Wanita malang itu namanya Inne, sedang pria berkulit putih di depannya adalah Hyden.
Mereka adalah sepasang kekasih, baru pertama kali bertemu setelah empat tahun menjalin Long Distance Relationship.
Hyden tinggal di London, sedangkan Inne teman baik ku ini asal Indonesia.
Pada awal perkenalan, mereka tidak sama sekali mempermasalahkan mengenai agama. Namun, karena kedua orang tua Inne adalah seorang Muslim, maka wajib baginya memiliki calon pendamping yang se-iman.
Hingga akhirnya mereka bertengkar, Hyden yang beragama Kristen, tidak percaya sedikit pun ucapan kekasihnya.
"Ketika kita lahir, kita tidak memiliki agama. Lingkunganlah yang membuat kita beragama. Dan lingkunganlah membuat ku percaya, jika Tuhan adalah sang Kudus." Ujar Hyden tetap pada pendiriannya.
"Lalu apa bedanya jika seperti itu? Kamu tinggal pindah agama, bersama ku atau aku saja yang ikut bersama mu?" Sahut Inne.
Ini adalah pertengkaran ke lima mereka, sebelumnya Inne masih memaklumi, jika Hyden belum terlalu mengerti. Tapi ini sudah yang ke lima kali.
"Cukup Inne, sekarang katakan apa mau mu?" Putus Hyden. Bola matanya memerah menahan kesal.
"Aku tidak bisa bersama mu, jika kamu tidak se-iman dengan ku, Hyden." Tutur Inne perlahan. Air matanya jatuh, seiring dengan tutur katanya.
"Inne dengarkan aku." Hyden menangkub kedua belah pipinya. Matanya menatap tepat ke dalam ke dua bola matanya. "Dalam agamaku, aku boleh mencintaimu tapi aku tidak boleh mengambil kamu dari Tuhan mu. Sampai sini kamu faham?"
Inne menggelengkan kepalanya, air matanya semakin deras mengalir.
"Tidak.. aku tidak ingin seperti ini.." Keluh Inne.
"Dalam agamamu, kamu tidak bisa menikah dengan pria yang tidak se-iman denganmu. Begitu juga denganku, aku tidak akan bisa membawa mu bersama ku." Ucap Hyden. Matanya turut berkaca-kaca.
"Karena aku bukan hambanya.."
Hyden tersenyum teduh menatap wajah kekasihnya, meski air mata terus keluar hingga terlihat mengajak sungai, diwajah rupawannya.
"Mungkin setelah ini kita akan kembali menjadi orang asing. Tapi kamu cukup tau jika aku, sangat mencintaimu." Ucap Hyden, memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang sulit ini.
"Tidak, aku ingin bersamamu.." Ujar Inne. Wanita memang di berkati oleh hati yang rapuh, juga perasaan cinta yang tulus. Hal itu membuat mereka sulit untuk melepaskan.
"Tidak Inne. Dengarkan aku. Jika yang menjadi saingan ku adalah pria lain, itu tak masalah. Tapi kita? Sainganku adalah Tuhan mu, agama ku melarang ku untuk merebutmu dari Tuhan mu. Jangan menjadi bodoh karena cinta, yang selalu ada untuk mu adalah Tuhanmu. Bukan aku." Tandas Hyden. Suaranya mengalun lembut, dan karena itu pula membuat Inne semakin terpuruk.
"Jaga diri baik-baik." Kata terakhir yang Inne dengar, sebelum dengan langkah pasti Hyden berlalu.
Sebuah kisah yang mengajarkan kita, jika jatuh cinta sangat indah. Meski dengan akhir menyedihkan sekalipun.
Kisah cinta antara dua orang, yang hanya bisa se-amin namun tidak se-iman.
...🍁🍁🍁...
Tamat