Semilir angin berhembus di pagi yang masih buta. Sinar mentari pun masih mengintip manja di celah dedaunan padi yang sudah menguning. Memberi bayangan panjang pada langkah kaki yang berpijak pada tanah sawah yang basah. Sisa hujan kemaren. Kai masih pada wajah bangun tidurnya. Sedikit menguap mengusir kantuk yang masih hinggap. Namun langkahnya pasti menuju ke pematang sawah.
Mau pagi, ayam berkokok sudah terdengar bersahutan. Kai tersentak. Kantuknya lenyap merayap. Buru-buru, kakinya dipaksa terseok memasuki pematang. Malang, matanya tak jeli melihat ada kubangan. Hingga byurrr…. Sebelah kaki Kai terperosok masuk.
Aduh… Kai mengaduh aduh. Sayang tak ada mata yang menemukannya di sana. Kai sempat menjelajah padi yang menguning di sekeliling. Tak ada siapa-siapa. Hanya dirinya dan burung yang mulai berterbangan di udara. Percuma bersuara. Karena tikus sawah pun mungkin hanya mencibirnya dari balik rumput basah. Kai menelan ludah. Lalu berusaha bangkit sambil menarik sebelah kakinya yang tadi terbenam lumpur basah. Satu kali. Tak berhasil. Kakinya masuk terlalu dalam. Matahari sudah bergerak ke ujung pohon. Membuat silau sebelah mata Kai yang menyipit perih. Arggh, susahnya. Batinnya dengan kesal. Baru di percobaan ketiga, kakinya berhasil terangkat. Lega, namun tetap saja kesal. Kai melirik jangkrik yang berlari sembunyi dibalik batu. Lalu melaju sambil mengumpat sebal.