Melakukan perjalanan seorang diri adalah sesuatu hal yang sangat kusukai. Aku dapat bebas pergi kemana pun tanpa memikirkan apapun. Aku selalu punya me time di akhir pekan dan pergi tanpa mengajak siapa pun.
Di akhir pekan ini aku memutuskan untuk melakukan perjalanan ke luar kota. Walau hanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam, baru kali ini aku melakukan perjalanan ke luar kota seorang diri.
Aku sangat menikmati liburan kali ini, mendatangi berbagai destinasi wisata dan menginap di sebuah hotel dengan pemandangan yang indah. Semua kulakukan sendiri.
Hingga tak terasa waktu liburanku harus berakhir. Kini aku harus kembali ke rumah dan besok sudah harus beraktivitas seperti biasa. Kembali bekerja dan kembali dipenuhi tekanan oleh atasan.
Karena keasyikan bermain di pantai, akhirnya aku sedikit terlambat sampai ke terminal. Beruntung masih ada bus yang bisa membawaku kembali. Aku masih menunggu bus itu datang di terminal seorang diri. Kuperhatikan sekitar, suasana terminal sudah sangat sepi dan beberapa PO bus sudah tutup.
Tidak lama, ada sebuah bus yang datang. Aku berpikir mungkin itu bus yang akan kunaiki. Sebelumnya aku juga memeriksa tiket bus yang kupegang. Setelah memastikan bahwa benar bus itu yang akan kunaiki, aku segera masuk ke dalam bus.
Tubuhku sudah sangat lelah. Beruntung di dalam bus hanya ada beberapa orang saja. Suasana di dalam sangat tenang saat ini. Sepertinya dalam perjalanan nanti aku bisa tidur nyenyak sembari memulihkan tenaga yang seharian ini terbuang.
Bus mulai berjalan meninggalkan terminal. Aku pun mulai memposisikan diri untuk tidur. Bus ini berjalan mulus ke jalan raya yang malam ini sudah sedikit lengang. Mataku mulai berat dan kepala kusenderkan ke jendela.
Rintik hujan mulai mengguyur. Entah berapa lama aku tertidur. Aku menguap begitu membuka mata. Melihat sekeliling, bus masih hening juga gelap. Lalu, kulihat ke luar jendela agar tahu sudah sampai mana perjalananku ini.
Namun, kernyitan di dahiku muncul. Aku tidak mengenal tempat ini. Kanan kiri hanya ada pepohonan besar dan sama sekali tidak ada penerangan jalan.
Juga tidak ada kendaraan lain yang lewat. Hawa dingin tiba-tiba menusuk tubuhku. Walau sudah memakai jaket tebal, dingin itu masih dapat menembus kulit. Seketika bulu kudukku meremang.
Aku berinisiatif untuk bertanya pada penumpang lain. Ketika aku berdiri hendak bertanya, aku dibuat terkejut. Kemana semua orang pergi? Begitu pikirku saat ini. Apakah mereka semua sudah turun? Kuurungkan niatku untuk bertanya, aku kembali duduk di kursiku.
Beberapa saat kemudian, aku melihat cahaya terang dari luar. Di luar sana sangat ramai, padahal tadi yang kulalui hanyalah hutan gelap yang entah kapan berakhirnya.
Namun, kini tiba-tiba ada pasar dengan orang-orang yang seperti sedang bertransaksi. Aku melihat jam di pergelangan tangan kiriku. Jarum jam menunjukkan pukul duabelas malam, artinya tepat tengah malam saat ini.
Apakah memang di daerah sini tengah malam begini pasar sudah buka? Namun, yang membuatku bingung adalah orang-orang di sana berpakaian layaknya orang zaman dahulu. Zaman sebelum kemerdekaan. Para lelakinya hanya memakai celana jarang yang memakai pakaian lengkap. Sementara para wanita memakai semacam kebaya dan pakaian mereka terlihat sudah usang.
Aku benar-benar merasa ketakutan saat ini. Firasatku mengatakan ada hal buruk terjadi. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana caraku keluar dari bus yang terus berjalan ini? Dan apakah sebenarnya ini bus yang tepat? Bus yang harusnya kunaiki dan membawaku pulang ke rumah.
Sepertinya bus ini berjalan makin menjauh dari tempat tujuanku. Setelah melihat pasar tadi, pemandangan yang tersaji kembali ke hutan yang gelap. Aku ingin turun di sini, tapi juga takut tersesat. Di saat seperti ini ponselku juga tidak dapat digunakan. Tidak ada sinyal di ponselku.
Kuberanikan diri untuk bertanya pada sang sopir. Tanganku bergetar saat menyentuh bahunya. Sopir itu menoleh ke arahku dengan pandangan penuh tanya. Namun, betapa terkejutnya aku saat melihat wajah sopir itu yang hancur dan dipenuhi darah.
Spontan aku berteriak dan jatuh terduduk. Aku berusaha menjauh dari sopir itu. Tubuhku sudah gemetar ketakutan.
Ting!
Sebuah notifikasi muncul di ponsel yang sejak tadi tidak ada sinyal. Aku membaca sebuah chat dari seseorang. Wajahku makin pucat saat membaca pesan itu.
"Nggak pernah ada bus di PO itu. Lagipula bus terakhir ada jam 5 sore."
Kalau begitu, bus apa yang kunaiki sekarang?
🚌🚌🚌