Deburan ombak di tepi pantai dan juga senja, menjadi saksi bisu perpisahanku dengan dia.
.
"Aku ingin putus."
Kalimat itu begitu mengiang di telingaku. "Baik, ayo kita putus." ucapku sembari berbalik, melangkah meninggalkannya.
"Kenapa, Nay? Kenapa kamu berubah?"
Pertanyaan itu berhasil menghentikan langkahku.
"Apa aku melakukan kesalahan? Kenapa sikapmu berubah?" tanya nya sendu.
Aku pun membalikkan tubuhku. Menatap wajah sendunya yang telah lama memikatku. "Bukankah kamu ingin putus? Aku hanya memenuhi permintaanmu. Ayo kita putus."
Lagi-lagi langkahku terhenti, saat kedua tangan itu memelukku dari belakang.
"Tidak, Nay! Kutarik semua ucapanku tadi! Aku tidak mau putus denganmu.. Kumohon, Nay.."
Aku terdiam. Membiarkan dia memelukku erat. "Tidak. Kita tetap akan putus."
"Tapi kenapa, Nay? Apa kamu.. memiliki perasaan dengan orang lain?" tanya nya ragu-ragu.
Aku tak menjawab pertanyaan nya itu. Hatiku tentu terasa sakit mendengar pertanyaan itu.
"Aku memiliki permintaan untukmu.. Apa kamu bisa mengabulkannya?"
"Tentu! Aku pasti akan menuruti semua permintaanmu..!" balasnya mulai berharap.
Aku melepaskan kedua tangan yang sedari tadi memelukku erat. "Lupakan aku. Lupakan semua tentangku. Jangan pernah menggangguku dan jangan temui aku lagi.."
Aku melangkahkan kakiku, meninggalkan dia yang masih mencoba untuk memahami permintaanku tadi.
"Tapi kenapa, Nay?! Apa kamu sangat membenciku??"
Aku terus melangkahkan kakiku. Tak mendengarkan pertanyaannya.
"Setidaknya jelaskan padaku alasan kamu ingin putus!?"
"JAWAB AKU, NAYLA! KENAPA KAMU SANGAT EGOIS!! Kamu bahkan tidak memikirkan perasaanku sama sekali!"
Deg!
Amarahnya sungguh membuat jantungku berdetak kencang. Selama ini aku tak pernah melihat dia semarah ini. Tubuhku seketika gemetar, begitu pula kakiku.
"JAWAB NAYLA!!!"
"KARENA AKU TIDAK MENYUKAIMU!! AKU MEMBENCIMU! SANGAT MEMBENCIMUU!! JADI JANGAN GANGGU AKU LAGI!!!"
Tak ada suara lagi dari aku maupun dia. Hanya suara ombak yang terdengar.
"Baik, jika memang itu permintaanmu.. Aku tidak akan mengganggumu, aku tidak akan menemuimu, dan aku.. akan berusaha untuk melupakanmu.. Terimakasih untuk semua kenangan yang pernah kamu berikan padaku.." tuturnya getir. Ia pun melangkah pergi, meninggalkanku yang masih berdiri menatap kepergiannya.
Bruukk!
Seketika aku terduduk. Air mata tak mampu kubendung lagi.
"Maaf.. Maafkan keegoisanku.. Aku.. tidak pernah membencimu,, ku harap kamu juga begitu. Jujur, aku masih ingin bersamamu, namun takdir tak mengizinkan kita untuk bersatu.. Aku tak ingin menentang takdir, juga tak ingin menyalahkan Tuhan atas hidupku yang akan segera berakhir.. Aku tidak ingin melihatmu sedih ketika aku pergi nanti, maka dari itu aku melupakan kisah cinta ini. Bagiku, kamu adalah satu-satunya cinta dalam hidupku.. Cinta pertama dan juga terakhir dalam hidupku.. Ku harap, di sisa umurku, aku bisa melihatmu kembali bahagia.. Itulah permintaan terakhirku.."
.
.
**The End**