berbeda.
"Kak Sam?" Gadis yang berdiri di depan Dini terlihat sangat terkejut mendapati seorang anak bernama Sam berada di sini.
"Din, dia siapa? Kenapa wajah kalian sama?" tanya Sam terlihat kebingungan.
Sam memperhatikan kedua gadis itu secara bergantian. Dini yang memakai seragam dan gadis satunya dengan pakaian lusuh. Ada beberapa luka di tangan serta kaki. Bahkan jalannya harus dibantu dengan tongkat. Namun, melihat ekspresi keduanya yang berbeda membuat Sam segera mengenali siapa Dini yang selama ini dikenalnya.
"Din, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Sam.
"Dia di bully, gue gantiin dia masuk sekolah hari ini."
"Dia siapa?" tanya Sam.
"Dia Dina, kembaran Dini," jawab Dini meringis dengan pandangan menunduk. "Benar kata Dina, tadi pagi dia gantiin Dini ke sekolah," jelas Dini.
🍀🍀🍀